SAYA cukup lama mengenal golf. Ikut berlatih, turun ke lapangan, juga beberapa kali ikut turnamen. Tapi harus saya akui, saya bukan golfer yang rutin berlatih. Lebih sering turun untuk menjaga relasi, bertemu kawan-kawan, atau sekadar meramaikan turnamen.
Meski begitu, dari lapangan saya cukup banyak mengikuti perkembangan golf di Kaltim. Termasuk bagaimana atlet-atletnya berlatih dan bertanding. Saya juga beberapa kali mendengar langsung keluhan soal pembinaan dan perhatian terhadap mereka.
Salah satu orang yang banyak bercerita kepada saya adalah almarhum Coach Bakri Makmur. Saya pernah berlatih golf dengannya. Coach Bakri adalah ayah Rani Bakri, salah satu pegolf putri Kaltim, dan cukup lama menangani pemain-pemain muda.
Sampai menjelang akhir hidupnya, perhatian Coach Bakri terhadap pembinaan junior tidak pernah berkurang. Golfer profesional asal Bontang ini ingin semakin banyak anak muda Kaltim serius bermain golf. Bukan sekadar bisa memukul bola, tetapi dilatih dengan benar, diberi kesempatan bertanding dan suatu saat mampu membawa nama daerah.
Karena membentuk seorang pegolf memang tidak bisa instan. Golf adalah olahraga individu. Ketika berdiri di depan bola, pemain menentukan sendiri pukulan yang akan dilakukan. Salah memilih stik, keliru membaca arah atau kehilangan fokus, pemain sendiri yang menanggung akibatnya.
Tetapi untuk sampai menjadi atlet, seorang pegolf tidak pernah bisa berjalan sendirian.
Saya kembali teringat soal itu ketika melihat perkembangan Fauzan Rizki Ramadhan.
Saya mengenal ayahnya, dr. Fakhruzzabadi atau dr. Badi. Kami cukup sering turun bermain bersama. Badi sendiri golfer yang aktif dan cukup sering juara.
Fauzan mulai berlatih Januari 2022. Pelatih pertamanya justru almarhum Coach Bakri Makmur. Setelah Coach Bakri meninggal dunia, Fauzan melanjutkan latihan bersama Coach Sudirman. Sekarang ia berlatih bersama Muklis.
Empat tahun berjalan. Fauzan kini berusia 14 tahun dan sudah mengikuti berbagai turnamen. Dari kejuaraan di Kaltim, nasional hingga Jakarta International Junior & Amateur Golf Championship 2026. Di sana ia sempat satu pairing dengan pegolf junior dari China dan Singapura.
Masih panjang perjalanan Fauzan. Dia juga bukan satu-satunya.
Di Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Timur, Paser hingga Berau sudah mulai muncul pegolf-pegolf junior. Sebagian sudah berani masuk turnamen. Ada yang juara, ada yang belum. Wajar. Mereka masih belajar.
Yang harus dipikirkan justru apa yang terjadi setelah bibit-bibit ini muncul.
Siapa yang melatih mereka secara rutin? Di mana mereka berlatih? Berapa kali mereka mendapat kesempatan bertanding? Siapa yang mengukur perkembangannya? Dan ketika seorang anak terlihat punya kemampuan, siapa yang menyiapkan jalan agar ia bisa naik ke level berikutnya?
Selama ini peran orang tua masih sangat besar. Orang tua mencarikan coach, mengantar latihan, menyediakan stik, membayar biaya bermain hingga membiayai perjalanan ketika anak harus mengikuti turnamen di luar Kaltim.
Bagi keluarga yang mampu mungkin tidak terlalu menjadi persoalan.
Tetapi tidak semua anak berbakat lahir dari keluarga golfer. Tidak semua orang tua mampu membeli peralatan golf, membayar latihan dan green fee, apalagi berkali-kali membawa anak keluar daerah untuk mengejar jam terbang.
Kalau pembinaan terlalu bergantung kepada kemampuan masing-masing keluarga, bisa saja kita kehilangan anak yang sebenarnya punya bakat.
Di sinilah Persatuan Golf Indonesia (PGI) dan pemerintah harus masuk lebih jauh.
Ketua PGI Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda sudah mengakui Kaltim masih kekurangan pegolf muda. PGI juga mulai menambah kategori junior. Dari tujuh nomor yang sebelumnya dipertandingkan menuju Porprov, kini menjadi sembilan dengan tambahan nomor junior.
Bagus. Tetapi pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah itu.
Junior membutuhkan pembinaan sepanjang tahun. Harus ada coach yang mendampingi. Jadwal latihan yang jelas. Ada kompetisi rutin. Perkembangannya dicatat dan dievaluasi.
Mereka yang sudah siap bisa dikirim mengikuti turnamen nasional. Yang belum, jangan ditinggalkan. Terus dilatih sampai waktunya tiba.
Tidak perlu semuanya langsung diarahkan bicara PON. Mulai saja dari yang bisa dilakukan di Kaltim.
Buat turnamen junior rutin di Samarinda, Balikpapan, Bontang atau daerah lain yang memiliki lapangan. Bisa sebulan sekali atau dua bulan sekali.
Buat series. Susun ranking junior Kaltim. Catat skor dan perkembangannya dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.
Buka juga kesempatan untuk anak-anak baru. Kalau sistem seperti itu berjalan, kita tidak perlu menebak siapa yang berbakat. Angka dan hasil pertandingan yang akan memperlihatkannya.
Kaltim punya modal untuk melakukan itu.
Lapangan golf ada di beberapa daerah. Komunitas golfer juga besar. Hampir setiap turnamen ramai. Sponsor pun relatif banyak ketika sebuah turnamen digelar.
Saya melihat sendiri bagaimana Turnamen PGI Kaltim 2026 di Bukit Tanah Merah, Samarinda, akhir Agustus lalu berlangsung meriah. Banyak golfer datang. Pemerintah, pengusaha, komunitas dan sponsor bertemu di lapangan yang sama.
Kalau energi sebesar itu bisa dikumpulkan untuk sebuah turnamen, mestinya sebagian bisa diarahkan secara khusus untuk junior.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat menutup turnamen itu juga sudah menyampaikan bahwa kegiatan golf jangan berhenti pada turnamen. Ia meminta ada penjaringan bibit-bibit unggul daerah.
Saya sepakat. Sekarang tinggal bagaimana menerjemahkannya menjadi program yang berjalan.
Kita sudah memiliki pegolf yang membuktikan Kaltim mampu bersaing. Pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, golf Kaltim membawa pulang satu perak dan dua perunggu. Ada Rani, Mochtar, Joyo, Ramansyah dan atlet-atlet lainnya yang sampai sekarang masih aktif berlatih dan bertanding.
Tapi mereka tidak selamanya berada di sana. Harus ada yang menyusul.
Mungkin Fauzan. Bisa Farhan, Kaysan, atau junior lain yang sekarang sudah mulai bertanding. Bisa juga seorang anak yang hari ini baru pertama kali datang ke driving range dan belum dikenal siapa-siapa.
Kita memang belum tahu siapa. Karena itu mereka jangan dibiarkan berlatih sendiri-sendiri.
Cari. Kumpulkan. Latih. Beri mereka turnamen. Lalu lihat siapa yang mampu berjalan paling jauh. (*)
Oleh: Agus Susanto





