SAMARINDA — Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur bersinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kalimantan Timur memfasilitasi operasi celah bibir dan langit-langit (sumbing) bagi anak-anak dari keluarga dhuafa. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup, kepercayaan diri, serta masa depan anak-anak di Benua Etam.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar anak-anak dengan kelainan bawaan tersebut memperoleh layanan kesehatan yang layak dan berkualitas.
“Melalui kerja sama lintas sektor seperti ini, anak-anak yang mengalami celah bibir dan langit-langit dapat memperoleh layanan kesehatan yang layak, aman, dan berkualitas, sehingga kepercayaan diri mereka dapat pulih dan masa depan tetap terjaga,” ujar Jaya di Samarinda, Jumat.
Program kemanusiaan bertajuk “Satu Senyuman, Sejuta Harapan Anak Kaltim” ini terlaksana berkat kolaborasi dengan RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan yang berada di bawah naungan Dinas Kesehatan Kaltim. Jaya menilai, intervensi medis tersebut tidak semata perbaikan fisik, melainkan upaya krusial memperbaiki kondisi psikososial serta mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Menurutnya, bakti sosial ini efektif membantu pemerintah daerah mendongkrak derajat kesehatan masyarakat, khususnya keluarga prasejahtera yang selama ini terkendala akses terhadap layanan kesehatan spesialis.
Acara ini dibuka secara resmi oleh HM Syirajudin, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kaltim, yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Pelaksanaan tahun ini menjadi momentum istimewa karena merupakan tahun keempat program berjalan dan untuk pertama kalinya digelar di Kota Balikpapan. Puluhan anak dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur difasilitasi mengikuti rangkaian pemeriksaan medis ketat sebelum menjalani tindakan operasi oleh tim dokter profesional.
Selain tindakan kuratif, Dinas Kesehatan Kaltim juga terus menggencarkan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan ibu dan anak, guna menekan risiko kelainan bawaan sejak dini.
Ketua Baznas Kalimantan Timur, Ahmad Nabhan, menegaskan seluruh biaya ditanggung penuh oleh Baznas agar tidak ada kendala ekonomi bagi keluarga pasien.
“Seluruh biaya kami tanggung, mulai dari tindakan operasi, transportasi pulang-pergi pasien dan maksimal dua pendamping, hingga akomodasi penginapan selama masa perawatan,” ujar Nabhan.
Tak hanya itu, Baznas Kaltim juga memberikan uang saku sebesar Rp1 juta untuk setiap anak. Orang tua pasien tidak perlu memikirkan biaya makan selama mendampingi anak menjalani perawatan di rumah sakit.
Program ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi psikologis anak-anak penderita sumbing yang kerap menjadi korban perundungan, bahkan hingga memutuskan berhenti sekolah. Melalui operasi gratis ini, pemerintah daerah bersama Baznas berharap anak-anak tersebut dapat kembali tersenyum, tumbuh percaya diri, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. (MK)
Editor: Agus S




