NUSANTARA – Lebih tiga bulan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak diguyur hujan. Dampaknya mulai terlihat. Debit air menurun, sejumlah embung dan danau alami menyusut, bahkan ada yang mulai mengering. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat.
Di tengah kondisi itu, Otorita IKN menggelar Salat Istisqa di Jalan Grande, tepat di depan Istana Negara, Jumat (4/9/2026). Seribuan jemaah dari pegawai Otorita IKN, pelajar hingga masyarakat umum mengikuti salat untuk memohon turunnya hujan.
Salat dimulai sekitar pukul 08.00 Wita dan berakhir pukul 09.00 Wita. Imam Masjid Negara Darto Gunadi bertindak sebagai imam, sementara khotbah disampaikan Rusdi Abdullah, dosen Studi Islam Program Doktor UIN Samarinda.
Rusdi mengajak jemaah memperbanyak istigfar dan menjadikan kondisi kemarau sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Perbanyak istigfar. Kita mohon ampun pada Allah SWT. Ini termasuk ujian dari-Nya. Kita semua patut terus meminta, kiranya bumi kembali merasakan turunnya hujan. Jaga sikap kita, berserah diri kita pada-Nya,” ujarnya.
Sejumlah pejabat Otorita IKN hadir, antara lain Deputi Transformasi Hijau dan Digital Agung Indrajit, Staf Khusus Kepala Otorita Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi Danis Hidayat Sumadilaga serta Deputi Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Alimuddin.
Alimuddin mengakui kemarau panjang mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan IKN.
Di satu sisi, cuaca kering membuat pekerjaan konstruksi relatif tidak terganggu hujan. Namun di sisi lain, debit air terus menurun dan tanaman membutuhkan pasokan air lebih besar.
“Kalau pembangunan sih jalan terus. Justru dengan tidak hujan secara fisik mungkin bisa lancar. Tetapi di luar itu kita tahu sekarang debit air kita sudah menurun dan tanaman juga,” kata Alimuddin.
Menurutnya, Salat Istisqa menjadi salah satu ikhtiar di tengah kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang.
“Ini kewajiban kita sebagai umat Islam. Ketika ada musibah seperti ini, menjadi sunah Rasulullah untuk melaksanakan Salat Istisqa yang menjadi salat sunah yang dikuatkan atau muakkad,” ujarnya.
Otorita IKN menyiapkan alas salat dengan kapasitas lebih dari seribu jemaah. Sekitar 200 pelajar ikut hadir bersama pegawai OIKN dan masyarakat.
Namun, menurut Alimuddin, jumlah jemaah bukan hal utama dalam pelaksanaan Salat Istisqa.
“Tapi mungkin bukan jumlahnya, melainkan ketulusan hati dan niat,” katanya.
Salat Istisqa tersebut merupakan pelaksanaan kedua di kawasan IKN dalam menghadapi kemarau panjang. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Desa Tengin Baru oleh Pemerintah Kecamatan Sepaku.
Kini, hujan semakin dibutuhkan bukan hanya untuk memulihkan debit air dan menjaga tanaman, tetapi juga menekan meningkatnya risiko karhutla di kawasan IKN dan sekitarnya. (MK)
Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S.




