Baru hari ini saya sempat menulis tentang momen ini. Bukan karena lupa, tapi memang satu bulan terakhir aktivitas cukup padat. Dari urusan pekerjaan, agenda luar kota, sampai rutinitas harian yang nyaris sambung terus dari pagi hingga malam.
Padahal, ada satu hari yang sebenarnya sangat membekas tahun ini. Sabtu, 18 April 2026. Hari ketika saya kembali masuk ke GOR 27 September Universitas Mulawarman (Unmul) setelah 24 tahun.
Kalau tahun 2002 saya datang sebagai wisudawan Fakultas Kehutanan Unmul, maka setelah 24 tahun, saya datang sebagai orang tua.
Putri pertama saya, Alfiani Hanifah Salsabila, resmi menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul, Jurusan Ilmu Komputer. Empat tahun menjalani perkuliahan, akhirnya hari wisuda itu tiba juga. Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.
Hari itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Pukul 03.00 WITA saya sudah bangun. Subuh-subuh saya mengantar istri dan anak lebih dulu untuk make up di salah satu salon di Jalan DI Panjaitan Samarinda. Setelah itu lanjut sesi foto di Taman Cerdas Samarinda. Putri saya memang sudah mengatur janji dengan fotografer beberapa hari sebelumnya.
Saya tahu momen seperti ini tentu tidak terulang lagi dengan cara yang sama. Apalagi ini wisuda anak pertama, rasanya memang berbeda.
Pagi itu suasana di Taman Cerdas juga sudah ramai. Beberapa wisudawan lain datang lebih dulu untuk foto sebelum berangkat ke kampus. Ada yang masih merapikan toga, ada yang sibuk memegang buket bunga, ada yang tertawa sambil mengatur pose foto. Orang tua juga terlihat sibuk memastikan semuanya sempurna.
Sekitar satu jam foto-foto, kami bergerak menuju GOR 27 September. Jaraknya sebenarnya dekat, tidak sampai lima menit. Tapi arus kendaraan sudah mulai padat. Mobil perlahan merayap menuju area kampus.
Saya sempat berpikir pasti akan sulit parkir. Untungnya, kami masih dapat parkir di area seberang GOR.
Begitu turun dari mobil, suasana langsung terasa berbeda. Ribuan orang memadati kawasan sekitar gedung. Orang tua, keluarga, kerabat, mahasiswa, semua bercampur menjadi satu. Suasana wisuda sekarang terasa jauh lebih ramai dibanding masa saya dulu.
Di sepanjang jalan menuju gedung berdiri banyak lapak suvenir. Buket bunga warna-warni, boneka wisuda, karangan uang, sampai jasa cetak foto instan. Fotografer juga membuka lapak sendiri-sendiri. Ada yang membawa kamera besar lengkap dengan lampu, ada yang menawarkan paket foto keluarga langsung jadi.
Saya sempat memperhatikan suasana di luar gedung. Wisuda ternyata juga membawa berkah bagi banyak orang. Pedagang suvenir ramai, fotografer sibuk melayani antrean foto, sampai penjual makanan ikut dipadati pengunjung.
Begitu masuk ke dalam GOR, suasananya langsung berbeda. Lebih tenang dan formal. Tribun hampir penuh. Para wisudawan duduk rapi mengenakan toga hitam, sementara keluarga mereka sibuk mencari posisi terbaik untuk melihat prosesi wisuda.
Dari atas tribun, pemandangan itu cukup menarik. Ribuan mahasiswa duduk dalam satu arena besar. Sebagian terlihat serius, sebagian lagi masih sibuk selfie sebelum prosesi dimulai.
Tidak lama kemudian, Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., bersama jajaran senat memasuki ruangan. Semua hadirin berdiri.

Melihat prosesi itu, saya jadi teringat saat masih duduk sebagai wisudawan dulu.
Dulu saya berdiri di tempat yang sama sebagai wisudawan. Tapi kali ini, saya berdiri sebagai ayah yang menyaksikan putri saya dipanggil menuju panggung.
Unmul pada wisuda Gelombang I Tahun 2026 ini mengukuhkan sebanyak 1.617 lulusan. Terdiri dari 12 Diploma, 1.323 Sarjana, 139 Profesi, 136 Magister, dan 7 Doktor. Sebanyak 244 orang lulus dengan predikat cum laude dan 63 persen wisudawan didominasi perempuan.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa capaian para wisudawan bukan sekadar angka. “Angka-angka prestasi ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dari kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah yang telah mengiringi perjalanan para wisudawan,” ujar Prof. Abdunnur.
Ia juga memaparkan capaian Unmul beberapa tahun terakhir. Mulai dari ribuan publikasi ilmiah nasional dan internasional, penghargaan Gold Winner SINTA dari Diktisaintek selama dua tahun berturut-turut, hingga peningkatan prestasi mahasiswa di level nasional dan internasional.
Tahun 2025 saja, prestasi mahasiswa tingkat nasional mencapai 596 orang, naik jauh dibanding 2022 yang hanya 96 orang. Sementara prestasi internasional meningkat dari hanya satu orang menjadi 247 orang.
Sebagai alumni, tentu saya bangga mendengarnya.
Tapi di tengah suasana khidmat itu, ada satu hal yang menurut saya masih menjadi pekerjaan rumah lama: panasnya gedung ini.
Setelah 24 tahun, persoalan itu ternyata masih terasa sama. Memang ada kipas di beberapa titik. AC juga terlihat dipasang, terutama di area VIP bawah. Tapi untuk ukuran gedung sebesar ini dengan ribuan orang di dalamnya, udara tetap terasa panas dan pengap.
Beberapa orang tua mulai terlihat gelisah. Ada yang berdiri mencari angin, ada yang mengipas-ngipas menggunakan kertas undangan.
Saya dan istri sempat berencana keluar lebih awal karena ada agenda lain. Tapi ternyata tidak bisa. Seluruh pintu keluar terkunci. Petugas menyampaikan kuncinya dipegang panitia. Praktis tidak ada yang bisa keluar sementara waktu.
Di sebelah saya, seorang orang tua berkomentar pelan sambil tersenyum, “Kalau ruangannya dingin mungkin betah lama-lama.”
Saya tidak sedang membandingkan Unmul sekarang dengan masa lalu secara berlebihan. Justru banyak kemajuan yang terlihat. Prestasi naik, jumlah lulusan meningkat, reputasi kampus juga semakin baik.
Namun pengalaman para orang tua dan keluarga di dalam gedung juga penting diperhatikan.
Karena hari wisuda bukan hanya milik kampus atau mahasiswa. Di dalam gedung itu ada banyak orang tua yang ikut berjuang dari awal. Ada yang bertahun-tahun membiayai kuliah anaknya, ada juga keluarga yang datang dari jauh hanya untuk menyaksikan anak mereka dipanggil ke depan.

Dan hari itu, saya merasakan semuanya.
Saya melihat wajah anak saya saat menerima map kelulusannya. Saya melihat senyum lega setelah empat tahun perjuangan. Dan di momen itu, rasa panas, lelah, dan padatnya suasana tiba-tiba terasa tidak terlalu penting lagi.
Karena sebagai orang tua, ada kebahagiaan tersendiri saat melihat anak menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Di GOR 27 September itu, saya tidak hanya melihat ribuan wisudawan. Saya melihat banyak perjuangan yang akhirnya terbayar di hari itu.
Dan setelah acara selesai, mereka akan kembali menjalani kehidupan masing-masing, dengan cerita dan tantangan yang tentu sudah berbeda.
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




