Ter?

Catatan:
SB Silaban

40 persen kios dan lapak masih kosong.
Pembeli tak sesuai harapan. Omzet kecil. Syukur-syukur kalau cukup untuk makan.

Itulah kabar tentang Pasar Pagi (baru) Samarinda. Bangunannya megah sekali untuk kelas pasar. Tujuh lantai. 2.500 kios dan lapak. Eskalator. Eksterior yang cukup menarik.

Baru-baru ini, ketua dan anggota sebuah komisi di DPRD Samarinda berkeliling di sini. Empat jam. Kesimpulan sementara: pasar ini belum memberi hasil secara signifikan bagi (sebagian besar) pedagang.

Sejak awal, saya termasuk yang heran kenapa Pasar Pagi dibangun dalam skala yang sekarang. Dengan biaya hampir Rp500 miliar. Saya membatin: untuk apa? Kenapa tak merenovasi total 3-4 pasar lainnya? Agar konsumen tak menumpuk di situ.

Saat membaca rencana pembangunannya beberapa tahun lalu, saya terpikir tentang perubahan pola belanja masyarakat yang sebagian bergeser ke belanja online.

Lalu: kebutuhan menyebarkan lebih banyak pusat belanja di antara 10 kecamatan di kota ini. Kaitannya dengan memecah kepadatan agar tak menumpuk di titik tertentu.

Baca Juga:  Jasad Pria Berkaos Hitam Dievakuasi ke RSUD AWS Samarinda

Beberapa bulan lalu, Pasar Pagi pun selesai dibangun. Setelah ditempati, dalam tiga bulan terakhir, tiap kali ada pemberitaan tentang Pasar Pagi, di luar kisruh pembagian kios dan lapak, saya agak jarang menemukan apresiasi seperti ini: Bangunan baru pasti mendatangkan cuan lebih besar. Pasar begini yang dibutuhkan masyarakat. Pas untuk perkembangan kota. Dan lain-lain dengan apresiasi senada itu.

Tentu terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kondisi “kurang cuan” saat ini akan terus begitu. Atau lebih jelek. Bisa saja tahun depan situasinya bikin sebagian besar pedagang tersenyum lebar.

Namun, jika yang terjadi adalah kondisi stagnan dan situasi kurang cuan terus berlangsung, Pasar Pagi tampaknya akan menjadi catatan minus bagi Andi Harun sebagai wali kota.

Pasar Pagi yang megah, yang diharapkan sebagai landmark Samarinda, justru bisa menjadi penanda buram era Andi Harun yang menjabat sejak 2020.

Saya hampir yakin, Andi Harun pasti ingin dikenang lewat warisannya ini. Seperti juga Terowongan Samarinda. Dua proyek Andi Harun dengan biaya terbesar.

Baca Juga:  Asti Mazar Soroti Belum Meratanya Pos Damkar di Kutim

Saya kerap membayangkan, Samarinda punya 3-4 pasar yang mantap. Bangunan maupun fasilitasnya. Selain Pasar Pagi (yang tak perlu sebesar itu), satu di Samarinda Utara dan satu lagi di Samarinda Seberang.

Kenapa? Agar jangkauan publik lebih mudah. Yang di Samarinda Seberang untuk konsumen hingga ke Loa Janan dan Palaran, yang di Samarinda Utara menjangkau hingga 2-3 kecamatan terdekat. Selain tentu, merenovasi Pasar Segiri agar layak sebagai pasar di ibu kota provinsi.

Andi Harun dan jajarannya harus bekerja keras untuk membuat Pasar Pagi benar-benar hidup.

Dengan cara apa? Biarlah mereka yang berpikir, tak perlu pembaca Media Kaltim.

Satu hal: Pemkot Samarinda tampaknya tak belajar dari kegagalan Pasar Pandan Sari Balikpapan. Dibangun hingga menjadi lima lantai, yang “laku” hanya dua lantai. Pedagang ogah ke lantai 3 dan seterusnya, apalagi pembeli.

Saya khawatir Pasar Pagi Samarinda itu berkategori: T.
Terlalu terlambat hadir. (Saat belanja online sudah jadi kebiasaan).
Terlalu besar. (Biaya perawatannya tak murah).
Terlalu menuruti kemauan yang punya gawe.

Baca Juga:  Jalur Mudik Kutim Kerap Diguyur Hujan, Kapolres Minta Pengendara Waspada

Oh ya, tarif parkir di Pasar Pagi juga mahal. Jauh di atas tarif di mal-mal pada umumnya. Rp10 ribu untuk motor, mobil Rp25.000. Truk? Rp35.000. Tarif yang bisa disimpulkan dengan satu kata: terlalu.

*/Praktisi jurnalistik

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.