SAMARINDA – Gelombang kritik terhadap kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud dan Seno Aji, kian memanas. Aliansi Perjuangan Masyarakat Kalimantan Timur memastikan akan menggelar aksi demonstrasi besar pada 21 April 2026 sebagai bentuk protes atas kinerja pemerintah provinsi yang dinilai mengecewakan.
Koordinator Lapangan (Korlap) Aliansi, Erly Sopiansyah, menegaskan aksi tersebut merupakan hasil konsolidasi yang telah dilakukan sejak awal April, bukan gerakan spontan. Sejumlah posko telah dibuka untuk menghimpun massa, di antaranya di kawasan Jalan Esplanade dan Simpang Lembuswana, Samarinda.
“Pergerakan ini murni untuk perjuangan masyarakat Kaltim. Kami merespons kebijakan-kebijakan gubernur yang terasa menyakitkan hati masyarakat,” tegas Erly, Sabtu (11/4/2026).
Aksi direncanakan dipusatkan di Kantor DPRD Kaltim dan Kantor Gubernur Kaltim. Hingga saat ini, sekitar 4.075 orang dari 44 organisasi telah menyatakan siap bergabung.
Isu dugaan dinasti politik dan nepotisme menjadi tuntutan utama dalam aksi tersebut. Aliansi menilai praktik kekuasaan tidak boleh terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
“Kami hanya punya satu tuntutan besar: stop dinasti dan nepotisme di Kalimantan Timur. Kekuasaan itu milik masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, DPRD Kaltim didesak menggunakan hak angket untuk mengusut kebijakan pemerintah provinsi. Aliansi bahkan membuka kemungkinan mendorong tuntutan lebih jauh jika ditemukan pelanggaran serius.
“Kami minta DPRD mengeluarkan hak angket. Kalau arahnya ke pemakzulan, itu bagian dari proses,” tambahnya.
Aliansi juga menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat, termasuk isu efisiensi anggaran yang dianggap tidak dijalankan secara optimal.
Di sisi lain, langkah formal turut ditempuh dengan mengirimkan surat kepada Presiden RI agar aparat penegak hukum seperti KPK dan Kejaksaan Agung melakukan pemeriksaan.
Menanggapi isu politis, Erly menegaskan aksi tersebut tidak terkait dengan kepentingan pasca-Pilkada. Ia memastikan gerakan ini lahir dari kekecewaan masyarakat.
“Tidak ada lagi kubu. Ini murni suara rakyat yang kecewa,” tegasnya.
Dengan jumlah massa yang terus bertambah, aksi 21 April diperkirakan menjadi salah satu demonstrasi terbesar di Kalimantan Timur dalam beberapa waktu terakhir. (MK)
Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S




