169 Anak di Bontang Terserang Campak, Alarm Serius Rendahnya Imunisasi

BONTANG – Wabah campak mulai menjadi ancaman serius di Kota Bontang. Penyakit yang selama ini dianggap penyakit lama itu kini kembali menyerang ratusan anak di Kota Taman, seiring masih rendahnya cakupan imunisasi di sejumlah wilayah.

Di balik meningkatnya kasus tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar: masih banyak orang tua yang belum melengkapi imunisasi anak mereka.

Ilustrasi anak-anak terserang campak. Foto: AI

Data Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang mencatat, hingga pertengahan April 2026 terdapat 169 kasus suspek campak. Angka itu menjadi sorotan karena sebagian besar penderitanya merupakan anak-anak.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 88,17 persen kasus ditemukan pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Kondisi ini langsung memicu kewaspadaan pemerintah daerah. Sebab campak bukan sekadar penyakit demam dan ruam biasa. Virus ini sangat mudah menular dan dapat memicu komplikasi serius, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah.

Kepala Diskes Bontang, Bachtiar Mabe mengatakan, tren kasus yang muncul saat ini berkaitan erat dengan rendahnya perlindungan imunisasi di masyarakat.

“Rata-rata yang terkena campak adalah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Ini yang menjadi fokus kami untuk sekarang ini,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga:  Kualitas Jadi Taruhan, 9 Dapur MBG di Bontang Disetop Sementara

Menurutnya, imunisasi memiliki peran penting membentuk kekebalan tubuh sekaligus menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok. Ketika cakupan vaksinasi rendah, penyebaran virus menjadi jauh lebih cepat.

“Kalau tidak diimunisasi, bukan hanya anak itu yang berisiko, tapi juga orang di sekitarnya karena tidak terbentuk kekebalan kelompok,” jelasnya.

Ancaman Nyata bagi Anak

Secara medis, campak merupakan infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan dan sangat mudah menyebar melalui udara saat penderita batuk atau bersin. Gejalanya biasanya diawali demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, lalu muncul ruam kemerahan di tubuh.

Meski terlihat seperti penyakit umum pada anak, campak dapat berkembang menjadi kondisi berbahaya apabila tidak ditangani dengan baik.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut campak menjadi salah satu penyakit paling menular di dunia. Bahkan satu penderita dapat menularkan virus kepada banyak orang yang belum memiliki kekebalan tubuh.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI beberapa kali mengingatkan adanya penurunan cakupan imunisasi dasar pascapandemi COVID-19. Kondisi itu membuat sejumlah daerah kembali mengalami peningkatan kasus campak dalam dua tahun terakhir.

Di Bontang, pemerintah kini berpacu mencegah penyebaran kasus agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.

Baca Juga:  Bidik Prestasi Lebih Tinggi di Porprov Paser 2026, KONI Bontang Tancap Gas Sejak Dini

Pemkot Mulai Bergerak

Pemerintah Kota Bontang mulai memperkuat langkah pencegahan dengan menggencarkan imunisasi campak secara serentak sejak April hingga Mei 2026.

Program tersebut menyasar anak-anak di seluruh wilayah kota melalui posyandu, puskesmas, hingga layanan kesehatan keliling.

Namun pemerintah mengakui, tantangan terbesar bukan hanya distribusi vaksin, melainkan masih adanya penolakan atau keraguan sebagian masyarakat terhadap imunisasi.

“Yang belum mau imunisasi kemungkinan belum memahami manfaatnya. Karena itu kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat,” kata Bachtiar Mabe.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan, seluruh jajaran kesehatan diminta aktif turun ke masyarakat untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap.

“Kita sudah sampaikan ke masyarakat untuk segera ke posyandu, agar anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap,” ujarnya.

Selain imunisasi, Pemkot Bontang juga melakukan intervensi kesehatan berupa pemberian vitamin A dosis tinggi kepada anak-anak sesuai rekomendasi dokter spesialis anak.

Langkah itu dilakukan untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh serta menekan risiko komplikasi berat.

“Untuk kasus campak kita sudah ada antisipasi. Kita lakukan intervensi, memberikan vitamin, dan terus mensosialisasikan agar masyarakat mengikuti imunisasi campak,” kata Neni.

Baca Juga:  Kuota BBM Surplus, tapi Tetap Mengular, Salah Siapa?

Ia menjelaskan, sebagian besar penderita dapat pulih apabila mendapatkan penanganan cepat dan memiliki kondisi tubuh yang baik. Namun komplikasi dapat terjadi pada anak dengan imunitas rendah.

“Kalau daya tubuhnya bagus, kita berikan vitamin, biasanya bisa sembuh. Akan tetapi kalau sampai terjadi komplikasi, biasanya terjadi kalau daya tahan tubuhnya lemah, bisa berdampak ke paru-paru dan lainnya,” imbuhnya.

Pantau Langsung ke Lapangan

Tak hanya mengandalkan layanan di fasilitas kesehatan, pemerintah juga meminta seluruh petugas puskesmas aktif melakukan pemantauan langsung ke lingkungan masyarakat.

Tenaga kesehatan diminta mendeteksi dini kasus campak, memberikan edukasi kepada orang tua, sekaligus memastikan anak-anak memperoleh layanan imunisasi.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penularan sedini mungkin, terutama di kawasan dengan cakupan imunisasi rendah.

Dengan berbagai upaya itu, Pemkot Bontang berharap lonjakan kasus campak dapat segera ditekan dan tidak meluas ke lebih banyak anak.

Sebab di tengah tingginya mobilitas masyarakat, satu kasus campak bisa dengan cepat menyebar menjadi ancaman kesehatan yang lebih besar. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam/Agus

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.