Pemkot Targetkan Angka Stunting Turun Jadi 12,5 Persen di 2026

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menargetkan penurunan angka stunting, dari 17,4 persen menjadi 12,5 persen berfokus di 2026, melalui kolaborasi lintas sektor dan intervensi berbasis data.

Target tersebut disampaikan langsung oleh, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat Rapat Koordinasi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting 2026, di Ruang Rapat Utama Kantor Wali Kota Bontang, Senin (18/5/2026).

Dalam sambutannya, Agus Haris menegaskan bahwa untuk penanganan stunting harus benar-benar dirasakan masyarakat, dan tidak hanya berhenti pada laporan administrasi saja. Mengingat kasus terkait stunting sangat penting.

“Kita ingin penanganan stunting ini benar-benar berjalan di lapangan, bukan hanya laporan administratif,” ungkapnya.

Dalam rapat tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang memaparkan hasil penimbangan balita dan capaian posyandu, termasuk rencana validasi data stunting melalui pengukuran ulang dan timbang serentak di Juni 2026.

Pemerintah juga meminta para lurah, agar bisa lebih aktif lagi, untuk melakukan kunjungan rumah terhadap balita yang belum mengikuti penimbangan. Guna memastikan seluruh data terverifikasi secara akurat.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sindir Kepala OPD yang Jarang Hadir di Paripurna, Wawali: Kalau Tidak Sejalan, Dievaluasi!

Sementara itu, Kepala DP3AKB Bontang, Eddy Foreswanto menjelaskan penanganan stunting tidak hanya menyasar anak yang sudah mengalami gangguan tumbuh kembang, tetapi juga anak berisiko stunting melalui pendampingan sejak sebelum kehamilan.

Menurutnya, upaya tersebut didukung dengan perbaikan sanitasi, penyediaan akses air bersih, penerapan pola hidup sehat, hingga pencegahan paparan asap rokok di lingkungan keluarga.

Pemkot Bontang juga terus mendorong integrasi data melalui aplikasi Super S dan Si Rindu, serta sinkronisasi dengan Aksi Bangda agar intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran dan terpadu.

Meski demikian, pemerintah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam penanganan stunting, seperti penolakan imunisasi, pernikahan dini, hingga keterbatasan sumber daya manusia di lapangan.

“Karena itu, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), PKK, penyuluh KB, dan Tim Pendamping Keluarga terus diperkuat untuk memberikan edukasi hingga tingkat kelurahan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pemkot Bontang juga memaparkan keberhasilan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), vitamin D, dan zinc di Kelurahan Bontang Baru, tepatnya di kawasan Tanjung Limau.

Baca Juga:  Satimpo Siapkan Kampung Madu Sebagai Salah Satu Produk Unggulan

Program tersebut berhasil membantu 18 dari 25 anak keluar dari kategori stunting, dan diharapkan dapat diterapkan di wilayah lain di Kota Bontang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.