Weekend, Jangan di Rumah Saja

Setelah Weekend edisi pertama terbit pekan lalu, saya semakin yakin bahwa sebenarnya kita tidak kekurangan tempat menarik. Kita hanya sering tidak tahu. Atau tahu, tetapi belum pernah datang.

Di edisi kedua Weekend yang terbit pekan ini, saya menemukan banyak hal seperti itu. Misalnya, Pulau Miang.

Saya sudah cukup lama tinggal di Kalimantan Timur (Kaltim). Kutai Timur (Kutim) juga bukan daerah yang asing. Malah hanya sekitar 1 jam dari Bontang, tempat saya tinggal.

Tetapi ketika tim menyiapkan bahan tentang Pulau Miang di Kecamatan Sangkulirang, saya justru ikut membaca lebih jauh.

Ternyata pulau kecil ini punya banyak cerita. Lautnya jernih. Ada terumbu karang, mangrove, kehidupan nelayan, homestay, sampai jejak sejarah pengeboran minyak peninggalan Belanda.

Wisatawan bisa snorkeling, diving, bermain kano, memancing, atau menikmati kehidupan kampung di tengah laut.

Ada satu lagi yang membuat Pulau Miang semakin menarik. Hiu paus.

Satwa laut berukuran besar itu beberapa kali muncul di perairan sekitar Pulau Miang. Bahkan, informasi yang dihimpun Pemkab Kutim menyebut pernah terlihat sekitar enam hingga tujuh ekor di kawasan tersebut.

Minggu, 17 Agustus nanti, ada rencana yang menurut saya cukup menarik.

Dinas Pariwisata Kaltim yang juga didukung MediaKaltim.com akan menggelar pengibaran Merah Putih di bawah laut Pulau Miang. Sekitar 12 penyelam akan membawa bendera ke kedalaman sekitar 5–10 meter.

“Kalau beruntung, hiu paus bisa muncul ketika kegiatan berlangsung. Dan tim masih yakin bahwa akan ada hiu. Maka kita mulai di tanggal 15 sudah di lokasi,” kata Muhammad Faisal, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, beberapa waktu lalu saat kami bertemu di ruangannya.

Tentu tidak ada yang dapat memastikan hiu paus datang tepat ketika bendera dikibarkan. Kalau muncul, tentu akan menjadi pemandangan luar biasa.

Baca Juga:  Kursi Kuliah Kian Sulit, Jalur ‘Titipan’ Mulai Jadi Keresahan Orangtua

Karena itu, kami menjadikan cerita Pulau Miang sebagai headline Weekend edisi kedua.

Bukan karena ada pengibaran bendera di bawah laut. Saya melihat ada potensi wisata yang besar di sana dan belum banyak diketahui orang.

Saya membayangkan, kalau Pulau Miang semakin dikenal, yang bergerak bukan hanya sektor pariwisata.

Perahu nelayan bisa membawa wisatawan. Rumah warga bisa menjadi homestay. Kuliner lokal ikut hidup. Pemandu wisata dibutuhkan. Penyewaan alat snorkeling dan diving berkembang. Produk UMKM bisa dijual. Banyak aktivitas ekonomi lain ikut tumbuh.

Tentu semuanya harus tetap menjaga laut dan terumbu karang. Jangan sampai tempatnya dikenal, wisatawan datang, tetapi alamnya justru rusak. Itu yang harus dijaga sejak awal.

Weekend ingin ikut memperkenalkan tempat-tempat seperti ini.

Bukan hanya Pulau Miang. Saat menyiapkan edisi kedua, kami juga mengumpulkan 10 lokasi jogging di lima kota di Kaltim.

Ada Tepian Mahakam dan Gelora Kadrie Oening di Samarinda. Lapangan Merdeka dan Stadion Batakan di Balikpapan. Stadion Bessai Berinta serta ruang terbuka di Bontang. Taman Kota Raja dan Stadion Rondong Demang di Tenggarong. Kemudian Polder Ilham Maulana dan Bukit Pelangi di Sangatta.

Kelihatannya hanya tempat orang berlari. Tetapi ketika dikumpulkan, ternyata masing-masing punya karakter.

Ada yang menawarkan pemandangan Sungai Mahakam. Ada stadion dengan lintasan khusus. Ada taman kota. Ada pula kawasan perkantoran yang setiap pagi dan sore berubah menjadi tempat warga berolahraga.

Artinya, untuk menikmati akhir pekan tidak selalu harus mengeluarkan banyak uang.

Pakai sepatu, keluar rumah, lalu berlari beberapa kilometer juga bisa.

Edisi kali ini kami juga mengangkat olahraga berdasarkan usia. Mulai usia 15–19 tahun, 20-an, 30-an, 40-an, 50-an, sampai 60 tahun ke atas.

Baca Juga:  Belajar dari IIMS: Auto Borneo di Usia 6 Tahun Media Kaltim

Saya sendiri sekarang semakin merasakan bahwa olahraga bukan lagi urusan penampilan.

Semakin bertambah usia, tujuan olahraga juga berubah. Yang dicari bukan semata badan berotot atau mampu mengangkat beban berat. Tubuh tetap kuat, bisa bergerak dengan baik, dan tetap nyaman menjalani aktivitas sehari-hari jauh lebih penting.

Ada juga kuliner.

Yello Hotel Samarinda menyiapkan menu khusus menyambut kemerdekaan. Ada Chicken Cordon Bleu, Mie Bangir, Mousse Merah Putih, sampai pilihan minuman bertema kemerdekaan.

Kami juga melihat Sun Up Cafe di Jalan Perjuangan, Samarinda. Konsepnya menarik. Beach club, tetapi berada di tengah kota. Ada area outdoor, indoor, working space, photo booth, sampai berbagai sudut yang dibuat untuk nongkrong.

Harga makanan dan minumannya juga relatif terjangkau, mulai Rp18 ribuan.

Kalau ingin menikmati akhir pekan dengan menginap, ada juga HARRIS Hotel Samarinda.

Saya kebetulan sudah beberapa kali menginap di sana. Terakhir bersama istri saat Media Kaltim Network menggelar Appreciation Night, Juli lalu.

Yang saya suka salah satunya kamar yang cukup lega. Dari jendela kamar, Sungai Mahakam terlihat langsung. Malam hari lebih menarik lagi. Lampu Jembatan Mahakam menyala berganti warna dan pantulannya terlihat di permukaan sungai.

Pilihan makanannya juga cukup beragam. Jadi, sebenarnya menginap di hotel tidak selalu harus karena sedang ada urusan pekerjaan atau bepergian ke luar kota.

Sesekali menginap satu malam di kota sendiri juga bisa menjadi pilihan akhir pekan. Istirahat, makan, berenang, lalu menikmati pemandangan Mahakam dari kamar.

Tidak perlu jauh-jauh. Satu malam saja sudah bisa memberi suasana akhir pekan yang berbeda.

Hal-hal seperti ini yang ingin terus kami cari. Tempat baru. Kuliner baru. Destinasi yang belum banyak diketahui. Hotel. Aktivitas akhir pekan. Event. Termasuk tempat-tempat yang mungkin setiap hari kita lewati, tetapi belum pernah kita datangi.

Baca Juga:  Backpacker Murah Bali–Singapura–Malaysia (5): Menyebrang ke Kuala Lumpur Hanya Rp459 Ribu, Ditutup Kejutan Malam di Jalan Alor

Termasuk event yang sedang kami siapkan bersama SUNIC ID Project. Rame-Rame-in Fest akan digelar di Stadion Kudungga, Sangatta, 3 Oktober 2026. SLANK sudah kami umumkan sebagai special performance.

Responsnya ternyata cukup besar. Presale tiket VIP yang baru dibuka langsung habis. Ini menjadi tanda bahwa masyarakat Kutim dan sekitarnya memang punya pasar untuk event musik besar.

Saya sengaja memasukkan Rame-Rame-in Fest ke Weekend karena sejak awal majalah digital ini memang tidak hanya ingin berbicara tentang tempat wisata. Weekend harus dekat dengan apa yang dilakukan orang ketika punya waktu luang.

Mau jalan-jalan, menginap di hotel, mencari tempat makan, nongkrong, jogging, menonton konser, atau sekadar mencari ide mau ke mana Sabtu-Minggu, semuanya bisa menjadi cerita.

Dan setelah dua edisi berjalan, saya justru semakin sadar bahwa bahan ceritanya tidak akan habis. Kaltim terlalu luas untuk hanya dilihat dari berita politik, pemerintahan, tambang, atau pembangunan.

Ada banyak sisi lain. Ada laut di Pulau Miang. Ada orang berlari di Tepian Mahakam. Ada tempat nongkrong baru di Samarinda. Ada Sungai Mahakam yang bisa dinikmati dari jendela kamar hotel. Ada konser besar yang sedang disiapkan di Sangatta. Ada kuliner, komunitas, dan banyak tempat lain yang belum kami datangi.

Tugas Weekend sekarang, mencarinya. Lalu menceritakannya. Supaya ketika akhir pekan datang, pertanyaannya bukan lagi, “Mau ke mana?” Tetapi justru, “Mau yang mana dulu?” (*)

Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.
Founder Weekend

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.