SUMEDANG — Menteri Kebudayaan Fadli Zon terus mendorong penguatan pelestarian dan pengembangan warisan budaya Indonesia melalui kolaborasi aktif dengan pihak swasta, korporasi, hingga filantropis individu. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab tantangan keterbatasan peran pemerintah dalam mengelola kekayaan budaya nasional yang sangat besar dan beragam.
“Dalam upaya revitalisasi budaya, kami membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta, korporasi, dan individu melalui Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya untuk mendukung pelestarian budaya,” ujar Fadli Zon saat melakukan kunjungan kerja di Sumedang, Sabtu.
Ia menjelaskan, model kolaborasi tersebut bukan sekadar wacana, melainkan telah dipraktikkan sebelumnya. Salah satu contoh konkret adalah revitalisasi Panggung Sanggabuwana di Keraton Surakarta, Jawa Tengah, yang melibatkan dukungan pihak nonpemerintah.
Menurut Fadli Zon, di sejumlah negara maju, keterlibatan sektor swasta justru menjadi tulang punggung dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya lokal.
“Di beberapa negara, keterlibatan pihak swasta bahkan menjadi kontributor utama dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya,” ujarnya.
Ia menegaskan, kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting mengingat luasnya spektrum kekayaan budaya Indonesia. Mulai dari tradisi lisan, manuskrip kuno, ritus, permainan dan olahraga tradisional, adat istiadat, hingga tradisi keraton, kerajaan, dan kesultanan yang telah tumbuh jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.
“Pemerintah memiliki keterbatasan. Karena itu, peran filantropis menjadi sangat penting. Ekspresi budaya kita membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Bahasa saja kita memiliki sekitar 718 bahasa, dan suku bangsa lebih dari 1.300,” jelasnya.
Fadli Zon juga menyoroti panjangnya jejak peradaban di Nusantara yang menunjukkan Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Ia menyebut berbagai temuan arkeologis sebagai bukti kuat kekayaan sejarah bangsa.
“Temuan Homo erectus di Pulau Jawa berusia hingga 1,82 juta tahun. Homo sapiens berusia puluhan ribu tahun. Di Sulawesi, lukisan gua berusia sekitar 51.200 tahun. Ini menunjukkan peradaban kita memiliki cerita yang sangat panjang,” paparnya.
Ia menilai, potensi budaya sebesar itu merupakan sumber daya strategis yang dapat menjadi kekuatan besar apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan. Fadli Zon mengungkapkan, minat masyarakat terhadap museum dan cagar budaya menunjukkan tren positif yang signifikan.
“Kita punya indeks budaya yang kuat, tinggal bagaimana mengelolanya. Pada 2025, jumlah pengunjung museum dan cagar budaya mencapai lebih dari 4 juta orang, meningkat sekitar 400 persen dibandingkan periode sebelumnya,” ungkapnya.
Menteri Kebudayaan berharap, kolaborasi yang semakin masif antara pemerintah, swasta, dan masyarakat akan membuat pelestarian budaya Indonesia berjalan lebih berkelanjutan. Selain menjaga identitas bangsa, langkah ini juga diyakini mampu memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke panggung global.
“Dengan kerja bersama, warisan budaya kita tidak hanya lestari, tetapi juga semakin dikenal dan dihargai, baik di dalam negeri maupun di dunia internasional,” pungkasnya. (MK)
Editor: Agus S




