JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda turun sekitar 50 poin atau 0,28 persen hingga berada di posisi Rp17.717 per dolar AS.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang masih membebani sentimen pasar.
Dari sisi dalam negeri, pasar disebut menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto saat penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 di DPR RI beberapa waktu lalu.
Menurut Ibrahim, perhatian investor internasional mengarah pada rencana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang disebut akan mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy melalui mekanisme terpusat.
Kebijakan tersebut dinilai memunculkan kekhawatiran terkait potensi penurunan volume ekspor serta risiko terhadap penerimaan negara dan defisit fiskal.
“Nah secara internal pidato Presiden kemarin di DPR ini pun juga direview oleh pemeringkat internasional, salah satunya S&P Global yang kemungkinan besar akan menurunkan peringkat rating Indonesia,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Ia juga menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8 hingga 6 persen masih cukup berat dicapai di tengah ketidakpastian ekonomi global yang diperkirakan berlanjut hingga 2027.
“Nah di sisi lain dalam pidato presiden juga disampaikan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen sampai 6 persen. Ini mengindikasikan optimisme yang terlalu tinggi di tengah kondisi global yang tidak baik-baik saja dan kemungkinan masih berlanjut sampai 2027,” katanya.
Meski ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat tumbuh positif, Ibrahim menilai berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah secara signifikan.
“Segala cara dilakukan oleh Bank Indonesia sudah dilakukan. Tujuh jurus juga sudah dilakukan. Pemerintah melalui Menteri Keuangan juga sudah melakukan operasi pasar dengan menjual surat utang negara Rp2 triliun sampai Rp4 triliun, tetapi ini masih belum bisa membuat rupiah menguat,” ucapnya.
Sementara dari faktor eksternal, pasar global masih dibayangi ketidakpastian perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan. Investor dinilai belum melihat adanya peluang kesepakatan konkret terkait isu nuklir dan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Investor meragukan prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang diprakarsai Pakistan. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat,” tutur Ibrahim.
Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi itu berpotensi membuat bank sentral Amerika Serikat, The Fed, mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. (MK)
Pewarta: Fajri
Editor: Agus S




