SAMARINDA – Kemudahan akses layanan keuangan digital ternyata belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai pengelolaan keuangan yang aman dan sehat. Kondisi tersebut membuat generasi muda masih rentan menjadi sasaran praktik judi online maupun pinjaman online ilegal yang kini semakin masif melalui berbagai platform digital.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara menilai peningkatan literasi keuangan menjadi langkah penting untuk menekan risiko tersebut, khususnya di kalangan pelajar, mahasiswa, dan komunitas muda yang aktif menggunakan teknologi digital.
Kepala Divisi Layanan Manajemen Strategis dan Koordinasi Regional OJK Kaltim Kaltara, Ali Ridwan, mengatakan perkembangan teknologi memang membuka akses lebih luas terhadap layanan keuangan. Namun di sisi lain, kondisi itu juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menjalankan aktivitas keuangan ilegal.
“Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, produktivitas, bahkan masa depan generasi penerus bangsa,” ujarnya beberapa hari lalu.
Menurut Ali, kemampuan masyarakat dalam memahami dan menggunakan layanan keuangan secara bijak menjadi kunci untuk menghindari berbagai bentuk penipuan dan aktivitas ilegal di sektor keuangan.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 80,51 persen.
Sementara pada kelompok pelajar dan mahasiswa, tingkat literasi keuangan tercatat sebesar 61,76 persen dengan tingkat inklusi mencapai 84,42 persen.
Angka tersebut menunjukkan generasi muda cukup aktif memanfaatkan layanan keuangan digital, namun belum seluruhnya memiliki pemahaman kuat terkait pengelolaan keuangan yang sehat dan aman.
Ketua Forum Talenta Muda Kalimantan Timur, Andi Angkasa Putra, menilai judi online menjadi salah satu ancaman terbesar yang kini dihadapi generasi muda.
Menurutnya, berbagai promosi yang menjanjikan keuntungan instan sering kali menjadi pintu masuk yang akhirnya menjerat pengguna ke dalam masalah keuangan berkepanjangan.
“Godaan mendapatkan kekayaan secara instan memang sangat besar, tetapi dampaknya bisa sangat fatal. Data pribadi dapat dieksploitasi, rekam jejak keuangan dapat bermasalah, bahkan masa depan bisa hancur karena keputusan yang salah hari ini,” katanya.
Ia mengingatkan pentingnya membangun pola pikir yang berorientasi pada kemandirian finansial melalui pendidikan, keterampilan, dan perencanaan keuangan yang matang, bukan melalui cara-cara instan yang berisiko tinggi.
OJK Kaltim Kaltara juga mendorong generasi muda untuk lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan digital yang memanfaatkan rendahnya literasi keuangan masyarakat.
Selain memahami produk keuangan yang legal, masyarakat juga diharapkan mampu menjaga keamanan data pribadi dan identitas digital agar tidak disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Meningkatnya literasi keuangan dinilai menjadi salah satu benteng utama dalam menghadapi maraknya judi online, pinjaman ilegal, serta berbagai bentuk penipuan digital yang kini semakin menyasar kelompok usia muda. (MK)
Penulis: Hanafi
Editor: Agus S




