Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam
“Allahumma shoyyiban nafi’an”
(Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat)
Doa tersebut dipanjatkan agar hujan yang turun membawa manfaat dan keberkahan. Namun bagaimana kalau hujan justru mengakibatkan banjir, longsor, pohon tumbang dan rumah ambruk? Setiap kali hujan lebat alias cuaca ekstrem musibah pun melanda astaghfirullah!
Sebagaimana yang dikabarkan beberapa waktu lalu di Bontang ketika hujan terjadi mengakibatkan banjir sebagian wilayah, tanah longsor hingga tumbangnya pepohonan serta rumah ambruk. Meski sekarang sudah tak lagi banjir, namun tak dapat dihindari ketika hujan maka banjir jadi ancaman. Tak hanya itu terbaru, angin kencang disertai hujan membuat atap rumah dan fasilitas umum rusak khususnya di kawasan pesisir Bontang.
Tak hanya Bontang, ancaman banjir dan sederet musibah yang menyertainya juga terjadi di beberapa wilayah Kaltim. Langganan banjir seperti Kota Samarinda, Tenggarong, Balikpapan, Sangatta, Kutai Barat dan Mahulu hampir semua wilayah Kaltim tak luput dari banjir ketika hujan melanda. Jika demikian seharusnya dengan semakin meluasnya wilayah banjir membuat kita instrospeksi salahkah hujan atau manusia?
Jangan Salahkan Hujan
Hujan dengan sederet ancaman seakan sudah biasa terjadi. Padahal musibah banjir ini jangan dianggap biasa atau menolerir keadaan. Ekosistem alam terganggu hujan yang membawa berkah berubah menjadi musibah.
Penerapan sistem kapitalisme berbuah kerusakan lingkungan. Eksploitasi tambang, kebakaran atau gundulnya hutan menyebabkan air hujan tak terserap, diperparah kondisi pasang surut air sungai/ laut dan saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan air.
Curah hujan tinggi selalu jadi kambing hitam ancaman banjir dan longsor. Padahal konversi atau berkurangnya tutupan hutan akibat pembukaan lahan seperti sawit, tambang, pemukiman, dan deforestasi tak dapat dipungkiri. Tidak akan terjadi banjir dan longsor jika benar tata kelola alam.
Keserakahan dengan eksploitasi SDA gila-gilaan membuat rusaknya lingkungan, seperti banjir dan longsor. Banjir semakin meluas dan tinggi, longsor pun berulang kali. Demikianlah akibat tata kelola alam kapitalistik. Tentu kebebasan yang dimiliki oleh para kapital tersebut didukung oleh ijin dan aturan yang dibuat penguasa.
Sungguh miris hidup dalam sistem kapitalis sekuler, banjir dan longsor jadi langganan bahkan menelan korban. Tentunya untuk mengakhirinya harus dengan tata kelola alam yang membawa keberkahan.
Hujan Membawa Keberkahan
Allah Swt berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Ruum: 41)
Ulah manusialah kerusakan lingkungan sehingga ketika hujan datang alam tidak mampu lagi menampungnya. Islam melarang kepemilikan SDAE dikuasai oleh individu, swasta, atau asing. SDAE dalam Islam adalah kepemilikan umum dan dikuasai oleh negara untuk kesejahteraan umat diserahkan dalam bentuk langsung atau pun tidak langsung. Misalnya gratisnya biaya pendidikan, kesehatan, dan terjangkaunya harga kebutuhan pokok.
Pengelolaan SDAE dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari penerapan Islam secara kaffah. Dengan dikuasainya SDAE oleh negara dalam sistem Islam dan pemimpin yang bertakwa maka akan meminimalisir kerusakan lingkungan. Masyarakat akan sejahtera dan alam berbuah keberkahan.
Firman Allah Swt:
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (TQS. Al-A’raf: 96)
Wallahu’alam




