Jelang Nataru Harga Bapokting Merangkak Naik, Pemkab Janji Ketatkan Pengawasan

SANGATTA — Harga sejumlah bahan pokok penting (Bapokting) di Kutai Timur (Kutim) merangkak naik, jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026.

Meski pemerintah daerah mengklaim kondisi masih terkendali, efektivitas pengawasan distribusi dan stabilisasi harga kembali menjadi perhatian.

Berdasarkan pantauan di pasar tradisional, beberapa komoditas utama tercatat mengalami kenaikan harga dalam dua pekan terakhir. Harga beras medium, misalnya, naik dari kisaran Rp13.000–Rp13.500 per kilogram menjadi Rp14.000–Rp15.000 per kilogram. Sementara beras premium berada di kisaran Rp16.000–Rp17.000 per kilogram.

Komoditas minyak goreng kemasan sederhana juga mengalami kenaikan dari Rp14.500 menjadi Rp15.500 per liter, sedangkan minyak goreng premium menembus Rp18.000 per liter. Gula pasir naik tipis dari Rp15.000 menjadi Rp16.000 per kilogram, dan telur ayam ras bertahan di kisaran tinggi Rp29.000–Rp32.000 per kilogram.

Adapun harga daging ayam potong tercatat naik dari Rp32.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, sementara daging sapi segar masih berada di kisaran Rp135.000–Rp145.000 per kilogram, meski mulai menunjukkan kecenderungan naik.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadhani, mengakui adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas strategis. Menurutnya, kondisi tersebut kerap terjadi setiap menjelang hari besar keagamaan, seiring meningkatnya permintaan masyarakat.

Baca Juga:  PAMA Gelar Media Gathering Tahun 2023, Beber Program CSR 

“Memang ada beberapa komoditas yang harganya naik, tetapi masih dalam batas wajar dan pasokan secara umum masih aman,” ujar Nora, Senin (15/12/2025).

Namun demikian, kenaikan harga yang berulang saban menjelang Nataru menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan langkah antisipasi pemerintah daerah. Pasalnya, lonjakan harga kerap lebih dulu dirasakan konsumen di tingkat pasar, sementara intervensi kebijakan baru berjalan setelah gejolak terjadi.

Disperindag Kutim menyatakan telah melakukan pemantauan rutin terhadap pergerakan harga dan ketersediaan pasokan di pasar tradisional maupun pusat distribusi. Selain itu, pemerintah daerah juga telah mengeluarkan surat edaran kepada agen Bapokting, SPBU, hingga agen LPG sebagai upaya pengendalian distribusi dan pencegahan kelangkaan.

“Sesuai arahan Bupati Kutai Timur, seluruh perangkat daerah terkait diminta turun langsung ke lapangan untuk memastikan kelancaran distribusi jelang Nataru. Kami sudah bergerak ke beberapa wilayah,” jelas Nora.

Kendati demikian, pengawasan hingga ke tingkat pengecer dinilai masih menjadi tantangan, mengingat luasnya wilayah Kutim dan ketergantungan pasokan dari luar daerah. Kondisi ini membuka celah terjadinya keterlambatan distribusi, spekulasi harga, hingga praktik penimbunan.

Baca Juga:  APBD Perubahan 2025 Kaltim Naik Jadi Rp21,74 Triliun, DPRD Ketok Palu

Pemerintah daerah menargetkan ketersediaan Bapokting tetap mencukupi hingga melewati pergantian tahun. Disperindag Kutim juga memastikan pengawasan akan diperketat hingga perayaan Tahun Baru usai, termasuk koordinasi lintas instansi terkait.

Nora mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan yang berpotensi memperparah gejolak harga di pasaran. Namun di sisi lain, publik berharap janji penguatan pengawasan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan diiringi langkah konkret seperti operasi pasar dan penindakan tegas terhadap pelaku usaha yang terbukti memainkan harga.

Tanpa pengawasan yang konsisten dan intervensi nyata, stabilitas harga bahan pokok dikhawatirkan kembali menjadi persoalan klasik yang berulang setiap menjelang Nataru.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.