Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Aumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin
Kota Bontang tengah memperkuat pengelolaan data kemiskinan, setelah jumlah warga miskin turun dari 47.000 menjadi sekitar 17.000 jiwa. Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menyatakan bahwa angka ini masih perlu ditekan hingga idealnya mencapai 5 persen. Saat ini tingkat kemiskinan Bontang berada di kisaran 8–9 persen, sudah di bawah rata-rata nasional. Namun, menurutnya angka tersebut belum mencerminkan status Bontang sebagai kota industri.
Dinas Sosial Bontang saat ini tengah mengelompokkan 17.000 warga miskin berdasarkan delapan indikator Kepmensos dan SK Wali Kota. Data ini kemudian akan diserahkan ke BPS untuk penentuan desil (tingkat kesejahteraan).
Selain itu, pemkot juga menggandeng perusahaan untuk intervensi sosial. Salah satunya, PT Pupuk Kaltim (PKT) telah berkomitmen membantu 500 kepala keluarga. Setelah pengelompokan selesai akan disusun intervensi dalam tiga kategori, yakni bantuan sosial, program sosial, dan program kesejahteraan sosial. Targetnya setelah Lebaran, program bisa berjalan lebih terstruktur. https://radarbontang.com/turun-jadi-17-000-pemkot-bontang-targetkan-kemiskinan-ideal-5-persen/
Secara nasional tingkat provinsi, angka kemiskinan Kalimantan Timur (Kaltim) sebenarnya merangkak naik pada September 2025 lalu. Hal ini sekaligus mengakhiri tren penurunan yang konsisten dalam 30 bulan terakhir. Sebelumnya tingkat kemiskinan di Kaltim cenderung mengalami penurunan beberapa waktu lalu, seperti pada September 2022 di level 6,44 dan terus konsisten turun hingga Maret 2025 sebesar 5,17.
Kemiskinan mengalami kenaikan baik dari sisi jumlah maupun persentase. Meski peningkatannya terbilang tipis, kondisi ini mengindikasikan adanya tantangan ekonomi yang perlu diwaspadai. Kepala BPS Kalimantan Timur Mas’ud Rifai menyatakan persentase penduduk miskin mencapai 5,19% atau setara 202.040 jiwa pada September 2025. https://kalimantan.bisnis.com/read/20260207/407/1950967/tingkat-kemiskinan-kaltim-merangkak-naik-usai-30-bulan-konsisten-turun#goog_rewarded
Kapitalisme Memiskinkan Masyarakat
Penurunan kemiskinan masih menjadi PR besar Kaltim dan beberapa daerah di dalamnya. Tak dapat dipungkiri di Kaltim ada yang terkategori daerah terkaya atau pun peringkat termiskin. Padahal Kaltim terkenal dengan kaya akan SDAE, tetapi tak berkolerasi dengan kesejahteraan. Buktinya masih ditemui daerah yang belum dialiri air PDAM maupun listrik.
Angka kemiskinan ditargetkan turun, sehingga antar daerah pun berlomba agar tercapai. Antara prestasi dan gengsi, pemerintah daerah tidak mau dianggap gagal dalam menurunkan kemiskinan. Seringkali ditemui data kemiskinan antara fakta dan realita tidak sesuai. Bisa jadi karena kinerja, indikator atau standarnya yang salah dan pelakunya tidak amanah. Contoh data warga miskin tidak terdata sebaliknya warga ekonomi membaik masuk miskin.
Ada perbedaan paradigmatik memandang kemiskinan sehingga standarnya pun berbeda. Sistem ekonomi kapitalistik menghitung kemiskinan/ pendapatan berdasarkan data rata-rata per kapita bukan individu. Artinya sudut pandang kapitalis rumusnya memang begitu sehingga wajar pendapatan rendah masih terkategori mampu.
Tidak hanya standar kemiskinan sistem Kapitalisme sekuler membuat warga semakin miskin dan kaya semakin kaya. Demikianlah kemiskinan struktural di tengah SDA yang melimpah.
Dalam sistem kapitalisme sekuler demokrasi saat ini sudah bukan rahasia lagi rezim kerap bermain angka untuk menaikkan citranya. Bansos yang pemerintah berikan jauh dari kata cukup. Sudahlah sering salah sasaran, jumlahnya pun tidak mampu menutupi kebutuhan hidup keluarga yang kian meningkat.
Dengan demikian, jika dikatakan kebijakan pemerintah mampu menurunkan angka kemiskinan, klaim ini jauh dari realitas. Kemiskinan adalah problem struktural, bukan angka semata. Sebab sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan oleh negeri ini membuat distribusi harta hanya beredar di kalangan orang kaya saja.
Oleh karena itu, ilusi menurunkan kemiskinan selama menggunakan sistem kapitalisme sekuler. Target penurunan kemiskinan akan sulit dicapai melihat faktor penyebabnya sistemik. Makanya kemiskinan tidak akan mampu diatasi hanya dengan beragam program, namun perubahan harus menyentuh akar persoalan. Sistem ekonomi kapitalis tidak akan mampu menurunkan kemiskinan. Sebaliknya kemiskinan akan terus turun temurun.
Islam Menyejahterakan Masyarakat
Kesejahteraan hanya terwujud dengan Islam dengan beberapa mekanismenya, sebagai berikut. Pertama, Islam menjamin kebutuhan primer. Islam memerintahkan pada setiap kepala keluarga untuk bekerja. Selanjutnya, Islam mewajibkan kerabat dekat untuk membantu saudaranya. Islam pun mewajibkan negara dan kaum muslim membantu rakyat miskin.
Dalam sistem aturan kepemilikan, Islam pun membagi tiga, yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Selanjutnya pengelolaan kepemilikan dalam sistem ekonomi Islam dilakukan dengan dua cara, yaitu pengembangan kepemilikan dan penggunaan harta.
Selanjutnya, Islam mewajibkan negara mendistribusikan harta kepada yang tidak mampu. Islam mewujudkan kesejahteraan per individu secara real bukan rata-rata perkapita masyarakat. Islam mewajibkan sirkulasi kekayaan terjadi pada semua anggota masyarakat dan mencegah kekayaan hanya pada segelintir orang.
Jika terjadi kesenjangan maka negara harus memecahkannya dengan cara mewujudkan keseimbangan dalam masyarakat. Caranya dengan memberikan harta negara kepada orang yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya. Misalnya, memberikan tanah yang tidak difungsikan untuk dikelola warganya.
Dalam Islam, pengelolaan hasil SDAE oleh negara akan masuk dalam kas Baitul Mal yang menjadi pusat pendapatan negara. Arahnya adalah untuk menjamin kehidupan per-individu rakyat agar benar-benar mendapatkan sandang, pangan dan papan. Serta untuk mewujudkan jaminan bagi rakyat dalam bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, pertanian, industri, infrastruktur dan lainnya.
Dengan demikian, kesejahteraan dalam Islam tidak hanya masalah angka tapi real tercukupi kebutuhan per individu. Dengan sistem Islam kemiskinan akan teratasi, mulai dengan kepedulian warga sesama muslim yakni shadaqah, infak dan zakat. Ditambah negara pun andil dalam pengelolaan Baitul mal untuk menyalurkan bantuan terhadap warganya.
Prestasi kegemilangan sistem Islam bisa dilihat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau telah mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan hingga tidak ditemui satu pun penerima zakat karena rakyatnya hidup berkecukupan. Demikianlah prestasi sistem Islam tanpa kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan tentunya keberkahan bumi dan langit akan diraih jika taat kepada aturan Ilahi.
Wallahu’alam.




