SAMARINDA – Pengembangan kawasan wisata pesisir di Kaltim dinilai perlu dibangun dengan pendekatan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan serta melibatkan masyarakat lokal dalam proses pembangunan.
Pandangan tersebut disampaikan peneliti LP2M Universitas Mulawarman (Unmul), Dr. Musdalifah Asis, S.E., M.Si., yang juga dosen pengampu mata kuliah Manajemen Operasional Lanjutan Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul.
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan observasi lapangan mahasiswa Magister Manajemen angkatan 46 di sejumlah kawasan wisata pesisir di Balikpapan dan Kutai Kartanegara.
Sebanyak 58 mahasiswa dibagi ke dalam sembilan kelompok observasi sebagai bagian dari pembelajaran lapangan terkait tata kelola destinasi wisata pesisir dan pengembangan ekowisata berkelanjutan di tengah perkembangan kawasan penyangga IKN.
Musdalifah menjelaskan kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara langsung di lapangan.
Menurutnya, melalui observasi kawasan wisata pesisir, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar lapangan, tetapi juga mengumpulkan data kajian akademik terkait pembangunan wisata berkelanjutan di Kaltim.
Selain itu, keterlibatan mahasiswa di lapangan diharapkan mampu memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis masyarakat dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk pengembangan destinasi wisata daerah.
Mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan terhadap potensi wisata, tetapi juga mengkaji pola pengelolaan destinasi, keterlibatan masyarakat pesisir, tantangan infrastruktur, hingga aspek keberlanjutan lingkungan di kawasan wisata pantai.
Hasil observasi nantinya akan dikembangkan dalam bentuk laporan jurnal akademik dan dokumentasi lapangan.
Salah satu lokasi observasi dilakukan di kawasan Pantai Jeros Paradise Resort, Teluk Pemedas, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan.
Menurut Musdalifah, kawasan pesisir tidak dapat dipandang hanya sebagai ruang bisnis atau pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga sebagai ruang konservasi lingkungan yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Kawasan pesisir memiliki potensi besar bukan hanya sebagai wahana pertumbuhan ekonomi dan bisnis, tetapi juga sebagai ruang konservasi lingkungan yang harus dijaga keberlanjutannya,” ujarnya.
Ia menilai mahasiswa perlu memahami bahwa pengembangan wisata tidak cukup hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keseimbangan lingkungan, sosial, budaya, dan keberlanjutan masyarakat pesisir.
Musdalifah mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam observasi lapangan menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, hingga kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Menurutnya, pembelajaran lapangan penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi mampu melihat langsung fenomena sosial dan tantangan pembangunan wisata di lapangan.
“Mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai student, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang mampu memahami persoalan lapangan dan menghadirkan solusi yang aplikatif,” katanya.
Selama observasi, mahasiswa juga melihat bagaimana aktivitas wisata pesisir mulai berkembang melalui keterlibatan masyarakat lokal, pelaku UMKM, hingga pengelola wisata di kawasan pantai.
Musdalifah menjelaskan pembangunan pariwisata memerlukan keterlibatan banyak pihak agar pengembangan kawasan wisata tidak berjalan secara parsial.
“Pembangunan pariwisata tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha agar pengembangan wisata bisa berjalan secara bertanggung jawab,” jelasnya.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan dalam pengembangan wisata pesisir, mulai dari penguatan literasi masyarakat, keterbatasan infrastruktur pendukung, hingga kemampuan promosi digital destinasi wisata.
Menurutnya, tantangan tersebut tidak boleh menjadi penghalang dalam pengembangan kawasan wisata pesisir di Kaltim.
“Tantangan itu tidak boleh menjadi penghalang. Justru harus menjadi dasar untuk menghadirkan solusi pengembangan wisata yang lebih optimal,” ujarnya.
Musdalifah mengingatkan pengembangan investasi pariwisata harus tetap melibatkan masyarakat lokal agar tidak terpinggirkan di tengah perkembangan kawasan.
Menurutnya, masyarakat pesisir harus tetap menjadi bagian utama dalam pembangunan wisata di daerah mereka sendiri.
“Wisata pesisir bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang masa depan masyarakat pesisir. Karena itu, keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya harus tetap dijaga,” tutupnya. (MK)
Penulis: Nuzul Saputra
Editor: Agus S




