SENDAWAR — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Barat melalui Dinas Perhubungan Kutai Barat menggelar kegiatan sosialisasi kendaraan angkutan barang yang berkeselamatan serta sistem dan tata cara pengereman pada kendaraan berukuran besar untuk sektor perkebunan, pertambangan, kehutanan, dan sektor lainnya.
Kegiatan tersebut berlangsung di Lamin Kenyah Taman Budaya Sendawar, Kecamatan Barong Tongkok, Kamis (21/5/2026), dan secara resmi dibuka Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah sekaligus Kepala Diskominfo Kutai Barat, Yuli Permata Mora.
Dalam sambutannya, Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Hubdat, Yusuf Nugroho melalui Kepala BPTD Kelas II Kaltim, Renhard Ronald mengungkapkan angka kecelakaan yang melibatkan kendaraan angkutan barang masih cukup tinggi.
Berdasarkan data Korps Lalu Lintas Polri, keterlibatan angkutan barang dalam kecelakaan lalu lintas mencapai 29.174 unit sepanjang 2025. Jenis kendaraan yang paling dominan yakni medium truck dan pick-up.
“Pelanggaran dimensi dan muatan kendaraan serta kegagalan sistem pengereman menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Renhard Ronald menyebut hampir 11 persen kecelakaan pada 2024 dipicu kegagalan sistem pengereman atau rem blong. Karena itu, perusahaan angkutan diminta lebih serius menerapkan pemeriksaan kendaraan, uji berkala atau KIR, hingga pelatihan bagi pengemudi.
“Keselamatan bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi investasi untuk melindungi aset usaha dan nyawa manusia,” jelasnya.
Sementara itu, sambutan Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin yang dibacakan Yuli Permata Mora menyampaikan bahwa beberapa ruas jalan mengalami kerusakan lebih cepat akibat kendaraan dengan muatan melebihi kapasitas.
Hal tersebut menjadi perhatian bersama karena jalan dibangun menggunakan anggaran negara dan daerah.
Aktivitas kendaraan besar di Kutai Barat terus meningkat seiring berkembangnya sektor pertambangan, perkebunan, industri, dan distribusi logistik. Di sisi lain, tingginya intensitas kendaraan berat di jalan umum memunculkan persoalan keselamatan dan ketahanan infrastruktur.
“Pemerintah daerah mendukung penuh implementasi Zero ODOL 2027 karena program tersebut bertujuan menciptakan sistem transportasi jalan yang lebih aman, tertib dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain persoalan muatan berlebihan, Pemkab Kutai Barat juga menyoroti lemahnya aspek keselamatan teknis kendaraan, khususnya sistem pengereman kendaraan besar. Kegagalan rem dinilai masih menjadi salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama di jalur menanjak dan menurun.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai orientasi keuntungan ekonomi mengabaikan keselamatan pengemudi maupun pengguna jalan lainnya,” pungkasnya. (MK)
Pewarta: Ichal
Editor: Agus S




