Dulu wartawan bisa deg-degan kalau Bambang Janu mulai evaluasi berita sore hari. Sekarang, sosok yang pernah keras di newsroom itu justru lebih sering berdiri di warung “Nasi Pecel Madiun Prasmanan” miliknya di Jalan MT Haryono Balikpapan.
Saya masih ingat bagaimana ritme kerja saat itu. Tahun 2006 sampai 2009, ketika saya masih aktif turun langsung ke lapangan sebagai wartawan, Bambang Janu adalah pemimpin redaksi sekaligus “bos” saya di Kaltim Post.
Orangnya disiplin. Sangat serius urusan produk redaksi. Dan yang paling saya ingat, dia hampir tidak pernah lepas memantau perencanaan berita.
Setiap pagi, ia sudah melihat berita apa saja yang harus ditindaklanjuti. Sore hari dicek lagi satu per satu. Wartawan dapat perkembangan atau tidak. Kalau belum dapat, evaluasinya bisa panjang.
Saat itu suasana newsroom memang terasa berbeda. Wartawan tidak cukup hanya setor berita. Semua harus dikejar. Kedalaman isu. Sudut pandang. Kelanjutan berita. Judul diperiksa. Angle dipertanyakan. Bahkan cara wartawan melihat persoalan ikut dibentuk.
Dan Jumat (15/5/2026) kemarin, saya kembali bertemu dengannya. Tapi bukan lagi di kantor media.
Saya bersama rombongan Media Kaltim Network Biro Balikpapan menyempatkan singgah ke usaha barunya di Jalan MT Haryono, tepat di belakang bangunan Auto 2000 Balikpapan.

Di kawasan yang di antaranya terdapat gudang, bengkel, hingga usaha cucian mobil itu, berdiri warung sederhana dengan konsep semi terbuka. Tidak terlalu besar. Meja kursinya masih sedikit. Bagian depannya langsung menghadap jalan. Sementara di sisi dalam terlihat meja prasmanan lengkap dengan penutup stainless yang tertata rapi.
Di situlah Bambang Janu kini menghabiskan waktunya. Warung nasi pecel itu baru dibuka awal Mei 2026 lalu.

Di depan warung masih terlihat karangan bunga dari komunitas IMBI Kaltim. Saya sempat tersenyum melihatnya. Biasanya karangan bunga seperti itu muncul saat ulang tahun media atau acara perusahaan. Kali ini, ucapan selamat itu datang untuk warung nasi pecel milik Bambang Janu. “Coba usaha kecilan-kecilan aja ini ketua,” katanya sambil tertawa.
Ia masih memanggil saya “ketua”. Kebiasaan sejak saya menjabat Ketua Bawaslu Bontang tahun 2017 lalu. Sampai sekarang panggilan itu masih melekat.
Penampilannya pun sekarang jauh lebih santai dibanding saat masih aktif memimpin media. Kemeja motif bunga, celana jeans, dan topi hitam yang hampir tidak pernah lepas dari kepalanya.
Bahkan saat saya hendak mengambil fotonya, ia sempat meminta waktu sebentar hanya untuk memakai topinya lebih dulu. “Sebentar dulu ketua, saya pakai topi dulu,” ucapnya sambil tertawa.
Saya jadi ikut tertawa. Karena memang sejak dulu Bambang Janu punya gaya khasnya sendiri. Dan rupanya sekarang topi sudah menjadi bagian dari penampilannya sehari-hari.
Meski suasananya santai, kebiasaannya memastikan semuanya rapi ternyata masih terlihat. Ia beberapa kali mengecek posisi lauk di meja prasmanan. Memastikan penutup makanan tertutup rapat. Sesekali memperhatikan pekerjanya saat melayani pembeli. Tiga pekerja dilibatkannya. Tidak ada hubungan keluarga. Semua profesional.
Bahkan untuk urusan pengelolaan warung, ia memilih turun langsung setiap hari. Ia belum ingin terlalu banyak menyerahkan pengelolaan kepada orang lain, termasuk istrinya sendiri. “Istri di rumah saja,” katanya.
Menurutnya, karena usaha itu masih baru, ia merasa harus terus melihat semuanya sendiri. “Masih baru buka. Saya harus tiap hari lihat,” ujarnya.

Cara berpikirnya rupanya masih sama seperti dulu. Semua ingin dipastikan berjalan rapi. Bahkan untuk sistem pembayaran pun sudah dibuat modern. Pembeli bisa langsung menggunakan pembayaran digital dan sistem online. “Ini mau saya jadikan laboratorium belajar. Siapa tahu nanti bisa berkembang lagi,” ujarnya.
Saat ini warungnya buka mulai pukul 10 pagi hingga 3 sore. Tapi ia sudah punya rencana lebih jauh. “Ke depan pengennya jadi kafe juga,” katanya.
Konsep pecelnya juga dibuat berbeda. Pengunjung bebas menambah bumbu sendiri sesuai selera. Lauknya lengkap. Ada ayam, paru, ati, telur, hingga peyek. “Biasanya orang makan kadang kurang bumbu atau kurang pedas. Nah di sini bisa nambah sendiri. Jadi saya siapkan dua bumbu, yang pedas dan sedang,” tuturnya. Ia sengaja menggunakan konsep prasmanan tertutup agar lebih higienis.
Saya melihat Bambang Janu memang sedang mencoba menjalani hidup yang benar-benar baru.
Setelah pensiun dari dunia media akhir 2024 lalu, perlahan ia mulai meninggalkan rutinitas yang puluhan tahun melekat dalam hidupnya. Kini ia kembali menekuni profesi lawyernya. Bersamaan dengan itu, ia juga mulai merintis usaha kuliner. “Pengen hal baru. Masa orang lain bisa, kita nggak bisa,” katanya.
Dan dari cara dia bercerita siang itu, saya melihat satu yang tidak berubah dari Bambang Janu. Dia bukan tipe orang yang gampang menyerah.
Ia juga bercerita, sejak tak lagi aktif di dunia media, justru banyak kawan-kawan lamanya kembali berdatangan. Salah satunya dari komunitas motor IMBI Kaltim.
Namanya kembali dimasukkan ke grup komunitas itu. Padahal, sekarang ia sudah tidak memiliki motor lagi. “Saya sudah bilang nggak punya motor,” katanya sambil tertawa.
Tapi rupanya teman-temannya tetap memaksanya ikut touring. “Tinggal ikut aja katanya. Motor disiapkan,” ujarnya lagi.
Obrolan siang itu akhirnya membawa kami kembali ke cerita-cerita lama soal media.
Bambang Janu lalu bercerita bagaimana dirinya dulu ditarik masuk ke jajaran manajemen Jawa Pos Group hingga akhirnya dipercaya menjadi General Manager yang membawahi pengembangan kualitas redaksi media-media daerah jaringan Jawa Pos di Indonesia.
Nama Bambang Janu memang cukup dikenal di lingkungan pers Kaltim dan Jawa Pos Group. Ia termasuk salah satu orang yang ikut membangun kultur newsroom media daerah saat jaringan Jawa Pos berkembang besar di berbagai daerah.
“Saya tiap hari evaluasi wartawan. Judulmu begini, anglemu begitu,” katanya sambil tertawa mengenang masa itu.

Ia bercerita bagaimana awal dirinya diminta pindah ke Surabaya juga terjadi tiba-tiba. Bahkan keputusan itu, menurutnya, muncul setelah rapat di Bali. “Saya juga kaget ditunjuk,” ujarnya.
Saat itu tugasnya tidak ringan. Ia harus berkeliling ke banyak daerah, melatih newsroom, mengevaluasi produk media, sampai mencari calon-calon redaktur dan pimpinan media daerah. Kurang lebih 11 tahun ia menjalani pekerjaan itu.
Tapi dari sekian banyak cerita yang disampaikan, ada satu hal yang paling lama dibahas: perubahan dunia jurnalistik saat ini.
Menurutnya, media sekarang terlalu cepat berubah karena pengaruh media sosial. “Wartawan sekarang banyak terpapar gaya medsos. Itu bahaya,” katanya.
Ia menilai banyak media online sekarang terlalu sibuk mengejar viral dan cepat tayang, tapi mulai meninggalkan kualitas jurnalistik. “Sudah nggak ada power-nya,” ucapnya.
Saya hanya mendengarkan. Karena saya melihat, Bambang Janu sebenarnya tidak banyak berubah. Orangnya masih rapi, masih suka memastikan semuanya berjalan baik, dan tetap senang mencoba hal baru.
Mungkin yang berubah sekarang hanya tempat kerjanya. Dulu sibuk memeriksa halaman koran. Kini lebih sering memastikan bumbu pecelnya pas untuk pembeli. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




