TENGGARONG – Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad Yani, mendesak dilakukan investigasi menyeluruh terkait dugaan kelalaian pelayanan kesehatan yang menyebabkan meninggalnya balita berusia enam bulan di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan.
Kasus ini mencuat setelah keluarga korban melalui kuasa hukum menyoroti kesiapan fasilitas medis di Puskesmas Batuah. Dugaan yang mengemuka mencakup ketersediaan oksigen, kesiapan ambulans, hingga respons penanganan darurat yang dinilai tidak optimal saat kondisi bayi memburuk.
Menanggapi hal tersebut, Ahmad Yani menegaskan pentingnya audit terhadap standar alat medis dan sistem pelayanan yang diterapkan.
“Ya, itu pasti peralatannya yang medisnya itu dan seterusnya itu banyak kesalahan dan keliruan, sehingga perlu diinvestigasi sebenarnya,” ujarnya.
Ia memastikan DPRD Kukar akan turun langsung melakukan penelusuran.
“Juga nanti kami DPRD juga lakukan investigasi terkait dengan kekeliruan atau kesalahan atau penerapan sistem yang ada di sana,” tegasnya.
Menurutnya, jika benar ditemukan ketidaksesuaian standar medis maupun kelalaian prosedur, maka hal tersebut menjadi persoalan serius yang tidak boleh terulang. Ia menekankan puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama wajib memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk kelengkapan alat medis untuk penanganan kasus gawat darurat pada bayi dan anak.
“Oleh karena itu tidak boleh lagi terjadi di puskesmas atau di tempat-tempat yang lain,” tandasnya.
Berdasarkan keterangan keluarga, bayi tersebut mulai sakit pada Sabtu malam dengan demam tinggi dan sesak napas. Kondisinya memburuk hingga akhirnya dibawa ke Puskesmas Batuah pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 Wita.
Kuasa hukum orang tua korban, Titus T. Pakalla dari Kantor Hukum TTP & Partner Law Office, menyebut saat regulator dipasang ke tabung oksigen, jarumnya menunjukkan angka nol.
“Berdasarkan keterangan bapaknya, saat regulator dipasang ke tabung oksigen, jarumnya menunjukkan angka nol. Artinya diduga kosong,” ujarnya.
Keluarga juga menyoroti tidak adanya sopir ambulans saat kondisi bayi semakin kritis. Karena tidak mendapat kepastian rujukan, keluarga membawa korban menggunakan kendaraan pribadi menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, bayi tersebut meninggal dunia.
Titus menyatakan pihaknya tengah mengumpulkan data dan mempertimbangkan langkah hukum, termasuk pelaporan ke Ombudsman terkait aspek pelayanan publik.
“Kami melihat ada persoalan pada kesiapsiagaan fasilitas dan sistem respons darurat. Ini yang sedang kami dalami,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Batuah, dr. M Yuyut Arianto, membantah adanya kekosongan oksigen. Ia menjelaskan tabung dalam kondisi terisi, namun terdapat tuas on-off di bagian atas sebelum regulator yang sulit dibuka oleh petugas jaga saat itu.
“Secara teknis oksigen itu ada dan terisi penuh. Hanya saja ada tuas on-off di atas sebelum regulator, seperti keran. Saat itu petugas jaga kesulitan membukanya,” jelasnya.
Pihak puskesmas menyatakan terbuka terhadap proses hukum maupun mediasi. Peristiwa tersebut telah dilaporkan ke Dinas Kesehatan dan saat ini masih dalam proses evaluasi internal serta investigasi lapangan oleh instansi terkait.
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Agus S




