Hampir Seluruh Kecamatan di Kutim Terdampak Karhutla, Utara-Selatan Paling Dominan

SANGATTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih meluas di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Hampir seluruh kecamatan dilaporkan terdampak, sementara total luasan terbaru belum dapat dipastikan karena laporan dari lapangan masih terus dihimpun.

Kepala BPBD Kutim Sulastin mengatakan angka 68,3 hektare yang sebelumnya tercatat per 22 Agustus 2026 masih bersifat sementara.

“Untuk luasan masih sementara, belum dihitung secara keseluruhan karena kejadiannya setiap kecamatan bervariasi,” ujar Sulastin, Rabu (26/8/2026).

Dalam rekap sementara per 22 Agustus, Sangatta Utara menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 21,8 hektare. Disusul Sangatta Selatan 15,4 hektare dan Busang 8 hektare.

Kebakaran juga tercatat di Kaliorang, Kaubun, Sangkulirang, Rantau Pulung, Karangan, Batu Ampar, Kongbeng, Teluk Pandan hingga Muara Bengkal.

Namun, Sulastin menegaskan angka 68,3 hektare belum mencakup seluruh perkembangan setelah 22 Agustus. Karhutla masih dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah sehingga total luasan berpotensi bertambah.

“Total dari semua kecamatan juga masih bervariasi karena kejadian di setiap kecamatan juga bervariasi,” jelasnya.

Baca Juga:  Jelang Mudik, Satlantas Samarinda Siapkan Rekayasa Lalin

Dari pemantauan BPBD, Sangatta Utara dan Sangatta Selatan masih menjadi kawasan yang paling banyak menghadapi kejadian karhutla.

“Untuk sementara masih didominasi utara dan selatan. Alhamdulillah tim solid sehingga pemadaman berjalan dengan baik,” kata Sulastin.

Petugas gabungan terus dikerahkan setiap kali menerima laporan kebakaran. Penanganan tidak berhenti setelah api terlihat padam. Pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi kembali menyala.

“Setiap pemadaman tim selalu memastikan betul-betul padam dan dilakukan pendinginan untuk meyakinkan lahan tersebut betul-betul sudah padam,” ungkapnya.

Laporan masyarakat menjadi salah satu sumber informasi penting dalam penanganan. Begitu menerima laporan atau menemukan titik api, tim langsung bergerak menuju lokasi.

Namun, kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah titik sulit dijangkau karena akses rusak dan armada pemadam tidak dapat masuk hingga mendekati lokasi.

Sumber air juga mulai menipis akibat kemarau.

“Kendala utama yakni akses yang sulit dijangkau, armada tidak bisa masuk karena jalan yang rusak dan sumber air yang sudah susah ditemui di lapangan sehingga harus bolak-balik dalam pengisian tangki,” jelas Sulastin.

Baca Juga:  Pemkab Mahulu Janji Terus Dampingi Penguatan Masyarakat Adat

Meski demikian, Sulastin memastikan personel dan armada yang tersedia masih mencukupi untuk melakukan penanganan.

Karhutla juga menjangkau sejumlah lahan gambut di Kutim, terutama di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Beberapa titik sempat terbakar, tetapi menurut BPBD luasan terdampaknya tidak terlalu besar dan sudah ditangani.

Sementara terkait kawasan perusahaan atau konsesi, BPBD hingga kini belum menerima laporan karhutla dari perusahaan.

Jumlah hotspot terbaru pada Rabu (26/8/2026) juga masih menunggu laporan tim di lapangan.

Dengan kondisi kemarau dan sumber air yang mulai sulit ditemukan, BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan kemunculan api sekecil apa pun.

Penanganan sejak awal dinilai penting agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan semakin sulit dikendalikan.

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.