BONTANG – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh generasi muda Kota Taman, yakni I Putu Airlangga Devassya Dhananjaya pelajar Bontang yang berasal dari SMP Vidatra dengan usia 13 tahun, berhasil meraih penghargaan internasional dalam ajang tingkat Asia, Star Iconic Grand Honors Award 2026 di Jakarta.
Tak hanya itu, capaian gemilang juga diraih melalui karya filmnya yang berjudul ZAFI: Miles for a Miracle. Film tersebut berhasil masuk dalam Official Selection ajang bergengsi Dadasaheb Phalke International Film Festival (DPIFF) 2026 yang diselenggarakan di India.

Sebelumnya dalam ajang yang digelar 24 Januari 2026 lalu, I Putu Airlangga menerima penghargaan Most Visionary Iconic Professional of the Year Award 2026, dalam kategori Iconic Young Visionary & Creative Digital Talent Award tingkat Asia.
Penghargaan ini diberikan kepada sosok muda yang dinilai memiliki visi, kreativitas, serta kontribusi nyata di bidang digital dan industri kreatif. Masuknya ZAFI: Miles for a Miracle dalam seleksi resmi festival film internasional tersebut menjadi bukti bahwa karya anak daerah mampu bersaing di panggung global.
“Jadi ZAFI: Miles for a Miracle adalah sebuah film pendek drama yang mengisahkan perjuangan seorang pemuda ojek online (ojol) yang berusia 19 tahun, berada di persimpangan antara mimpi dan kenyataan pahit hidup,” ucapnya, Sabtu (21/2/2026).
Lebih lanjut, inti dari film genre berdrama keluarga tersebut dimana sang tokoh utama digambarkan harus putus sekolah karena kondisi ekonomi dan dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit, untuk melanjutkan pendidikan atau menyelamatkan perekonomian keluarga.
Film ini tidak hanya bercerita tentang kesulitan ekonomi saja, akan tetapi juga tentang harapan, pengorbanan, dan kekuatan seorang anak dalam menghadapi keadaan yang sulit. Maka melalui ajang ini, cerita ZAFI bisa menjangkau lebih banyak orang dan memberikan pesan emosional serta inspirasi, terutama bagi mereka yang sedang berjuang dalam hidupnya.
“Untuk ide cerita merupakan ide original dari saya sendiri, dan dibantu oleh teman saya yang bernama Sarah Maisha Adilla. Terinspirasi dari realita kehidupan di sekitar saya, dan fenomena yang sering terjadi di masyarakat. Saya mengembangkan cerita ini menjadi sebuah film pendek sebagai bentuk penyampaian pesan dan karya personal saya sebagai filmmaker muda,” jelasnya.
I Putu Airlangga merasa sangat bersyukur dan bangga karena karya yang dibuat dan diciptakan berdasarkan dari pengalaman serta perasaan pribadinya, bisa diapresiasi hingga sampai di tingkat internasional.
“Ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus belajar, berkembang, dan menciptakan karya yang lebih jujur dan bermakna,” ungkapnya.
I Putu Airlangga turut mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya kepada para pemeran, seperti Bayu Satyaguna sebagai Zafi, Jeane Nadya sebagai Ibunya, Ida Ayu Laksmi Arnita Utari sebagai Dokter, serta Direktur RS LNG Badak, yaitu dr. Nurul Fathoni, yang sudah mengizinkan syuting di tempat RS LNG Badak, Kota Bontang.
Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam




