Dua tahun lalu, saya pernah berkeliling di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Rumah-rumah beratap ilalang berdiri rapat. Lorong kecil membelah perkampungan. Di beranda rumah, kain tenun Sasak berwarna-warni dipajang dan dijual kepada wisatawan.
Saya datang ke Sade pada 5 Februari 2024, saat mengikuti Media Gathering Pertamina Hulu Energi di Lombok. Sade menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi.
Kampung ini memang berbeda. Dari depan sudah terlihat bangunan beratap ilalang. Masuk lebih dalam, rumah-rumah tradisional Suku Sasak berdiri berdekatan. Sebagian sudah berusia puluhan tahun. Bambu, kayu dan anyaman menjadi bagian utama bangunan.
Lantainya juga menarik perhatian. Pemandu menjelaskan lantai rumah dibuat dari tanah yang secara tradisional dirawat menggunakan campuran kotoran sapi atau kerbau.

Di dalam kampung, aktivitas warga masih terasa kuat. Di salah satu rumah, saya melihat seorang perempuan duduk di depan alat tenun tradisional.
Tangannya terus bekerja menyusun benang menjadi kain. Di belakangnya, puluhan kain tenun berbagai motif dan warna memenuhi dinding.
Rumah bukan hanya tempat tinggal. Bagian depannya sekaligus menjadi tempat berdagang. Ada kain tenun, gelang, kalung, pakaian dan berbagai suvenir khas Lombok.
Wisatawan datang, melihat warga menenun, lalu berbelanja. Itulah Sade yang saya lihat pada 2024. Kampung yang hidup dari adat sekaligus pariwisata.

Ada satu lagi yang menarik perhatian saya saat berkeliling. Sebuah pohon tua tanpa daun berdiri di antara rumah-rumah adat. Warga mengenalnya sebagai Pohon Cinta. Pemandu bercerita, pohon itu dulu menjadi tempat bertemu muda-mudi Sade sebelum menjalani Merariq atau tradisi kawin lari masyarakat Sasak.
Selain pohon itu, ada satu hal yang masih saya ingat. Rumah-rumah di Sade berdiri rapat dengan atap ilalang kering yang tebal. Saya bahkan sempat bertanya soal risiko kebakaran.
Pemandu ketika itu bercerita kebakaran pernah terjadi pada satu rumah. Namun, warga dengan cepat melokalisasi api sehingga tidak merembet ke bangunan lain.
Tidak terpikir dua tahun kemudian kebakaran benar-benar datang dalam skala jauh lebih besar. Sabtu malam, 22 Agustus 2026, Kampung Adat Sade dilalap api.
Kebakaran membesar dengan cepat. Rumah-rumah beratap ilalang satu per satu menjadi jalur rambatan api.
Puluhan mobil pemadam dikerahkan. Bantuan datang dari sejumlah daerah di Pulau Lombok. Pemadaman berlangsung berjam-jam hingga Minggu dini hari. Tidak ada korban jiwa. Tetapi kerusakannya sangat besar.
Data terakhir menyebut 129 rumah adat terbakar dan sekitar 320 warga terdampak. Kawasan yang setiap hari didatangi wisatawan berubah menjadi hamparan puing.

Sehari setelah api padam, warga mulai membersihkan puing dan mencari barang yang masih bisa diselamatkan.
Penyebab kebakaran belum dipastikan. Polisi masih menyelidiki titik awal api, termasuk dugaan korsleting maupun api dari dapur.
Pemerintah memastikan Sade akan dibangun kembali. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bentuk dan ciri khas kampung adat tersebut tetap dipertahankan.
Pekerjaannya tentu tidak mudah. Bentuk rumah, atap ilalang, anyaman bambu hingga susunan permukiman menjadi bagian dari identitas Sade.
Di sisi lain, kebakaran ini menjadi pelajaran untuk memperkuat perlindungan terhadap kampung adat yang sebagian besar bangunannya menggunakan material mudah terbakar.
Saya juga teringat Pohon Cinta yang saya lihat dua tahun lalu. Entah bagaimana kondisinya setelah api menghanguskan sebagian besar kampung.

Saya berharap suatu saat bisa kembali ke Sade. Melihat kampung itu kembali berdiri dan warga menjalani aktivitas seperti sebelumnya.
Sade akan dibangun kembali. Yang penting, ciri khasnya tetap terjaga dan kejadian seperti ini tidak terulang.
Oleh: Agus Susanto




