SAMARINDA – Sineas lokal Kalimantan Timur didorong tidak berhenti sekadar mampu membuat video. Karya yang dihasilkan harus naik kelas, memiliki pasar, jalur distribusi hingga peluang menembus festival film.
Dorongan itu menjadi fokus Workshop Pengembangan Film Pendek yang digelar Dinas Pariwisata Kaltim di Temindung Hub, Samarinda, 26–27 Agustus 2026.
Sebanyak 30 peserta dari komunitas film, penulis skenario, editor, videografer, content creator hingga pelaku industri kreatif mengikuti pelatihan dengan porsi 70 persen praktik dan 30 persen teori.
Kepala Dispar Kaltim Muhammad Faisal mengatakan perkembangan teknologi digital membuka ruang semakin besar bagi sineas daerah. Namun, peluang tersebut harus diikuti kemampuan menghasilkan karya yang kuat dan orisinal.
“Film pendek bukan sekadar hiburan berdurasi singkat, tapi ini adalah media yang sangat kuat untuk menyampaikan gagasan, mengeksplorasi kreativitas dan mempromosikan kekayaan budaya serta potensi pariwisata daerah kita,” kata Faisal.
Menurutnya, film juga dapat menjadi pintu untuk membawa cerita lokal Kaltim kepada penonton yang lebih luas.
“Lewat lensa kamera semua memiliki kekuatan untuk mengenalkan keindahan, keunikan dan cerita lokal kita ke panggung dunia serta sekaligus menjadi sarana promosi,” ujarnya.
DARI IDE HINGGA FESTIVAL
Workshop tidak hanya membahas teknis produksi. Peserta diarahkan memahami perjalanan sebuah film sejak pengembangan ide hingga karya bertemu penonton.
Materinya mencakup pengembangan ide, penyusunan pitch deck, pembuatan teaser, distribusi hingga strategi menentukan festival yang sesuai dengan karakter film.
Tiga sineas, Achmad Junaidi, Fatqurozi dan Kholip, dihadirkan sebagai narasumber.
Faisal menilai kemampuan teknis saja belum cukup untuk membangun industri perfilman daerah. Sineas juga membutuhkan kemampuan manajerial, komunikasi, pemasaran dan jejaring.
“Potensi itu harus didukung bersama agar dapat berkembang optimal melalui peningkatan SDM ekonomi kreatif yang kompeten, inovatif, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan industri,” katanya.
Dispar Kaltim berharap pelatihan tersebut ikut membangun ekosistem perfilman yang lebih kuat dan mendorong semakin banyak karya lokal masuk ke ruang distribusi maupun festival.
Ketua Panitia sekaligus Kabid SDM Ekraf Dispar Kaltim Dahlia mengatakan metode pelatihan sengaja dibuat lebih banyak praktik.
“Acara dikemas dengan pola teoretis dan praktikal. 30 persen teori dan 70 persen praktik. Ada juga paparan, diskusi, praktik dari para narasumber,” ujarnya.
Workshop sekaligus menjadi ruang pertemuan antarpelaku perfilman. Jejaring itu dinilai penting agar produksi film di Kaltim tidak berhenti sebagai karya individual, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang menghubungkan sineas, komunitas, kreator dan pelaku industri.
Target akhirnya bukan sekadar semakin banyak film dibuat di Kaltim. Karya lokal juga diharapkan mampu menemukan penonton, masuk jalur distribusi dan bersaing di festival film.
Pewarta: Adhi Abdhian
Editor: Agus S.




