spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pertahankan Keutuhan Negara, Kadir Tappa Gelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan

BONTANG – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Kadir Tappa, menyelenggarakan sosialisasi wawasan kebangsaan, Minggu (26/11/2023) di Hotel Andika.

Ia menyatakan bahwa ada kekhawatiran bahwa Indonesia hanya tinggal nama, oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya untuk merawat wawasan tersebut setiap bulannya dengan memberikan masukan berupa wawasan kebangsaan.

“Untuk menjaga kemajuan Indonesia, politik harus dirawat dan diperbaiki, sehingga masyarakat tidak perlu menerima hal-hal yang tidak baik dari para pelaku politik,” jelasnya.

Narasumber pertama dalam kegiatan ini adalah akademisi Bilher Hutahaean. Ia menjelaskan bahwa masyarakat harus diikat oleh Pancasila, terutama nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kita diikat oleh Pancasila yang pertama, yaitu menghormati agama-agama lain,” jelasnya.

Nilai kedua adalah kemanusiaan, bagaimana manusia harus saling membantu berdasarkan tuntutan hati nurani. Kemanusiaan perlu ditekankan karena nilai ini mulai memudar di zaman sekarang. Nilai ketiga adalah persatuan, usaha untuk bersatu dalam kebulatan rakyat, membangun nasionalisme, dan mengakui serta menghargai keanekaragaman bangsa Indonesia.

Nilai keempat adalah nilai kerakyatan, di mana pemerintahan bekerja untuk rakyat melalui musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Terakhir, Pancasila mengandung nilai keadilan sebagai dasar dan tujuan, yaitu menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahir dan batin.

Baca Juga:   FMB Gelar Diskusi Tokoh, Paparkan Solusi Islam Masalah HIV/Aids

“Keadilan bersifat subjektif dan harus proporsional, sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap semboyan “Bhineka Tunggal Ika,” UUD 1945, dan NKRI dalam kehidupan sosial.

Narasumber kedua, Gopi Susanto, seorang Analis Ketahanan Ekonomi dan Kesbangpol, menjelaskan bahwa dalam bernegara, toleransi sangat penting, yakni sikap menghargai, membiarkan, dan memperbolehkan pendapat, pandangan, kepercayaan, dan kebiasaan yang berbeda dengan pendirian sendiri.

Selain itu, ada hal-hal yang harus dihindari, seperti radikalisme yang merupakan paham atau aliran politik yang ingin melakukan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Terakhir, masyarakat harus menghindari ancaman terorisme, yang merupakan tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan rasa takut secara meluas dan dapat menimbulkan korban massal.

“Oleh karena itu, negara kita harus kuat untuk menangkis ancaman yang ada,” tegasnya. (Adv/sya)

Most Popular