Jangan Cuma Ganti Wajah Lembuswana, Sejarah dan Identitas Kota Diminta Tetap Hidup

SAMARINDA – Mal Lembuswana bukan sekadar pusat perbelanjaan. Bagi generasi yang tumbuh di Samarinda pada era 1990-an hingga awal 2000-an, tempat ini menyimpan banyak cerita.

Mencari buku di Gramedia. Berbelanja pakaian. Naik eskalator. Nongkrong bersama teman. Bertemu pasangan. Bahkan sekadar berjalan-jalan menikmati mal berpendingin udara yang ketika itu masih menjadi sesuatu yang baru di Samarinda.

Karena itu, rencana revitalisasi Lembuswana setelah hampir tiga dekade dikelola swasta dinilai tidak boleh sekadar melahirkan mal dengan wajah baru.

Identitas dan sejarahnya juga harus dipertahankan.

Budayawan Samarinda Roedy Haryo Widjono mengatakan Lembuswana pernah menjadi salah satu penanda perubahan wajah Kota Tepian.

“Mal Lembuswana itu juga bisa menjadi semiotika simbolik, penanda simbolik loncatan kemajuan, loncatan modernitas,” ujar Roedy kepada Media Kaltim, Rabu (19/8/2026).

Sebelum Lembuswana hadir, masyarakat Samarinda sebenarnya sudah mengenal berbagai pusat perdagangan. Ada Pasar Pagi, Citra Niaga hingga Ana Supermarket.

Namun, Lembuswana membawa pengalaman berbeda.

Mal ini menghadirkan eskalator, ruangan berpendingin udara, pusat fashion, toko buku hingga berbagai gerai yang kemudian menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Samarinda.

Gramedia menjadi salah satu identitas kuatnya. Begitu pula berbagai toko fashion dan teknologi yang membuat Lembuswana menjadi magnet baru, terutama bagi anak muda.

“Dia menjadi ikon loncatan perkembangan peradaban, tanda kutip ya. Kemajuan, lah, modernitas di kota itu,” katanya.

Lokasi Lembuswana juga ikut membentuk ceritanya.

Kawasan tersebut berada pada salah satu simpul pergerakan masyarakat Samarinda. Roedy masih mengingat kondisi jalan ketika belum sebesar sekarang, keberadaan taksi biru hingga jalur yang menghubungkan kawasan M Yamin, Pasar Segiri, Pasar Pagi dan kawasan lainnya.

Baca Juga:  Swarga Bara Tak Mau Bergantung, Kembangkan Pertanian dan Perikanan Lokal

Lembuswana akhirnya tumbuh bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi bagian dari perjalanan kota.

“Dia akan menjadi memori kolektif yang panjang bagi orang Samarinda,” tutur Roedy.

Memori itulah yang menurut Roedy harus diperhitungkan ketika pemerintah menentukan masa depan kawasan Lembuswana.

Secara historis, Lembuswana mulai berkembang pada periode 1996–1998. Kompleks tersebut dibangun di atas lahan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Luas kawasan tercatat sekitar 68.453 meter persegi atau 6,8 hektare. Selain bangunan mal, terdapat kawasan komersial dengan sekitar 150 unit gerai yang tersebar di sembilan bangunan utama.

Selama hampir 30 tahun, kawasan tersebut dikelola PT Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS) melalui skema Build Operate Transfer (BOT).

Kerja sama berakhir pada 26 Juli 2026. Pengelolaan kemudian diserahkan kepada PT Kaltim Melati Bhakti Satya (MBS) pada 7 Agustus 2026 sebagai pengelola masa transisi sembari pemerintah menyiapkan formula pengelolaan jangka panjang.

Nilai asetnya tidak kecil.

Data Pemprov Kaltim mencatat nilai tanah kawasan tersebut sekitar Rp702 miliar. Angka itu belum memasukkan bangunan dan berbagai fasilitas. Setelah seluruh aset dinilai kembali, nilainya diperkirakan berpotensi menembus Rp1 triliun, meski angka final masih menunggu proses penilaian.

Dengan aset sebesar itu, Pemprov Kaltim kini ingin menghidupkan kembali Lembuswana.

Roedy sepakat revitalisasi diperlukan. Namun, ia mengingatkan jangan sampai pembaruan justru membuat Lembuswana kehilangan ciri khasnya.

Baca Juga:  Pemkab Mahulu Tajamkan Indikator RPJMD 2025–2029

“Kalau revitalisasi itu tidak membuat Mal Lembuswana dapat mempertahankan ikoniknya dan berbeda dengan mal yang lain, dia akan tergerus dalam zamannya,” tegasnya.

Persaingan pusat perbelanjaan Samarinda sekarang jauh berbeda dibandingkan 1990-an.

Mal baru bermunculan. Kawasan komersial berkembang. Pilihan hiburan masyarakat semakin banyak. Pola belanja juga berubah.

Karena itu, sekadar merenovasi bangunan dan memasukkan tenant baru dinilai belum cukup.

“Kalau cuma yang sekarang, persaingan sudah terlalu banyak,” ujarnya.

Pemprov melalui MBS sebenarnya mulai menjajaki konsep baru. Selain tenant komersial, kawasan Lembuswana diarahkan menampung aktivitas komunitas, hiburan dan olahraga, termasuk rencana fasilitas seperti lapangan padel.

Roedy menawarkan gagasan lebih luas.

Bagian depan kawasan, misalnya, dapat dikembangkan menjadi business center sehingga Lembuswana memiliki aktivitas yang tidak hanya bergantung pada pengunjung pusat perbelanjaan.

Gagasan lainnya adalah menyediakan ruang khusus kebudayaan dan kesenian.

“Kalau mau kota peradaban tapi enggak punya gedung peradaban,” katanya.

Menurut Roedy, Samarinda membutuhkan tempat yang dapat menjadi rumah bagi pertunjukan seni, kegiatan budaya dan aktivitas komunitas.

Lembuswana dinilai memiliki peluang untuk mengambil peran tersebut.

Kegiatan budaya dapat dibuat rutin sehingga masyarakat memiliki alasan datang ke Lembuswana meskipun tidak sedang berbelanja.

Sejumlah tenant lama sementara ini masih bertahan. Di antaranya Matahari Department Store, Foodmart, Gramedia, Sports Station, KFC, BreadLife, Guardian, Samsung, Bank Kaltimtara, BRI dan Panin Bank.

Baca Juga:  Momen Haru di Komisi III, Amsal Ucap Terima Kasih Sambil Membungkuk

Nama-nama baru juga sedang dijajaki, antara lain CGV Cinema, AZKO/Informa, Mr DIY, Solaria, J.CO, Pizza Hut Group, Kopi Kenangan hingga Fore Coffee.

Namun, bagi Roedy, tenant saja tidak cukup untuk mengembalikan Lembuswana sebagai ikon.

Ia bahkan melihat persoalan lama kawasan tersebut, termasuk banjir, dari sudut yang berbeda.

“Justru banjir itu dijadikan momen,” katanya.

Roedy melontarkan gagasan menjadikan karakter Samarinda yang dekat dengan air sebagai bagian dari konsep kawasan. Transportasi tradisional seperti perahu ketinting hingga kegiatan budaya dapat dikemas ketika kondisi memungkinkan.

Bahkan muncul gagasan festival yang mengangkat hubungan Samarinda dengan air.

“Finding harmony in chaos,” ujarnya.

Gagasan tersebut memang tidak biasa. Namun, pesan yang ingin disampaikan Roedy cukup jelas: Lembuswana harus mencari pembeda.

Setelah sekitar tiga dekade, tantangan Lembuswana bukan sekadar bagaimana kembali ramai.

Dulu, mal tersebut hadir ketika Samarinda sedang bergerak menuju kota modern. Kini situasinya terbalik. Pusat perbelanjaan sudah banyak dan masyarakat memiliki jauh lebih banyak pilihan.

Karena itu, untuk kembali menjadi ikon, Lembuswana harus menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki tempat lain.

Lokasinya strategis. Lahannya luas. Nilai asetnya besar. Sejarahnya juga sudah terbentuk.

Tinggal bagaimana Pemprov Kaltim dan pengelola baru menggabungkan kepentingan bisnis dengan identitas kawasan.

Sebab bagi sebagian warga Samarinda, Lembuswana bukan sekadar bangunan yang harus direnovasi.

Di sana ada cerita tentang kota dan generasi yang tumbuh bersamanya.

Pewarta: K Irul Umam
Editor: Agus S.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.