SAMARINDA — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Timur memastikan kondisi Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) Samarinda secara visual masih dalam batas aman, khususnya untuk kendaraan kecil, menyusul beberapa insiden tabrakan tongkang terhadap struktur jembatan dalam waktu berdekatan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kaltim, M. Muhran, mengatakan pihaknya telah melakukan investigasi dan survei lapangan sehari setelah kejadian tabrakan terakhir. Dari hasil pemeriksaan awal di lapangan, struktur utama jembatan dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.
“Secara visual, pilar masih tegak lurus. Lantai jembatan, sambungan, trotoar, dan parapet juga masih terlihat lurus dan rata. Untuk kendaraan kecil, kemungkinan masih aman,” ujar Muhran saat dikonfirmasi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penilaian tersebut baru sebatas pemeriksaan visual. Untuk memastikan tingkat keamanan secara menyeluruh, terutama bagi kendaraan bertonase besar, PUPR Kaltim masih akan melakukan penyelidikan struktural lanjutan.
“Untuk kendaraan besar, kami belum bisa menyatakan aman atau tidak. Itu perlu penyelidikan struktural lebih lanjut agar benar-benar terukur dan tidak menimbulkan risiko,” jelasnya.
Muhran menyebutkan, selama ini Jembatan Mahulu dikenal sebagai salah satu jembatan dengan kondisi paling baik di Samarinda karena masih mampu dilalui kendaraan besar. Namun, fungsi fender atau pelindung pilar menjadi perhatian serius, mengingat bagian tersebut merupakan pengaman utama saat terjadi tabrakan kapal atau tongkang.
Berdasarkan hasil pendataan, beberapa pilar yang terdampak berada pada pilar tiga hingga pilar enam. Kerusakan yang terjadi umumnya berupa goresan dan sedikit rompal, serta tidak masuk kategori kerusakan berat. Pada insiden tabrakan sebelumnya, tercatat tiga unit fender jembatan hilang akibat benturan tongkang.
“Untuk kejadian pertama, ada tiga fender yang hilang. Alhamdulillah, baik pada kejadian 23 Desember maupun 4 Januari, pihak penabrak bersikap kooperatif dan siap bertanggung jawab,” ungkapnya.
Saat ini, PUPR Kaltim telah melakukan koordinasi intensif dan survei bersama pihak terkait untuk menentukan jenis kerusakan secara detail serta menghitung estimasi biaya pemulihan. Seluruh pihak sepakat bahwa aset jembatan harus dikembalikan sesuai dengan kondisi semula sebelum insiden terjadi.
Muhran mengungkapkan, estimasi awal biaya pemulihan, yang mencakup pembangunan kembali tiga fender serta perbaikan pada pilar jembatan, diperkirakan mencapai lebih dari Rp30 miliar. Sementara untuk insiden tabrakan terakhir pada 4 Januari, meskipun kerusakan masih tergolong ringan berupa goresan, PUPR Kaltim telah menerima surat pernyataan tanggung jawab mutlak dari pihak penabrak.
“Yang paling penting, komitmen pertanggungjawaban sudah ada. Sekarang fokus kami memastikan keamanan jembatan tetap terjaga dan proses pemulihan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S




