Orangutan Dilatih “Berburu” Ketupat, Simulasi Hidup di Alam Liar

SAMARINDA – Momentum Lebaran dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran unik bagi satwa rehabilitasi di Kalimantan Timur. Dua pusat penyelamatan satwa menerapkan metode pengayaan perilaku (enrichment) dengan menggunakan ketupat sebagai media penyajian makanan bagi orangutan.

Metode ini diterapkan di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, yang dikelola Conservation Action Network (CAN). Makanan dimasukkan ke dalam anyaman ketupat lalu digantung di area bermain untuk merangsang aktivitas fisik dan kognitif satwa.

Empat bayi orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi terlihat aktif memanjat, bergelantungan, dan berusaha membuka anyaman ketupat untuk mendapatkan makanan di dalamnya. Sementara itu, satwa lain seperti owa juga diberikan metode serupa dengan penempatan ketupat di dahan pohon dalam kandang.

Founder sekaligus Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa metode tersebut dirancang untuk melatih kemampuan alami satwa sebelum dilepasliarkan.

“Metode ini menantang kemampuan fisik dan kognitif mereka. Kami ingin mereka terbiasa memanjat, meraih, dan berusaha mendapatkan makanan seperti di habitat aslinya,” ujarnya.

Baca Juga:  Aksi Curi Accu Terekam CCTV, Sopir Truk Tangki Ditangkap Polsek Palaran

Ia menambahkan, proses membuka anyaman ketupat juga melatih kesabaran serta koordinasi motorik satwa.

“Ini bukan sekadar makan, tapi proses belajar. Mereka benar-benar ‘berburu’ makanan,” katanya.

Metode serupa juga diterapkan di pusat rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Di lokasi ini, makanan berupa buah, madu, dan selai dimasukkan ke dalam ketupat untuk merangsang perilaku alami orangutan.

Manajer BORA, Widi Nursanti, menyebutkan bahwa enrichment tersebut bertujuan menjaga satwa tetap aktif dan tidak jenuh selama masa rehabilitasi.

“Enrichment ini membuat mereka berpikir, belajar, dan mencari cara untuk mendapatkan makanan. Ini penting untuk melatih problem solving mereka,” ujarnya.

Menurutnya, variasi sederhana seperti ini mampu merangsang indra penciuman, kreativitas fisik, serta perilaku alami satwa.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, M Ari Wibawanto, turut mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai penggunaan ketupat sebagai media enrichment menjadi pendekatan efektif dalam menjaga dinamika proses rehabilitasi.

“Ketupat ini bukan hanya kemasan, tetapi alat problem solving. Satwa dilatih menggunakan kreativitas dan instingnya untuk mendapatkan makanan,” ujarnya.

Baca Juga:  Penyidikan Proyek RPU Kutim Kembali Berlanjut

Sinergi antara BKSDA, CAN, dan COP diharapkan mampu memperkuat keberhasilan program rehabilitasi orangutan di Kaltim, sehingga satwa yang dilepasliarkan nantinya benar-benar siap kembali ke habitat alaminya. (MK)

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.