BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap kesehatan jiwa, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda yang rentan menghadapi tekanan psikologis, akibat perundungan atau bullying.
Menurut Neni, kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Karena itu, anak-anak dan generasi muda perlu mendapatkan dukungan, pendampingan, serta ruang aman untuk menyampaikan perasaan dan persoalan yang mereka hadapi tanpa takut dihakimi.
“Jangan biarkan anak-anak dan generasi muda kita berjuang sendirian, di tengah maraknya ancaman perundungan. Saatnya kita ciptakan ruang aman untuk mendengar tanpa dihakimi,” ujarnya, Sabtu (10/101/2026).
Selain itu ia juga menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang berkomitmen memperluas layanan kesehatan jiwa yang berorientasi pada pencegahan dan deteksi dini, termasuk hingga tingkat Puskesmas. Langkah ini diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh bantuan profesional, ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.
Selain memperkuat layanan, Neni juga mengajak masyarakat menghapus stigma negatif terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Menurutnya, persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan perlu ditangani dengan kepedulian dan dukungan yang tepat.
“Maka saya sangat mengimbau ke masyarakat, agar tidak ragu mencari bantuan profesional, apabila mengalami masalah kesehatan jiwa atau melihat orang terdekat membutuhkan pendampingan,” jelasnya.
Perhatian khusus juga ditujukan kepada guru dan orang tua. Keduanya memiliki peran penting dalam mengenali perubahan perilaku anak, membangun komunikasi terbuka, serta memberikan dukungan emosional agar anak merasa aman, ketika menceritakan persoalannya.
Neni mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip “Dengar, Pahami, dan Hadir” dalam mendampingi anak. Melalui prinsip tersebut, orang tua dan guru diharapkan bersedia mendengarkan tanpa menghakimi, memahami perasaan anak, serta hadir memberikan dukungan ketika mereka menghadapi kesulitan.
Sebab, upaya dalam mencegah tindakan bunuh diri dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Diperlukan sinergi antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
“Sangat diharapkan anak-anak dan generasi muda Bontang dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, terbebas dari perundungan, serta memiliki keberanian untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah,” ungkapnya.
Kepedulian terhadap kesehatan jiwa, lanjutnya, perlu dimulai dari lingkungan terdekat. Sikap saling mendengarkan dan tidak memberikan stigma menjadi langkah penting, untuk memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian saat menghadapi tekanan hidup.
Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam




