BERAU – Keterbatasan peralatan pengujian manual menjadi tantangan utama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau dalam memantau ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena metode pengujian yang masih manual, perkembangan kualitas udara di daerah tersebut belum dapat terpantau secara otomatis dan berkelanjutan.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, menjelaskan bahwa perubahan cuaca yang dinamis membuat kualitas udara kerap terpengaruh oleh asap kiriman dari luar daerah.
“Karena kondisi cuaca berubah-ubah, relatif kualitas udara terpengaruh karhutla dari luar Berau,” ujarnya.
Zulkifli mengakui bahwa kondisi udara dalam beberapa hari terakhir relatif membaik. Namun, pengujian ulang hanya akan dilakukan apabila terdeteksi kenaikan lonjakan pencemaran yang signifikan.
“Kita akan ukur ulang jika ada indikasi peningkatan pencemaran udara yang cukup signifikan,” ucap Zulkifli.
Guna mengatasi keterbatasan alat dan sumber daya manusia (SDM), DLHK Berau kini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mengintegrasikan sistem pemantauan udara digital yang terkoneksi langsung dengan pemerintah pusat secara real-time.
“Alat dan SDM kita terbatas. Saat ini DLHK Berau sedang berkoordinasi dengan KLH pusat agar alat yang digunakan pemerintah pusat terkoneksi secara real-time untuk menguji kualitas udara di daerah,” jelasnya.
Langkah integrasi ini diharapkan dapat mempercepat respons pemerintah daerah ketika terjadi penurunan kualitas udara. Selain itu, masyarakat dapat mengakses data kualitas udara secara terbuka sebagai dasar mengantisipasi dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan.
Pewarta: Sahruddin
Editor: Yusva Alam




