BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyatakan dengan tegas terkait dengan isu kekerasan yang melibatkan anak di bawah umur, agar tidak terlalu sering diekspos demi menjaga mental mereka.
Sebelumnya, dari data yang telah ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Polres Bontang merilis ada sebanyak 33 kasus yang melibatkan anak di bawah umur, mulai dari Januari hingga Juli 2025.
Dari kasus tersebut meliputi persetubuhan, pencabulan, kekerasan terhadap anak, perzinahan, penganiayaan, dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
“Karena Bontang ini kota yang kecil, dan mungkin di daerah lain lebih banyak tapi tidak terekspos. Maka saya bilang, untuk kasus-kasus seperti ini tidak perlu terlalu diekspos. Kasian anak-anak, jadi trauma,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Terlebih lagi dengan anak-anak yang menjadi korban dan sorotan publik, nantinya mempunyai trauma yang berkepanjangan, mengingat mental anak sangatlah penting, dimana jika ingatan sang anak masih merekam semua hal yang terjadi pada dirinya, akan mengakibatkan kondisi yang semakin memburuk.
Maka dari itu, Neni meminta ke dinas terkait untuk nantinya bisa melakukan program survei ke sekolah-sekolah, yang menyasar langsung pada para pelajar.
“Saya meminta nanti di perubahan, akan tetapi hal itu pasti ada dananya. Setiap program pemerintah, harus ada dana dan perencanaannya. Tidak bisa langsung dikerjakan tanpa perencanaan,” ungkapnya,” tutupnya. (Dwi/Adv)
Editor: Yusva Alam




