Sapi-sapi jumbo bantuan Presiden Prabowo Subianto tahun ini menyebar ke seluruh Kaltim.
Total ada 13 ekor yang dibagikan. Sepuluh ekor untuk seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Satu ekor untuk tingkat provinsi, dan dua ekor khusus untuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Iduladha, Rabu (27/5/2026) pagi, salah satu sapi jumbo itu diserahkan langsung Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di Islamic Center Samarinda. Bobotnya lebih dari satu ton.
Sejak pagi sapi itu sudah menjadi perhatian warga yang datang saat Salat Iduladha. Banyak yang berhenti melihat dari dekat. Ada yang merekam video. Anak-anak juga terlihat mengerubungi area sapi kurban bantuan Presiden tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, laporan wartawan Mediakaltim.com dari berbagai daerah juga hampir sama.
Di Balikpapan, sapi jumbo bantuan Presiden ramai dibicarakan warga karena ukurannya yang tidak biasa.
Di Bontang, Kukar, Berau, Paser hingga Mahakam Ulu, kedatangan sapi Presiden juga menjadi perhatian masyarakat menjelang penyembelihan kurban. IKN bahkan mendapat dua ekor sapi khusus.
Skalanya memang tidak kecil. Secara nasional, Presiden Prabowo menyalurkan 1.098 ekor sapi kurban ke seluruh Indonesia. Ratusan di antaranya dibagikan ke provinsi, kabupaten dan kota. Sisanya diberikan ke pondok pesantren, lembaga sosial, tokoh agama hingga kawasan strategis seperti IKN.
Dan seluruhnya dibiayai lewat APBN.
Kalau dihitung kasar, nilai program ini mencapai puluhan bahkan mendekati ratusan miliar rupiah. Harga sapi bantuan Presiden rata-rata berada di kisaran puluhan hingga lebih dari Rp100 juta per ekor, tergantung bobot dan jenisnya.
Program seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Di era Presiden Joko Widodo, juga rutin dilakukan setiap Iduladha. Negara membeli sapi dari peternak lokal lalu mendistribusikannya ke daerah-daerah sebagai bantuan Presiden.
Bedanya, tahun ini distribusinya terasa lebih besar.
Apalagi Kaltim sekarang menjadi salah satu pusat perhatian nasional karena keberadaan IKN.
Kaltim sekarang bukan daerah biasa. IKN membuat perhatian pemerintah pusat otomatis ikut tertuju ke sini.
Tetapi di balik besarnya bantuan kurban Presiden ini, Kaltim masih punya pekerjaan rumah cukup besar.
Kaltim ternyata masih bergantung pada pasokan sapi dari luar daerah.
Sebagian besar kebutuhan sapi potong masih didatangkan dari Sulawesi dan NTT. Padahal Kaltim punya APBD besar dan sekarang menjadi lokasi IKN.
Artinya, sektor peternakan kita memang belum kuat. Kita bisa mendatangkan sapi jumbo dari luar daerah memakai APBN. Tetapi kebutuhan besar itu belum bisa dipenuhi dari peternak lokal sendiri.
Padahal perputaran anggaran dari program seperti ini seharusnya juga bisa ikut menghidupkan peternak lokal.
Karena sapi bantuan Presiden selalu didistribusikan setiap tahun. Tetapi tanpa peternak lokal yang kuat, Kaltim akan terus bergantung pada pasokan luar daerah. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




