BONTANG – Pukul 09.30 pagi, terik matahari mulai terasa menggigit di kawasan Loktuan. Namun suasana berubah ketika memasuki Wisata Mangrove Telok Bangko. Rimbunan ribuan pohon mangrove menjulang membentuk lorong hijau, membuat suasana teduh dan sejuk seketika. Jembatan ulin sepanjang hampir 200 meter seperti memandu langkah masuk ke ruang yang seolah terpisah dari hiruk-pikuk kota, menghadirkan kedamaian yang tidak dibuat-buat.
Namun keindahan yang kini dirasakan pengunjung bukanlah anugerah yang datang tiba-tiba. Hutan mangrove ini tumbuh dari perjalanan panjang seorang pria bernama Hadi Wiyoto, pensiunan PNS 57 tahun yang mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan pesisir yang hampir hilang.

Dari Ancaman Abrasi hingga Menjadi Benteng Ekosistem
Perjalanan Hadi dimulai pada 2009, saat baru memasuki purna tugas. Saat itu, Telok Bangko berada dalam kondisi kritis. Bibir pantai terus digerus abrasi, dan rumah Hadi ikut terancam. Tidak ada pelindung alam, sementara angin kencang dan gelombang pasang hampir setiap tahun merangsek mendekati tanah miliknya.
Hadi gelisah, lalu mengambil keputusan besar yang mengubah hidupnya. Ia mengeluarkan seluruh tabungan pribadinya hampir Rp1,7 miliar untuk mengambil alih lahan seluas 6 hektare yang menjadi cikal bakal kawasan konservasi ini. Di situlah ia mulai menanam pohon mangrove satu per satu, mencari bibit hingga ke Kutai Timur dan Muara Badak, memunguti buah-buahannya, menyemaikan, dan merawatnya setiap hari.
Butuh waktu bertahun-tahun hingga hutan mangrove pertama tumbuh rapat. Kini, lebih dari satu juta pohon berdiri kokoh di lahan pribadinya dengan delapan jenis mangrove yang tumbuh berdampingan, termasuk Ceriops Tagal yang dikenal langka. Akar-akar mangrove menjadi rumah bagi ikan dan kepiting, daun-daunnya menyuplai oksigen, dan batang-batangnya berdiri sebagai benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi.
Penelitian dua profesor dari Belanda yang bekerja sama dengan UGM menemukan fakta mencengangkan: jutaan biota hidup dan bertelur di bawah kawasan Mangrove Telok Bangko, menjadikannya satu ekosistem penting bagi kawasan pesisir Bontang.

Dilirik PKT, Menjadi Wisata Edukasi dan Sumber Penghidupan
Ketulusan Hadi menjaga lingkungan pelan-pelan menarik perhatian banyak pihak, salah satunya Pupuk Kaltim. Melihat keberhasilan Hadi merehabilitasi pesisir, PKT membuka peluang kerja sama melalui TJSL, terutama untuk program dekarbonasi dan konservasi mangrove perusahaan.
Mulanya PKT ingin membangun rumah pembibitan namun terkendala lahan. Hadi kemudian membuka ruang kolaborasi: perusahaan menyiapkan lahan, sementara ia dan Kelompok Telok Bangko menanam. Kerja sama itu terus berkembang dan melalui MoU, kawasan HGB65 milik PKT ditanami mangrove seluas 14 hektare, melengkapi 4 hektare yang sudah ditanami Hadi. Totalnya kini mencapai 2 juta pohon yang menghidupkan Telok Bangko.
Konservasi ini berkembang menjadi wisata edukasi yang selalu dipenuhi anak-anak sekolah. Mereka belajar eco-print, memahami pohon mangrove, hingga dikenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Suara tawa anak-anak dan langkah kecil mereka di jembatan kayu menjadi pemandangan harian di Telok Bangko.
Asisten Vice President TJSL PKT, Uchin Mahazaki, mengatakan bahwa tempat ini bukan hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga menjadi mitra ideal untuk program konservasi perusahaan di masa mendatang.
Tak hanya itu, Kelompok Telok Bangko kini mampu memproduksi bibit mangrove secara mandiri. Bibit berusia tiga bulan dan tinggi satu meter telah dipesan instansi lain seperti Kodim 0909/Kutim. Setiap bibit dijual Rp10–15 ribu, menjadi tambahan ekonomi bagi kelompok masyarakat.
Kawasan ini juga memproduksi berbagai produk turunan mangrove: sirup, dodol, amplang, pewarna makanan alami, bahkan olahan tepung berbahan dasar mangrove. Di luar pendapatan dari tiket wisata, produk-produk ini membuat penghasilan Telok Bangko mencapai Rp300–400 juta per tahun.
Di bangku panjang di tengah jembatan kayu, Hadi sering duduk memandangi hutan yang ia tanam sendiri. Ia pernah hanya ingin menyelamatkan rumahnya dari abrasi. Kini, wilayah itu berkembang menjadi kawasan konservasi, wisata edukasi, pusat ekonomi warga, dan laboratorium alam bagi para peneliti.
“Menanam mangrove bukan hanya menahan abrasi, tapi kewajiban menjaga alam. Saya tidak akan setop. Ini harus jadi warisan untuk anak cucu,” ucapnya pelan, penuh keyakinan.
Telok Bangko kini bukan hanya hutan mangrove—ia adalah bukti bahwa satu tekad tulus dapat menumbuhkan dua juta pohon dan melindungi masa depan pesisir Bontang. (rafiii/tim redaksi)
Editor: Agus S




