spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Benar kah Harga Beras Naik karena Cuaca Buruk?

Emirza, M.Pd

(Pemerhati Sosial)

Curah hujan tinggi yang terjadi beberapa bulan terakhir ini tidak terlalu berdampak buruk pada pertanian di Bontang. Lantaran para petani di Bontang sudah memiliki cara dalam mengantisipasi cuaca musiman itu.

Kondisi tersebut sering menyebabkan banjir yang berujung merusak lahan pertanian. Menghadapi bencana banjir yang kerap berulang itu, para petani di Bontang sudah memiliki solusi dalam menghadapinya. Bahu membahu bersama DPK3 Bontang mencari cara menghadapi kondisi ini. (radarbontang.com, 17/2/2023)

Tetapi untuk harga komuditas beras di Bontang terus merangkak naik karena cuaca buruk. Gejolak kenaikan harga beras ini berlangsung sejak Januari. Seorang pedagang beras Pasar Rawa Indah Murni mengatakan, sejak awal Februari harga beras naik Rp 35 ribu per karung. Jadi harga beras premium untuk 25 kilogram dijual seharga Rp 335 ribu per karung. Harga beras masih akan terus melonjak hingga beberapa bulan ke depan. (16/2/2023)

Persoalan Mendasar

Kenaikan harga beras penyebabnya adalah gagal panen karena cuaca buruk. Akibatnya, ketersediaan beras di pasar memang tidak banyak sehingga harganya menjadi tinggi.

Baca Juga:   Kapitalisme Menyusahkan Ekonomi, KDRT Makin Menjadi

Lalu pemerintah mengambil kebijakan mengimpor beras sebanyak 500.000 ton melalui Perum Bulog, yang telah dilakukan dengan tujuan menahan laju kenaikan harga beras.

Dengan adanya impor beras dan terpenuhinya pasokan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), maka harga beras di pasaran dipastikan akan terkendali. Menurut Buwas, kedatangan beras impor menjadikan stok CBP di Bulog kini menjadi 683.000 ton. Tambahan beras impor ini diklaim memperkuat cadangan beras nasional sampai datangnya musim panen raya pada Maret 2023.

Kebijakan tersebut tidak bisa dilepaskan dari penerapan ekonomi kapitalisme. Kebijakan intensifikasi pertanian, misalnya, malah membuat lesu produktivitas pertanian.

Pengurangan subsidi pada pupuk, benih, dan saprodi jelas membuat ongkos produksi jadi makin mahal. Pada saat yang sama, kebijakan impor pangan malah dibuka lebar-lebar.

Jika sudah begitu, gairah petani untuk menanam pun memudar. Terjadilah penurunan produksi yang menyebabkan ketersediaan pangan turut berkurang. Dan ini ancaman bagi kedaulatan pangan.

Kebijakan yang dilandasi sistem ekonomi kapitalisme hanya berfokus pada produksi, sedangkan distribusinya diserahkan pada mekanisme pasar. Uang menjadi pengendali tunggal dalam distribusi.

Baca Juga:   Vaksin Anti HPV Sasar Anak SD, Perlu Bersikap Benar dengan Naluri Seksualnya

Akhirnya, pangan hanya akan mengalir lancar pada orang mampu, tetapi tidak pada kaum miskin. Seluruh kebijakan yang berlandaskan sistem ekonomi kapitalisme ini didukung oleh pemerintah.

Karena paceklik tersebut merambat hingga menjadi gelombang yang menimbulkan kemiskinan sistemis. Padahal, tanah kita tanah surga, tongkat kayu saja bisa jadi tanaman. Tapi ternyata, rakyatnya malah dilanda kemiskinan. Negara agraris, tetapi krisis beras.

Islam Memenuhi Kebutuhan Pokok Rakyat

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam yang berdiri di atas hukum syara, yang seluruh kebijakannya berfokus pada kemaslahatan umat. Setidaknya ada dua kebijakan dalam sistem Islam untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Pertama, kebijakan yang dapat memperkuat kedaulatan pangan, yaitu intensifikasi dengan mempermudah petani dalam hal produksi. Subsidi bukanlah beban, melainkan satu cara untuk meningkatkan produktivitas yang akan menjaga ketersediaan.

Begitu pun ekstensifikasi, pemerintah akan hadir untuk rakyat, bukan untuk korporasi. Pemerintah akan menjaga agar alih fungsi lahan benar-benar dilakukan untuk kepentingan seluruh rakyat.

Kedua, harga bukan satu-satunya hal dalam pendistribusian harta. Negara akan bertanggung jawab terhadap pemenuhan seluruh kebutuhan rakyat, termasuk pangan.

Baca Juga:   Selamatkan Pemuda dari Cengkeraman Narkoba

Contohnya, negara menjamin kepemilikan lahan pertanian yang diperoleh dengan jalan menghidupkan tanah mati dan pemagaran apabila para petani tidak menggarapnya secara langsung. Kebijakan yang demikian ini bisa terwujud jika negara memiliki peran sentral dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Kebijakan yang berfokus pada umat akan kita dapatkan dalam sistem pemerintahan Islam. Karena sejarah membuktikan bahwa hanya peradaban Islam yang dapat menyejahterakan penduduknya dengan sebaik-baik pengurusan, juga terdapat firman Allah Taala bahwa suatu negeri akan sejahtera jika Islam diterapkan secara kafah.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 96).

Wallahualam.

Most Popular