Harga Kakao di Pangadan Anjlok, Harga dan Akses Pasar Masih Jadi Kendala Utama

SANGATTA – Potensi kakao di Desa Pangadan Baru, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur (Kutim), terbilang besar. Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Persoalan harga dan akses pasar masih menjadi kendala utama.

Salah seorang petani kakao, Didi, mengungkapkan, luas kebun kakao produktif di desanya mencapai sekitar 150 hektare. Jika ditambah tanaman yang belum menghasilkan, totalnya diperkirakan mencapai 300 hingga 400 hektare.

“Potensinya besar, tapi tantangan kami juga tidak kecil,” ujarnya kepada media, Sabtu (18/4/2026).

Menurut dia, saat panen melimpah, petani justru dihadapkan pada situasi sulit. Keterbatasan daya serap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) membuat petani harus segera menjual hasil panen.

Akibatnya, petani kerap bergantung pada pembeli luar atau tengkulak yang datang langsung ke desa.

“Karena kebutuhan ekonomi, kami tidak bisa menahan lama. Akhirnya dijual ke tengkulak,” jelasnya.

Fluktuasi harga menjadi persoalan paling krusial. Didi menyebut, harga kakao sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram. Namun kini turun drastis menjadi sekitar Rp45 ribu per kilogram.

Baca Juga:  Pesut Etam Pantang Remehkan Laskar Sape Kerrab

Penurunan tersebut berdampak langsung pada pendapatan petani. Bahkan, keuntungan yang diperoleh nyaris tidak sebanding dengan biaya produksi.

Di tengah kondisi itu, upaya peningkatan kapasitas petani mulai dilakukan. Melalui program CSR dari PT Ganda Alam Makmur, petani mendapatkan pendampingan, mulai dari teknik budidaya hingga pengolahan kakao.

Program tersebut juga mendorong lahirnya produk olahan lokal bertajuk “Kakao Mantan”. Produk ini menjadi langkah awal hilirisasi kakao di tingkat desa.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Produk olahan kakao masih menghadapi kendala dalam hal pemasaran, sehingga belum mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi petani.

Didi berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memperkuat stabilitas harga serta membuka akses pasar yang lebih luas.

“Kalau harga stabil dan pemasaran dibantu, kami optimistis kakao bisa jadi andalan ke depan,” tandasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.