Ketegangan Iran-AS di Selat Hormuz Tekan Nilai Tukar Rupiah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 11.35 WIB, rupiah berada di level Rp17.585 per dolar AS atau melemah sekitar 56 poin dibanding perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global selama periode libur panjang di Indonesia.

“Ya kita lihat bahwa tadi pagi di 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah 17.600,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, kondisi memanas dipicu latihan militer besar-besaran yang dilakukan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi.

Selain itu, ketegangan diperburuk oleh laporan intelijen mengenai dugaan kerja sama Israel dengan sejumlah negara di kawasan, meski kabar kunjungan Perdana Menteri Israel ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah dibantah.

Baca Juga:  Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1443 H Jatuh pada 2 Mei

Insiden tenggelamnya kapal kargo rute Afrika-Uni Emirat Arab di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran juga turut memperbesar tekanan pasar global.

“Ya, kita melihat pada saat libur dua hari ini ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas, terutama adalah di Selat Hormuz antara Amerika dengan Iran,” katanya.

Dari faktor domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah makin terasa karena pasar keuangan Indonesia tengah libur sehingga ruang intervensi Bank Indonesia menjadi terbatas.

Menurut dia, selama pasar domestik tutup, BI hanya dapat melakukan stabilisasi melalui pasar internasional.

Namun langkah tersebut dinilai belum cukup kuat menahan tekanan akibat tingginya transaksi valuta asing global.

“Nah dari segi internal sendiri, pada saat memasuki musim libur dua hari ini, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional. Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan,” ucap Ibrahim.

Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan dari otoritas moneter dan perkembangan situasi geopolitik global dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga:  Sidang Praperadilan Nadiem Makarim Digelar, Hotman Paris Beberkan Kejanggalan

Stabilitas rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif seiring tingginya ketidakpastian eksternal dan sentimen pasar internasional. (MK)

Penulis: Fajri
Editor: Agus S

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.