Kepergian Sudarmono dan Berakhirnya Perjalanan “Borneo Shoes” Keluarga Kami

Dulu saya sempat berjanji akan menulis cerita perjalanan itu lebih panjang.

Pada November 2025 lalu saya pergi ke Bali menjenguk kakak saya, Sudarmono. Waktu itu saya memang hanya menulis sedikit cerita tentang perjalanan tersebut. Saya bilang, mungkin suatu hari nanti akan saya tulis lebih lengkap.

Tapi saya tidak menyangka, tulisan itu akhirnya benar-benar saya lanjutkan setelah kakak saya meninggal dunia.

Sabtu (16/5) sore, saya baru tiba di Samarinda, dari Balikpapan usai menghadiri pernikahan Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing. Saya masih bersama klien Media Kaltim ketika telepon dari Jember masuk.

Saat itu waktu Magrib baru saja masuk. Telepon itu dari anaknya. “Mengabarkan, Bapak sudah tidak ada.”

Teleponnya tidak lama. Tapi setelah mendengar kabar itu, saya hanya bisa menarik napas panjang.

Pikiran saya langsung kembali ke Bali, November tahun lalu. Saat saya datang menjenguk kakak bersama istri, putri saya, dan kakak perempuan saya, Nani Suliati. Saya sendiri anak ke sepeluh dari sepuluh bersaudara.

Sudarmono sudah lama tinggal di Bali bersama istrinya. Ketika kami datang menjenguk, kondisinya memang sudah jauh berubah dibanding sebelumnya.

Tubuhnya terlihat lebih kurus. Wajahnya pucat. Tapi seperti biasanya, ia tetap berusaha menyambut kami dengan hangat dan mencoba tersenyum.

Nada bicaranya mulai pelan. Sesekali terlihat menahan lelah. Tapi sore itu ia tetap berusaha menemani kami duduk dan mengobrol cukup lama bersama istrinya.

Baca Juga:  Meriah di Jantung IKN, Ribuan Peserta Ramaikan Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025

Sebagai adik, waktu itu saya masih menyimpan harapan kalau kesehatannya bisa membaik.

Sekarang saya baru sadar, ternyata itu memang salah satu pertemuan terakhir kami.

Satu tahun terakhir kakak saya memang berjuang melawan penyakit yang divonis kanker. Operasi sebenarnya sudah beberapa kali disarankan dokter. Tapi risikonya terlalu besar sehingga terus ditunda.

Istrinya kemudian membawanya pulang ke Jember untuk menjalani perawatan bersama keluarga. Harapannya, kesehatannya bisa membaik.

Namun beberapa hari terakhir kondisinya terus menurun. Operasi akhirnya tetap dilakukan karena ada bagian usus yang bermasalah dan harus dipotong.

Setelah itu kesehatannya tidak lagi stabil. Dan akhirnya Allah memanggilnya pulang.

Malam itu juga saya memutuskan berangkat ke Jember. Saya ingin mengantar kakak saya untuk terakhir kalinya.

Saya dan istri berangkat dari Balikpapan menggunakan penerbangan pagi pukul 06.00 WITA menuju Surabaya. Sebelum berangkat, saya juga sudah menghubungi kakak perempuan saya, Any Sulistyowati, di Bangil yang akan ikut bersama kami ke Jember.

Setibanya di Bandara Juanda Surabaya, driver dari Trac sudah menunggu kami di area parkir bandara. Saya memang sudah menyiapkan kendaraan sewaan sebelumnya agar perjalanan lebih mudah dan tidak perlu mencari transportasi lagi setibanya di sana.

Dari Surabaya, kami lebih dulu menjemput kakak saya di Bangil. Saat itu ia sudah menunggu bersama suaminya.

Baca Juga:  Takjil di Kantor Gubernur dan Pelajaran Kepemimpinan Umar

Di tengah perjalanan, kami mendapat kabar jenazah kakak saya sudah dimakamkan pukul 09.00 pagi. Akhirnya kami langsung menuju makam.

Saya dan keluarga saat berdoa di makam kakak saya, Sudarmono, di Jember. Foto: Istimewa

Saat tiba, istri dan anak kakak saya masih berada di sana. Tanah makamnya masih basah. Bunga tabur juga masih terlihat baru ditebar.

Saya berdiri cukup lama di dekat makam kakak saya. Saya dan keluarga kemudian duduk di dekat pusara sambil membaca doa bersama.

Di situ saya kembali teringat perjalanan keluarga kami dulu.

Kami berasal dari keluarga sederhana. Tahun 1987, keluarga kami hijrah dari Malang ke Balikpapan dibawa kakak tertua kami yang lebih dulu merantau.

Awalnya kami tinggal di kawasan Gunung Belah. Orang tua kami kemudian merintis usaha sepatu custom rumahan yang diberi nama “Borneo Shoes”.

Selama di Balikpapan, usaha “Borneo Shoes” juga beberapa kali berpindah tempat. Setelah dari Gunung Belah, kami pindah ke kawasan Jalan Cemara, lalu berlanjut ke Jalan RE Martadinata, Jalan Gunung Sari, hingga kawasan Markoni.

Di situlah usaha itu mulai berkembang dan menjadi penopang hidup keluarga kami selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanan itu pula, kedua orang tua kami meninggal dunia lebih dulu. Usaha keluarga akhirnya diteruskan kakak saya, Heru Sukamto, bersama keluarganya di kawasan Jalan RE Martadinata.

Dua kakak laki-laki saya memang ikut belajar membuat sepatu. Salah satunya Heru Sukamto yang kemudian meneruskan usaha keluarga tersebut. Sedangkan Sudarmono memilih hijrah ke Bali.

Baca Juga:  Saat Kritik Dibalas Doxxing, Siapa Melindungi Ruang Demokrasi Kita?

Saya sendiri justru satu-satunya anak laki-laki yang tidak pernah bisa membuat sepatu.

Waktu ternyata berjalan terlalu cepat.

Satu per satu kakak saya pergi. Kakak keenam saya Yuli Setiyowati meninggal beberapa tahun lalu. Sebelum Covid, Heru Sukamto menyusul. Saat pandemi, kakak kelima kami Ari Sulistiani juga meninggal dunia.

Dan kini, Sudarmono.

Tidak ada lagi penerus “Borneo Shoes” di keluarga kami.

Usaha yang dulu menjadi penopang hidup keluarga itu kini tinggal cerita.

Dari sepuluh bersaudara, sekarang kami tinggal berempat. Kakak tertua saya Yuli Astuti di Kubar. Kakak perempuan saya Any Sulistyowati di Bangil. Kakak perempuan saya Nani Suliati di Balikpapan. Dan saya sendiri.

Waktu memang berjalan cepat.

Satu per satu kakak saya pergi lebih dulu. Dan sekarang tinggal kami yang meneruskan hidup dengan kenangan yang masih tersisa.

Kini kakak saya, Sudarmono, sudah tenang.

Tulisan yang dulu sempat saya janjikan saat perjalanan ke Bali itu akhirnya saya selesaikan juga. Hanya saja, saya tidak pernah membayangkan akan menuliskannya setelah kakak saya benar-benar pergi.

Selamat jalan, Kakak Sudarmono.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.