BONTANG – Keterlambatan penyelesaian proyek di Jalan Gotong Royong, Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, menjadi sorotan DPRD Bontang. Kontraktor pelaksana mengungkap sejumlah kendala yang mempengaruhi progres pekerjaan, mulai dari keterlambatan pasokan semen hingga keterbatasan akses jalan bagi masyarakat.
Perwakilan CV Diva Nugrah Utama, selaku kontraktor pelaksana, Aliyas, menjelaskan bahwa proyek yang ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan tersebut mengalami keterlambatan, akibat sejumlah hambatan teknis di lapangan.
Salah satu kendala utama adalah keterlambatan pasokan semen. Saat proses pengecoran berlangsung, terjadi pendangkalan di Sungai Mahakam yang berdampak pada distribusi material. Akibatnya, pasokan semen yang sebelumnya direncanakan melalui PT Varia Beton, harus menunggu hingga material didatangkan dari Balikpapan.
“Kami sudah terlanjur berjanji dengan PT Varia Beton, jadi tidak mau mengambil di tempat lain. Ternyata pasokannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan kami harus menunggu. Semen dari Balikpapan baru datang beberapa minggu kemudian,” ungkapnya, Selasa (13/10/2026).
Selain persoalan material, Aliyas menyebutkan proses pengecoran juga membutuhkan waktu sebelum jalan dapat dilalui kembali. Setelah pengecoran, beton harus menunggu sekitar 28 hari sebelum bisa dilewati kendaraan.
Kondisi tersebut membuat pelaksanaan pekerjaan harus diperhitungkan secara matang, agar percepatan proyek tidak mengabaikan tahapan teknis.
Meski demikian, ia berharap tidak ada lagi kendala yang menghambat penyelesaian pekerjaan. Dengan sisa pekerjaan beberapa ratus meter, pihaknya memperkirakan pengecoran dapat dilakukan dalam tiga tahap, dengan kapasitas sekitar 100 meter per hari apabila seluruh persiapan telah matang.
“Sekarang insyaallah tidak ada lagi kendala. Kami berhitung, sisanya beberapa ratus meter. Pengecoran bisa sekitar 100 meter per hari, yang penting persiapannya sudah matang. Jadi, tinggal tiga kali pengecoran untuk menyelesaikannya,” jelasnya.
Aliyas menambahkan, proses pengecoran tidak dapat dilakukan sekaligus pada seluruh badan jalan. Pekerjaan harus dilakukan secara bertahap, yakni pada satu sisi terlebih dahulu, sehingga pengaturan lalu lintas menjadi tantangan tersendiri.
Pasalnya, Jalan Gotong Royong merupakan akses utama warga dan tidak memiliki jalur alternatif yang memadai. Kondisi ini membuat kontraktor harus mencari cara, agar pekerjaan tetap berjalan, tanpa sepenuhnya memutus mobilitas masyarakat.
“Saya juga berpikir bagaimana bisa bekerja, tetapi masyarakat tetap bisa lewat. Sebenarnya sudah waktunya jalan ini ditutup, mau tidak mau kami harus mempercepat pengerjaan supaya masyarakat tidak kesulitan. Untuk motor masih diupayakan, sedangkan mobil tidak bisa melintas,” jelasnya.
Diketahui, untuk proyek lanjutan Jalan Gotong Royong tersebut memiliki panjang sekitar 300 meter dengan lebar lima meter dan nilai anggaran mencapai Rp2,9 miliar. Namun, progres pekerjaan masih di bawah 50 persen, sementara waktu pelaksanaan tersisa sekitar satu bulan.
Kondisi ini membuat percepatan pekerjaan menjadi perhatian, terutama untuk memastikan proyek dapat diselesaikan sesuai target, tanpa mengabaikan kualitas konstruksi serta akses masyarakat.
Pewarta: Dwi S
Editor: Yusva Alam




