Ada Apa dengan Bayan?

Bayan Resources bukan perusahaan batu bara yang sedang kesulitan. Produksinya puluhan juta ton. Labanya besar. Cadangannya melimpah. Infrastruktur tambangnya juga sudah terbangun.

Karena itu, saya cukup penasaran ketika muncul berita Haji Isam akan mengambil alih sekitar 62,2 persen saham perusahaan yang dibesarkan Low Tuck Kwong tersebut.

Saya telusuri informasinya, ternyata berbeda. Saya kemudian mendapat informasi dari orang yang cukup dekat dengan lingkungan Bayan. Menurut sumber itu, pembicaraan antara kedua pihak memang ada. Bahkan angka 62 persen itu juga sempat jadi pembicaraan.

Tetapi bukan berarti saham tersebut sudah atau akan dilepas.

Nilainya terlalu besar. Jika mengacu kapitalisasi pasar Bayan yang mencapai ratusan triliun rupiah, transaksi pengambilalihan 62 persen tentu membutuhkan dana luar biasa besar.

Sampai sekarang juga tidak ada informasi akurat yang menyebut Low Tuck Kwong dan pemegang saham lainnya akan melepas kendali Bayan.

Jadi, kabar Haji Isam mengakuisisi 62,2 persen Bayan belum bisa disebut sebagai fakta.

Yang justru menarik adalah cerita lain di balik pembicaraan tersebut.

Sumber yang sama menyebut aset tambang Bayan di Kutai Timur telah masuk dalam transaksi dengan kelompok Haji Isam. Informasi ini jauh lebih spesifik. Termasuk adanya perubahan terhadap pekerja dan aktivitas kontraktor di lapangan.

Saya belum memperoleh konfirmasi resmi dari Bayan maupun pihak Haji Isam mengenai transaksi tersebut. Karena itu, informasi ini tentu masih harus diverifikasi nanti.

Tetapi jejak asetnya bisa ditelusuri. Bayan memiliki PT Perkasa Inakakerta (PIK) di Kutai Timur (Kutim). Data publik terakhir masih mencatat Bayan menguasai 100 persen perusahaan tersebut. PIK memegang konsesi batu bara seluas 19.050 hektare.

Baca Juga:  Pers Kaltim di Era Digital (1): BRIN Ungkap Ancaman AI dan Hilangnya Kepercayaan Publik

Luasnya sekitar 190 kilometer persegi. Masa izinnya tercatat hingga Maret 2037.

Lokasinya berada di Kutim dengan tiga blok utama, yakni Sepaso, Beruang dan Narut. Batu bara yang dihasilkan berjenis sub-bituminous dengan nilai kalori sekitar 4.600–4.700 kcal/kg GAR.

PIK juga bukan sekadar lubang tambang. Bayan sudah membangun sistem logistiknya. Batu bara dari tambang dibawa ke fasilitas pemuatan sendiri sebelum dikirim langsung kepada pembeli. Bayan sendiri menyatakan batu bara PIK dikirim melalui fasilitas independen milik proyek tersebut.

Menariknya, hingga 2024 PIK sebenarnya masih bergerak. Produksinya bahkan naik 19,9 persen dibandingkan 2023. Kontraktor utama baru, PT Antareja Mahada Makmur, masuk pada kuartal pertama 2024. Eksplorasi juga masih dilakukan dan direncanakan berlanjut pada 2025.

Sumber saya menyebut telah terjadi pengurangan aktivitas produksi. Dampaknya mulai terasa kepada pekerja. Ada pekerja kontrak yang tidak diperpanjang. Ada pula karyawan yang ditawari pensiun dini.

Jumlah yang terdampak disebut besar. Belum lagi pekerja outsourcing dan perusahaan subkontraktor yang menggantungkan pekerjaan dari aktivitas tambang Bayan.

Beberapa alat berat subkontraktor juga disebut mulai banyak menganggur.

Sekali lagi, angka pekerja yang terdampak dan kaitannya dengan dugaan transaksi belum mendapat konfirmasi resmi. Tetapi informasi itu cukup penting untuk kami telusuri.

Apalagi pembicaraan mengenai masa depan batu bara sebenarnya sudah muncul dalam coaching clinic redaksi kami, Sabtu (15/8) lalu.

Kami cukup panjang membahas kondisi bisnis batu bara, terutama berbagai kebijakan pemerintah yang belakangan semakin mempersempit ruang gerak perusahaan tambang. Isu tersebut sebelumnya juga sudah kami sajikan dalam liputan khusus.

Kaltim memang tidak bisa jauh dari cerita batu bara.

Baca Juga:  Speak Up Rita Widyasari Setelah Bebas (11): Sembilan Tahun Berlalu, Rita Masih Ingat Nama-Nama Wartawan

Ketika produksinya naik, daerah ikut menikmati. Ketika perusahaan mengerem produksi, dampaknya juga cepat terasa. Bukan hanya kepada perusahaan tambang. Ada pekerja, kontraktor, rental alat berat, transportasi, pelabuhan, rumah makan hingga usaha kecil yang hidup di sekelilingnya.

Tekanan terhadap industri ini sekarang memang semakin besar.

“Pesta” harga 2021–2022 sudah berlalu. Harga batu bara turun dari puncaknya. Pemerintah semakin ketat mengendalikan produksi melalui RKAB. Kewajiban pasar domestik tetap harus dipenuhi. Ekspor diawasi. Pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam juga diperketat.

Apakah pemerintah sedang membunuh industri batu bara?

Saya kira terlalu jauh kalau menyimpulkan seperti itu. Pemerintah tentu punya kepentingan menjaga cadangan, kebutuhan domestik, harga, penerimaan negara dan devisa.

Tetapi apakah berbagai kebijakan tersebut membuat pengusaha batu bara semakin berat bergerak? Jelas iya.

Bayan pun tampaknya membaca perubahan itu.

Namun, bukan berarti perusahaan ini sedang bersiap meninggalkan batu bara.

Justru mesin terbesar Bayan sekarang berada di Tabang-Pakar, Kutai Kartanegara. Kompleks inilah yang menjadi tulang punggung produksi perusahaan. Secara keseluruhan, Bayan memiliki 5 PKP2B dan 16 IUP dengan total konsesi lebih dari 126 ribu hektare di Kaltim dan Kalsel.

Pada 2025, produksi Bayan mencapai sekitar 68 juta ton. Sebagian sangat besarnya berasal dari Tabang.

Di kawasan itulah Bayan membangun infrastruktur dalam skala besar. Jalan angkut, conveyor, fasilitas pemuatan hingga jaringan logistik yang terhubung dengan Balikpapan Coal Terminal.

Jadi kalau Bayan benar melepas aset tertentu di Kutai Timur, saya melihatnya belum tentu sebagai tanda perusahaan tersebut mundur dari batu bara.

Bisa saja yang sedang dilakukan adalah konsolidasi.

Baca Juga:  Famget Media Kaltim Network (3–Habis): Luncurkan Logo HUT ke-6 Media Kaltim, CONSIXTEN

Melepas aset yang dianggap bukan lagi inti, mengurangi beban operasi, kemudian memusatkan modal dan produksi pada tambang yang lebih besar dan lebih efisien.

Ada informasi lain yang juga membuat saya tertarik.

Sumber saya menyebut Bayan sedang menyiapkan kawasan konservasi cukup besar di Tabang. Luasnya disebut mencapai ratusan hektare dan izin konservasinya dikabarkan sudah ada.

Konsepnya bukan hanya kawasan konservasi tertutup. Kawasan tersebut disebut akan dikembangkan seperti kebun binatang atau pusat konservasi yang nantinya dapat dikunjungi masyarakat. Beberapa satwa juga disebut akan ditempatkan di sana, termasuk beruang madu dan gajah.

Informasi ini belum saya temukan secara lengkap dalam dokumen publik Bayan. Karena itu, saya belum bisa memastikan luas, bentuk izin maupun konsep akhirnya.

Artinya, Bayan juga mulai menyiapkan pemanfaatan lahan di luar kegiatan pertambangan.

Low Tuck Kwong membangun Bayan puluhan tahun. Hari ini perusahaan itu masih memiliki tambang besar, produksi tinggi dan infrastruktur sendiri.

Haji Isam memang dikabarkan berbicara dengan Bayan. Tetapi informasi yang saya peroleh, pembicaraan itu tidak berujung pada pelepasan 62 persen saham.

Justru aset Bayan di Kutai Timur yang sekarang menarik untuk ditelusuri. Apakah benar sudah berpindah tangan? Berapa nilainya? Dan bagaimana nasib pekerja serta kontraktor yang selama ini hidup dari tambang tersebut?

Jika Bayan benar melepas aset di Kutim, memusatkan produksi di Tabang dan mulai menyiapkan kawasan konservasi, saya melihat ada perubahan strategi yang sedang berjalan.

Jadi, persoalannya bukan lagi siapa membeli Bayan. Tetapi, ke mana Bayan akan dibawa ketika bisnis batu bara tidak lagi semudah dulu. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.