SAMARINDA — Isak tangis menyelimuti sebuah rumah sederhana di RT 13, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Samarinda Kota. Mandala Risky Syahputra, remaja berusia 16 tahun yang dikenal gigih dan pendiam, mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat dini hari (24/4/2026).
Kepergian siswa SMKN 4 Samarinda itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan menjadi sorotan publik terkait kepedulian sosial serta empati dunia pendidikan terhadap siswa dari keluarga kurang mampu.
Kisah pilu Mandala bermula dari sepasang sepatu sekolah ukuran 41 yang telah dipakainya sejak duduk di bangku kelas 1 SMK. Seiring pertumbuhan fisiknya, ukuran kaki Mandala berubah menjadi 44 hingga 45. Namun, karena memahami kondisi ekonomi keluarganya, ia memilih bertahan menggunakan sepatu sempit tersebut.
Untuk mengurangi rasa sakit akibat gesekan, Mandala bahkan mengganjal bagian dalam sepatunya menggunakan busa pembungkus buah agar tetap bisa beraktivitas.
Sebagai anak sulung yang ingin membantu ekonomi keluarga, Mandala mengikuti program magang sebagai pramuniaga di salah satu pusat perbelanjaan besar di Samarinda. Pekerjaan yang mengharuskannya berdiri seharian membuat kondisi kakinya semakin parah hingga membengkak.
Rasa sakit yang terus dirasakan menjalar hingga ke punggung. Kondisinya semakin melemah, nafsu makan menurun, dan berat badannya terus menyusut.
Ratnasari, ibu Mandala, mengenang percakapan terakhir yang hingga kini masih membekas di hatinya. Saat itu, Mandala sempat meminta dibelikan sepatu baru karena sudah tidak kuat menahan sakit.
“Bu, bisa nggak belikan Mandala sepatu? Eh iya Bu, Mandala lupa kalau Mandala ini anak yatim,” ucapnya lirih.
Kalimat sederhana itu kini menjadi luka yang sulit dilupakan sang ibu.
Di tengah kondisinya yang semakin lemah, Mandala justru berusaha menguatkan ibunya agar tetap tegar menjaga adik-adiknya.
“Mandala ini lemah, cuman Mandala lihat Mama ini kuat. Mama harus kuat buat jaga adik,” tuturnya sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia dalam tidurnya sekitar pukul 02.00 WITA.
Kematian Mandala memicu reaksi dari berbagai pihak. Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menilai tragedi tersebut menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan kepedulian sosial terhadap siswa kurang mampu.
“Ini tamparan buat semua. Untuk apa ada data gaji orang tua jika komite hanya sibuk mengurusi iuran atau perpisahan, tapi tidak tahu ada siswa yang menderita karena tidak mampu beli sepatu. Ini mencederai pendidikan kita,” tegasnya saat mengunjungi rumah duka.
Jenazah Mandala sempat disalatkan di sekolahnya sebelum dimakamkan di Kuburan Merdeka pada Jumat siang. Kepergian remaja 16 tahun itu meninggalkan pesan mendalam tentang perjuangan, pengorbanan, dan kerasnya kehidupan yang harus dihadapi sebagian anak-anak dari keluarga sederhana.
Keluarga berharap kisah Mandala menjadi perhatian bersama agar tidak ada lagi anak-anak yang kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya kepedulian lingkungan sekitar. (MK)
Penulis: Dimas
Editor: Agus S




