SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berancang-ancang membantu Pemerintah Kota Samarinda mengurai kemacetan kronis di Kota Tepian. Dalam paket proyek strategis Pemprov Kaltim 2025–2029, pembangunan Waterfront dan Riverside Road digadang sebagai solusi utama untuk mengurai kepadatan lalu lintas dari kawasan Selili hingga Jembatan Mahkota II.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyebut proyek tersebut telah masuk tahap perencanaan dan akan direalisasikan bergantung pada kemampuan fiskal daerah, terutama peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Waterfront itu sebenarnya bagian dari beberapa kegiatan kita. Saat ini baru kita planning-kan. Mudah-mudahan APBD kita, terutama PAD, mampu membangun itu,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Rudy menjelaskan, proyek ini tidak hanya dirancang sebagai ruang publik tepi sungai, tetapi juga sebagai koridor lalu lintas terintegrasi. Keterbatasan ruang darat di pusat kota membuat Samarinda membutuhkan terobosan di luar pola konvensional.
“Kita butuh alternatif untuk memecah kemacetan. Salah satunya dengan memanfaatkan koridor Sungai Mahakam,” katanya.
Konsep serupa, lanjut Rudy, juga akan diterapkan di Balikpapan. Proyek tersebut direncanakan membentang dari kawasan bandara hingga Monumen Perjuangan Rakyat untuk mengurai kepadatan di Jalan Jenderal Sudirman, terutama pada jam sibuk dan hari libur.
“Balikpapan juga demikian. Kami berharap dari bandara sampai Monumen bisa membantu memecahkan masalah kemacetan,” imbuhnya.
Kedua kota dipilih agar wajah Kalimantan Timur selaras dalam menyongsong pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Rudy menegaskan lonjakan mobilitas ke depan tidak boleh berujung pada kemacetan baru di kota-kota penyangga.
“Jangan sampai macetnya Jakarta pindah ke Balikpapan atau ke Kalimantan Timur,” tegasnya.
Dari sisi anggaran, tantangan terbesar adalah kemampuan fiskal daerah. Pemprov Kaltim menargetkan PAD tahun ini mencapai Rp7 triliun dan berharap dapat melampaui target tersebut agar proyek strategis bisa direalisasikan.
“Kita tunggu PAD kita berapa dan apakah sesuai target. Mudah-mudahan bisa melampaui Rp7 triliun,” jelas Rudy.
Ia juga mengajak seluruh elemen untuk berkolaborasi. “Karena itu, seluruh masyarakat Kalimantan Timur, para pengusaha, dan pemerintah daerah, mari kita sama-sama membangun Kaltim,” tambahnya.
Terkait proyeksi biaya, Rudy mengungkapkan kebutuhan anggaran sekitar Rp2 triliun untuk Samarinda dan sekitar Rp5 triliun untuk Balikpapan.
“Anggarannya masih dalam perencanaan, tapi prediksi kami untuk Samarinda sekitar Rp2 triliun, dan Balikpapan sekitar Rp5 triliun,” ungkapnya.
Gagasan proyek ini lahir dari peninjauan lapangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud dan Seno Aji, saat menyusuri alur Sungai Mahakam, sekitar 22 hari setelah dilantik. Dari tinjauan tersebut muncul ide memanfaatkan badan sungai sebagai koridor transportasi baru.
Saat ini, studi kelayakan masih berlangsung. Rudy menyebut kewenangan pengelolaan sungai berada di pemerintah provinsi, namun koordinasi dengan pemerintah kota akan terus dilakukan agar pembangunan sejalan dengan rencana penataan wilayah.
“Proyek ini menjadi kewenangan kami karena berada di Sungai Mahakam. Namun, koordinasi dengan pemerintah daerah tetap kami lakukan,” pungkasnya.(MK)
Editor: Agus S




