spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Komisi III Desak Pemkot (Lagi) Segera Realisasikan Pemakaman Muslim Bontang Barat

BONTANG – Untuk kesekian kalinya Komisi III DPRD Bontang mendorong Pemkot Bontang, agar segera mengadakan Pemakaman Muslim di Kecamatan Bontang Barat. Lantaran desakan warga Bontang terus menerus dilontarkan ke anggota dewan.

Ketua Komisi III DPRD Bontang, Amir Tosina menegaskan, kalau pihaknya sudah beberapa kali meninjau lahan yang akan diajukan sebagai pemakaman, namun sampai saat ini belum juga terealisasi. Pihaknya tak ingin masalah ini terus berlarut-larut.

Dirinya meminta agar alternatif lahan terakhir yang ditinjau ini, segera dapat direalisasikan. Dirinya tak ingin lagi mendengar keluhan-keluhan dari warga Bontang Barat terkait pemakaman.

“Mudah-mudahan tidak ditunda-tunda lagi. Sudah 3 tahun kami perjuangkan ini. Pertanyaan dari warga tentang pemakaman ini paling mendominasi saat kami reses,” ujar pria yang akrab disapa Atos tersebut, saat meninjau lahan alternaatif yang rencananya dijadikan pemakaman, Senin (5/6/2023) kemarin.

Ditambahkannya, selain datang dari warga Bontang Barat, desakan-desakan direalisasikannya pemakaman tersebut juga datang dari warga Kutim. Menurutnya, kritikan-kritikan juga datang dari warga Kutim karena warga muslim di Bontang Barat menggunakan lahan pemakaman di Kutim.

Baca Juga:   Raking Dukung Pendirian SMP di Pesisir Bontang

“Warga Bontang Barat dianggap numpang di lahan pemakaman warga Kutim. Karena memang daerahnya berdekatan,” bebernya.

Sementara itu, Kabid Pertanahan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkim), Ishak Karangan menyampaikan, kalau di tahun-tahun sebelumnya hanya ada 1 pilihan untuk lahan pemakaman. Sementara dari Bapelitbang meminta ada beberapa alternatif pilihan yang lain.

Karenanya sekarang pihaknya mengajukan 3 alternatif. Pertama di kawasan Kampung Masdarling, kedua di seberang Pemakaman Toraja masuk sekira 300 meter, dan ketiga di sebelah Musala Babussalam masuk sekira 200 meter.

“Sebenarnya ada 1 alternatif lagi, tapi karena masuk di kawasan hutan lindung maka pihak Bapelitbang tidak memasukkan dalam alternatif pilihan,” ungkapnya. (adv/al)

Most Popular