Saya sebenarnya mendapat undangan khusus menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor H. Ahmad Aznem, S.E., M.Si. di Universitas Mulawarman (Unmul), Selasa (18/8/2026). Sayangnya, belum bisa hadir karena masih banyak urusan di Bontang.
Meski demikian, saya tahu persis bagaimana perjalanan akademik Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang ini.
Beberapa kali gagasan yang menjadi bagian dari riset doktornya kami muat di MediaKaltim.com. Karena itu, ketika Pak Aznem membagikan video penyerahan ijazah di grup WhatsApp, saya langsung menontonnya.
Tuntas sudah perjuangan akademiknya. Ahmad Aznem resmi menyandang gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Doktor Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman.
Hasilnya juga istimewa. Dalam pembacaan berita acara sidang terbuka disebutkan, Ahmad Aznem memperoleh indeks prestasi kumulatif selama pembelajaran 3,96.
Nilai ujian tertutup 3,95, sedangkan pada ujian terbuka ia meraih nilai sempurna 4,00. Nilai akhir IPK-nya 3,97 dengan predikat cumlaude atau dengan pujian. Lebih istimewa lagi, program doktor itu diselesaikannya hanya dalam waktu dua tahun delapan bulan.
“Sekali lagi selamat kepada saudara Doktor Ahmad Aznem,” ucap Rektor Unmul Prof. Dr. H. Abdunnur, S.I.P., M.Si., ASEAN Eng. dalam prosesi sebelum penyerahan ijazah secara simbolis.
Dalam sidang tersebut juga disebutkan salah satu persyaratan akademiknya berupa publikasi jurnal internasional terindeks Scopus telah disubmit ke jurnal internasional Leadership in Education terbitan Inggris.
Yang menarik bukan hanya gelar doktor yang sekarang berada di depan namanya. Topik yang dipilih Aznem sangat dekat dengan pekerjaan yang selama ini dijalaninya di Bontang.
Disertasinya berjudul “Pengembangan Model Manajemen Sekolah dalam Pengelolaan Program Pertanian Terintegrasi untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga Siswa Sekolah Dasar di Kota Bontang”. Gagasan ini pernah beberapa kali kami angkat di MediaKaltim.com sebelum ia sampai ke meja ujian doktor.
Pada Juni lalu, Media Kaltim menurunkan tulisan mengenai FGD Ketahanan Pangan Masuk Sekolah yang mempertemukan kepala sekolah dasar se-Kota Bontang. Dari forum itu terlihat bahwa penelitian Aznem tidak berhenti sebagai konsep akademik.
Ia mencoba menghubungkan sekolah, pertanian, gizi anak dan ketahanan pangan keluarga. Konsep tersebut kemudian dikenal dengan Smartani Goes to School.
Sekolah ditempatkan sebagai titik awal. Anak-anak tidak hanya diajak menanam, tetapi mengenal bagaimana pangan diproduksi, dirawat, dipanen hingga dikonsumsi. Orang tua dan rumah tangga siswa kemudian menjadi bagian dari mata rantai berikutnya.
Modelnya disesuaikan dengan kondisi sekolah. SDN 009 Bontang Utara, misalnya, dikembangkan dengan hidroponik vertikal untuk menyiasati lahan sempit. SDN 005 Bontang Selatan menggunakan model akuaponik bioflok untuk karakter wilayah pesisir, sedangkan SDN 002 Bontang Barat dikembangkan melalui pembenihan dan kebun darat terbuka.
Ada pula konsep One Student One Polybag. Setiap siswa didorong memiliki media tanam sendiri agar kegiatan pertanian tidak berhenti di sekolah, tetapi bisa dibawa ke lingkungan keluarga.
Aznem pernah menulis sendiri gagasan tersebut di MediaKaltim.com melalui tulisan “Smartani Goes to School: Integrasi Pendidikan, Ketahanan Pangan, dan Neurosains Anak”.
Dalam tulisannya, ia menyoroti paradoks Bontang. Kota ini memiliki kekuatan ekonomi sebagai kota industri, tetapi sebagian kebutuhan pangan segarnya masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Jawa.
Ketergantungan itu membuat rumah tangga rentan ketika rantai distribusi terganggu akibat cuaca, persoalan logistik maupun fluktuasi harga. Persoalan pangan kemudian tidak berdiri sendiri karena berhubungan dengan kualitas konsumsi keluarga dan gizi anak.

Dari situlah gagasan membawa ketahanan pangan masuk ke sekolah menjadi relevan. Jadi, disertasi yang dipertahankan Aznem bukan semata untuk mengejar gelar doktor. Ada persoalan Bontang yang coba dijawab melalui penelitian.
Sidang terbuka berlangsung di Ruang Rapat 1 Lantai 3 Rektorat Universitas Mulawarman, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA.
Komposisi dewan pengujinya juga menarik. Rektor Universitas Mulawarman Prof. Dr. H. Abdunnur, S.I.P., M.Si., ASEAN Eng. bertindak sebagai Ketua Dewan Penguji.
Ada pula anggota DPR RI asal Kaltim, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, yang kini menjabat Ketua Komisi X DPR RI. Hetifah hadir sebagai penguji eksternal dalam promosi doktor Aznem.
Dekan FKIP Unmul Prof. Dr. H. Susilo, M.Pd. juga menjadi penguji. Sedangkan Koordinator Program Studi S3 Manajemen Pendidikan FKIP Unmul Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum. bertindak sebagai promotor.
Dr. H. Usfandi Haryaka, M.Pd. menjadi kopromotor. Tim penguji lainnya terdiri dari Prof. Dr. H. Muh Amir Masruhin, M.Kes.; Prof. Dr. Hj. Widyatmike Gede Mulawarman, M.Hum.; serta Dr. H. Ahmadi, M.Kes.
Bukan hanya jajaran akademisi yang hadir. Sejumlah tokoh Bontang ikut menyaksikan langsung sidang terbuka tersebut. Di antaranya Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
Hadir pula mantan Wali Kota Bontang yang kini menjadi anggota DPD RI asal Kalimantan Timur, Sofyan Hasdam, yang merupakan suami Neni.
Kehadiran Neni dan Sofyan Hasdam tentu menjadi perhatian tersendiri. Keduanya ikut menyaksikan salah satu fase penting perjalanan akademik Aznem, yang selama ini menjadi bagian dari jajaran Pemkot Bontang.
Setelah seluruh proses sidang selesai, keputusan dibacakan. Aznem dinyatakan lulus. Ijazah kemudian diserahkan secara simbolis. Sejak saat itu, lengkap sudah gelar di depan namanya: Dr. H. Ahmad Aznem, S.E., M.Si.
Sehari setelah sidang, ucapan selamat juga terus berdatangan di grup WhatsApp. “Selamat dan sukses untuk Mas Asnem KKSS. Semoga ilmunya bermanfaat dan berkah, aamiin,” tulis salah seorang anggota grup.
Ada pula yang memberikan ucapan, “Selamat dan sukses untuk Ketua. Semoga ilmunya bermanfaat bagi masyarakat dan negara serta penuh keberkahan, aamiin.”
Wajar kalau banyak yang ikut senang. Selain sebagai pejabat Pemkot Bontang, Aznem selama ini juga aktif di tengah masyarakat. Ia merupakan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Bontang.
Selamat, Pak Doktor Ahmad Aznem.
Gelar itu tentu membanggakan. Apalagi diraih dengan IPK 3,97 dan pendidikan yang bisa dituntaskan hanya dalam dua tahun delapan bulan. Tetapi yang lebih penting setelah ini adalah bagaimana model yang sudah ditelitinya benar-benar hidup di sekolah-sekolah Bontang.
Jika berhasil, disertasinya tidak hanya akan tersimpan di perpustakaan kampus. Anak-anak Bontang yang menanam, merawat dan memanen pangannya sendiri justru akan menjadi bukti paling nyata dari penelitian itu. (*)
Oleh: Agus Susanto




