spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Jalan Berliku Social Coffee Shop, dari Jual Kopi Rentengan hingga Punya Mesin Espresso

BONTANG – Komunitas pecinta kopi, Kopinicus kembali melanjutkan agendanya mengunjungi kedai-kedai kopi atau coffee shop di Kota Bontang. Kali ini, Kopinicus bersilaturahmi ke Social Street Coffee Shop di Jalan Patimura, RT 27, Kelurahan Api-Api, Minggu (23/7/2023). Kehadiran anggota Kopinicus disambut langsung Muhammad Fahmi Syafa selaku Owner Social.

Berikut catatan Kopinicus edisi ke-4 hasil bincang-bincang dengan sang owner yang akrab disapa Fahmi tersebut.

Diceritakan Fahmi, awal mula social ini bermula lahan kosong saja di tahun 2018 saat dirinya lulus kuliah dan mulai memutuskan menetap di Bontang. Kala itu ia berpikir akan diapakan lahan kosong tersebut.

“Di tabungan hanya ada uang Rp 4 juta. Awalnya mau dipakai buat liburan. Karena gak jadi liburan dibelikan tanah uruk buat nimbun. Ternyata uangnya habis, karena habis itu biar gak ditumbuhi rumput akhirnya dibuat nongkrong aja sama teman-teman,” ungkapnya mengawali kisahnya.

Dirinya pun memberanikan diri meminjam uang di bank, sebagai tambahan material bangunan dan sisanya dipakai untuk modal jualan kopi sachet dan minuman rentengan.

“Alat-alat benar-benar seadanya, mirip sama starling di pelabuhan. Berjalannya waktu, lahan kosong itu tetap dijadikan tempat jualan saat malam hari, karena paginya harus bekerja kantoran di salah satu instansi pemerintahan berstatus honorer,” ujarnya.

Dari awal dirinya mengaku tidak pernah terpikir membangun usaha. Dari keisengan tersebut ia merasakan hasil yang signifikan. Sejak itulah ia mampu membayar cicilan bank ditambah gaji dari bekerja.

Baca Juga:   Ramadan 1445 H, Kadar Zakat di Bontang Naik, Segini Rincian Besarannya!

Lanjutnya, seiring berjalannya waktu ia mendapat tawaran supporting dari salah satu brand rokok. Sejak itu mulai serius menjalankan usaha lantaran terikat kontrak. Namun ia menyadari tetap belum memahami pengelolaan sebuah usaha dan apa itu usaha kopi.

Awal berdiri, usaha ini diberi nama Singgareba. Tak ada arti dan makna khusus, hanya selentingan aja terucap karena waktu itu pihak supporting menanyakan hal itu. Kemudian, mulai berjalan banyak program dari pihak brand yang dilakukan selama satu tahun.

Pengalaman dan skill membuat kopi sendiri diceritakannya, berawal dari teman-teman yang lebih dulu terjun menggeluti dunia kopi. Hingga terbentuknya komunitas kopi di Bontang, sangat menunjang perkembangan dan pengetahuan dirinya di bidang kopi.

Di tahun 2020, pandemi covid-19 menjadi pukulan berarti bagi dirinya. Pendapatannya merosot tajam. Namun kesungguhannya menjalankan bisnis kopi, tetap menguatkan tekadnya mempertahankan bisnis ini.

“Karena kami yakin, kami bisa hidup dari kopi, dan Allah yang mengatur rezeki,” tegasnya.

Di tahun 2021 hingga 2022 Fahmi mulai memahami arti sebuah nama dan brand. Hingga akhirnya memutuskan mengubah nama ‘Singgareba’ menjadi “Social.” Nama Singgareba dirasa kurang cocok untuk melanjutkan usaha ini.

Baca Juga:   IRT Diringkus Usai Beli Sabu di Pasar Segiri Samarinda

“Biidznillah, Social pelan-pelan berjalan, mengikuti proses sesuai kemampuannya sendiri,” ucapnya.

Fahmi kemudian juga menceritakan, kenapa logo kedai kopinya hanya berupa tulisan latin bertuliskan Social. Hal itu agar masyarakat lebih mudah mengenali dan mengingat. Selain itu, karena dari kecil yang pertama kita pelajari tulisan tegak bersambung.

Social juga memiliki tagline street coffee crew, karena Social memang kedai kopi jalanan.

“Alhamdulillah mulai fight lagi di tahun 2022. Teman-teman kopi mulai mendukung saya terus melanjutkan usaha di industri kopi,” bebernya.

Fahmi pun mengisahkan pernah berkeinginan mengikuti kelas barista, untuk  menambah ilmu. Namun saat itu sayangnya terkendala dana, dan akhirnya hanya belajar perkopian dari teman-teman pecinta kopi di Kota Taman dan di Samarinda

Kendala yang muncul kembali saat itu tidak adanya karyawan. Dirinya pun menjalankan sendiri kedai kopinya selama 6 bulan. Sampai akhirnya menemukan karyawan.

Ia memahami bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Seiring berjalannya waktu, Social semakin ramai dan perlahan mulai menambah alat-alat kopi sampai akhirnya memiliki mesin espresso.

Di belakang Kedai Social terdapat bangunan yang dulu digunakan oleh rekannya membuka usaha cuci sepatu hingga barbershop. Karena suatu hal usaha itu tutup. Hanya kedai kopi miliknya yang tetap bertahan sampai sekarang.

Saat kedainya masih bernama Singgareba, menu minumannya macam-macam dari kopi, joshua, dan ada menu favorit bernama tante mery, yang terbuat sirup, susu, dan nata decoco.

Baca Juga:   Aturan Jam Operasional Efektif Kurangi Antrian BBM

“Itu menu terlaris yang bisa bikin usaha berkembang,” sebutnya.

Sekarang, menu terlaris ada es kopi susu, old man, lady rose dan black peels. Keempat menu itu adalah menu kopi yang menjadi primadona di Social sampai sekarang.

Menurutnya, tantangan dan kesulitan selama buka usaha perkopian karena Social menerapkan konsep self service atau orderan diambil sendiri. Sistem ini masih awam di Bontang, karena masih terbiasa orderan itu diantarkan langsung ke meja pelanggan.

“Ide itu datang karena mengamati warung-warung nasi atau prasmanan jaman kuliah dulu, makanya berani bikin layanan seperti itu. Bukan berarti mengikuti starb**ks atau k*c.  Balik lagi, sesuaikan kemampuan saja. Cipta bisa dipasarkan, dan pasar bisa diciptakan, Insya Allah. Hhehe,” ungkap Fahmi.

Ia berharap, Kopinicus tetap terus berjalan karena bisa mempererat silaturahmi dengan teman-teman barista, penikmat kopi, maupun yang berada di industri kopi.

“Jangan sampai ada overthinking dengan yang lain, jika ada yang tidak datang. Tidak datang bukan berarti sombong. Teman-teman Kopinicus ini asyik komunitasnya karena menjadi teman seperjuangan untuk usaha di industri kopi. Juga buat teman sharing ilmu kopi, maupun tentang menjalankan bisnis. Mungkin ke depanya bisa dibanyakin lagi eventnya,” pungkasnya. (*)

Most Popular