SAMARINDA – Konvensi Media Siber 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Wartawan Legend Bedapatan ke-4 menghadirkan berbagai diskusi mengenai masa depan pers dan tantangan dunia jurnalistik di era digital. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Claro Pandurata Samarinda, Sabtu (13/6/2026), itu diikuti insan pers, pengelola media siber, akademisi, serta pegiat komunikasi dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah diskusi bertajuk “Jurnalistik vs Media Sosial di Provinsi Kaltim” dengan narasumber Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Muhammad Faisal.
Dalam pemaparannya, Faisal menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Jika sebelumnya media massa menjadi rujukan utama, kini media sosial berkembang menjadi ruang publik yang sangat berpengaruh dalam membentuk opini dan persepsi masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut insan pers untuk semakin adaptif tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik yang menjadi fondasi utama profesi. Keakuratan data, verifikasi fakta, keberimbangan informasi, serta tanggung jawab kepada publik harus tetap menjadi pembeda antara produk jurnalistik dan konten yang beredar bebas di media sosial.
Faisal menjelaskan tingginya penggunaan media sosial juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya penyebaran informasi yang belum tentu benar. Hoaks, disinformasi, manipulasi konten, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk membuat informasi palsu menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Ia menekankan bahwa kepercayaan publik merupakan aset terbesar media. Karena itu, media siber tidak cukup hanya bersaing dalam kecepatan pemberitaan, tetapi juga harus mampu menjaga kualitas dan integritas informasi yang disajikan kepada masyarakat.
“Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan media yang mampu menjadi rujukan terpercaya. Di sinilah peran pers profesional menjadi semakin penting,” ujarnya.
Faisal juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perusahaan media, perguruan tinggi, hingga masyarakat untuk memperkuat literasi digital. Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan yang berpotensi memicu konflik sosial.
Menurutnya, kolaborasi yang baik antara media dan masyarakat akan menciptakan ruang digital yang lebih sehat sekaligus menjaga kondusivitas dan harmoni sosial di Kalimantan Timur.
“Literasi digital harus menjadi gerakan bersama. Dengan masyarakat yang semakin cerdas dalam memilah informasi, ruang digital akan menjadi lebih sehat dan produktif,” katanya.
Konvensi Media Siber 2026 yang digelar dalam rangkaian Wartawan Legend Bedapatan ke-4 menjadi momentum bagi insan pers untuk memperkuat komitmen menghadirkan informasi berkualitas, meningkatkan profesionalisme, serta menjaga kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi digital. (MK)
Penulis: Hanafi
Editor: Agus S.




