Mengenang Kampung Adat Sade, 129 Rumah Hangus dalam Semalam

Dua tahun lalu, saya pernah berkeliling di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rumah-rumah beratap ilalang berdiri rapat. Lorong kecil membelah perkampungan. Di beranda rumah, kain tenun Sasak berwarna-warni dipajang dan dijual kepada wisatawan.

Saya datang ke Sade pada 5 Februari 2024, saat mengikuti Media Gathering Pertamina Hulu Energi di Lombok. Sade menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi.

Kampung ini memang berbeda. Dari depan sudah terlihat bangunan beratap ilalang. Masuk lebih dalam, rumah-rumah tradisional Suku Sasak berdiri berdekatan. Sebagian sudah berusia puluhan tahun. Bambu, kayu dan anyaman menjadi bagian utama bangunan.

Lantainya juga menarik perhatian. Pemandu menjelaskan lantai rumah dibuat dari tanah yang secara tradisional dirawat menggunakan campuran kotoran sapi atau kerbau.

PHOTO 2026 08 24 16 18 22
Rumah-rumah adat Sade dengan bangunan tradisional yang masih terjaga sebelum kebakaran. (Dok. Agus Susanto)

Di dalam kampung, aktivitas warga masih terasa kuat. Di salah satu rumah, saya melihat seorang perempuan duduk di depan alat tenun tradisional.

Tangannya terus bekerja menyusun benang menjadi kain. Di belakangnya, puluhan kain tenun berbagai motif dan warna memenuhi dinding.

Baca Juga:  Weekend, Jangan di Rumah Saja

Rumah bukan hanya tempat tinggal. Bagian depannya sekaligus menjadi tempat berdagang. Ada kain tenun, gelang, kalung, pakaian dan berbagai suvenir khas Lombok.

Wisatawan datang, melihat warga menenun, lalu berbelanja. Itulah Sade yang saya lihat pada 2024. Kampung yang hidup dari adat sekaligus pariwisata.

PHOTO 2026 08 24 16 18 22 1
Warga Sade menenun kain tradisional yang juga dijual kepada wisatawan. (Dok. Agus Susanto)

Ada satu lagi yang menarik perhatian saya saat berkeliling. Sebuah pohon tua tanpa daun berdiri di antara rumah-rumah adat. Warga mengenalnya sebagai Pohon Cinta. Pemandu bercerita, pohon itu dulu menjadi tempat bertemu muda-mudi Sade sebelum menjalani Merariq atau tradisi kawin lari masyarakat Sasak.

Selain pohon itu, ada satu hal yang masih saya ingat. Rumah-rumah di Sade berdiri rapat dengan atap ilalang kering yang tebal. Saya bahkan sempat bertanya soal risiko kebakaran.

Pemandu ketika itu bercerita kebakaran pernah terjadi pada satu rumah. Namun, warga dengan cepat melokalisasi api sehingga tidak merembet ke bangunan lain.

Tidak terpikir dua tahun kemudian kebakaran benar-benar datang dalam skala jauh lebih besar. Sabtu malam, 22 Agustus 2026, Kampung Adat Sade dilalap api.

Baca Juga:  Dingin, Tertib dan Gratis! Begini Rasanya Naik BCT Balikpapan yang Kini Mulai Jadi Andalan Warga

Kebakaran membesar dengan cepat. Rumah-rumah beratap ilalang satu per satu menjadi jalur rambatan api.

Puluhan mobil pemadam dikerahkan. Bantuan datang dari sejumlah daerah di Pulau Lombok. Pemadaman berlangsung berjam-jam hingga Minggu dini hari. Tidak ada korban jiwa. Tetapi kerusakannya sangat besar.

Data terakhir menyebut 129 rumah adat terbakar dan sekitar 320 warga terdampak. Kawasan yang setiap hari didatangi wisatawan berubah menjadi hamparan puing.

PHOTO 2026 08 24 16 18 23
Aktivitas wisatawan di antara deretan rumah tradisional Kampung Adat Sade sebelum kebakaran. (Istimewa)

Sehari setelah api padam, warga mulai membersihkan puing dan mencari barang yang masih bisa diselamatkan.

Penyebab kebakaran belum dipastikan. Polisi masih menyelidiki titik awal api, termasuk dugaan korsleting maupun api dari dapur.

Pemerintah memastikan Sade akan dibangun kembali. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bentuk dan ciri khas kampung adat tersebut tetap dipertahankan.

Pekerjaannya tentu tidak mudah. Bentuk rumah, atap ilalang, anyaman bambu hingga susunan permukiman menjadi bagian dari identitas Sade.

Di sisi lain, kebakaran ini menjadi pelajaran untuk memperkuat perlindungan terhadap kampung adat yang sebagian besar bangunannya menggunakan material mudah terbakar.

Baca Juga:  Rendi Pimpin PDIP, Aulia Merapat ke Gerindra: Jangan Biarkan Pemerintahan Kukar Limbung

Saya juga teringat Pohon Cinta yang saya lihat dua tahun lalu. Entah bagaimana kondisinya setelah api menghanguskan sebagian besar kampung.

PHOTO 2026 08 24 16 18 22 2
Pohon Cinta berdiri di antara rumah adat Sade sebelum kebakaran. Pohon tua ini dikenal dalam cerita tradisi Merariq masyarakat Sasak. (Istimewa)

Saya berharap suatu saat bisa kembali ke Sade. Melihat kampung itu kembali berdiri dan warga menjalani aktivitas seperti sebelumnya.

Sade akan dibangun kembali. Yang penting, ciri khasnya tetap terjaga dan kejadian seperti ini tidak terulang.

Oleh: Agus Susanto

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.