spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Mengenal Bahasa Isyarat Bersama Komunitas Genap Tuli Bontang

BONTANG – Bukanlah suatu kelemahan bagi mereka yang terlahir dengan memiliki gangguan pendengaran. Sejatinya, mereka sama seperti kita yang normal. Hanya saja dalam hal berkomunikasi, mereka punya caranya sendiri yaitu menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) yang mereka pakai sehari hari.

Penyebutan istilah untuk mereka pun bukanlah ‘Tunarungu’ melainkan ‘Tuli’. Karena arti ‘Tunarungu’ sendiri adalah adanya kerusakan terhadap pendengaran. Mereka memilih ‘Tuli’ sebagai identitas, karena mereka punya cara yang berbeda dalam berkomunikasi.

Lahirnya komunitas Genap Tuli Bontang pada Maret 2018, menjadi wadah untuk para teman tuli untuk belajar juga berkumpul bersama teman tuli lainnya dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di Kota Bontang.

Komunitas yang memiliki slogan ‘Bergerak Dalam Senyap’ ini memiliki tujuan agar keberadaan teman tuli di Bontang lebih banyak diketahui oleh masyarakat. Karena menurut mereka, selama ini masih banyak orang-orang yang memandang mereka sebelah mata.

Tujuan lainnya pun mengenalkan Bisindo kepada masyarakat agar tau bahwa teman tuli memiliki cara yang asik dalam berkomunimasi. “Jadi Genap ini terbentuk karena kami ingin mengenalkan Bisindo kepada masyarakat, agar mereka bisa belajar dan paham ketika berkomunikasi dengan teman tuli,” ucap Ketua Genap Tuli Bontang Shasmitha didampingi oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI) Nurul Baity saat menjadi bintang tamu dalam program Podcast “Meja Tamu” Media Kaltim-Praja Tatap Muka dengan tema “Belajar Bahasa Isyarat Bersama Genap Tuli Bontang”. Program tersebut tayang di kanal Youtube Praja TV Bontang, Rabu (13/10/2021), kerjasama antara mediakaltim.com bersama Radio Praja TV, serta didukung Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bontang.

Baca Juga:   Andi Faizal Ajak Generasi Muda Bontang Ikut Seleksi Piala Soeratin

Dengan membuka kelas Bisindo merupakan salah satu cara mereka mengenalkan Bisindo kepada masyarakat. “Setelah komunitas kami terbentuk, kami mulai buka kelas Bisindo untuk umum, untuk sama sama belajar dan mengenal Bisindo,”kata Shasmitha dan diterjemahkan oleh Nurul Baity.

Sebagai JBI, Nurul merasa senang karena dapat menjadi jembatan teman tuli dalam berkomunikasi dengan teman dengar. Bahkan sampai saat ini, ia terus belajar untuk terus bisa memperbanyak kosakata dalam Bisindo. “Saya pun sebagai JBI masih belajar mba, karena masih banyak kosakata yang harus dipelajari dan dipahami,” kata Nurul.

Pemilihan cara berkomunikasi, lanjut Nurul, teman tuli lebih memilih berkomunikasi menggunakan Bisindo dibandingkan dengan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Karena menurut mereka, Bisindo lebih gampang diterapkan dibanding SIBI. “Teman tuli se-Indonesia itu lebih memilih menggunakan Bisindo, karena itu melekat dengan bahasa mereka sehari-hari. Sedangkan SIBI tiap kata nya memiliki makna yang dalam, jadi kadang membuat teman tuli kebingungan,” ucapnya.

Pada segmen terakhir Podcast MejaTamu, Shasmitha dan Nurul mengajarkan kepada pemirsa beberapa Bisindo yang sering digunakan, mulai dari kata tanya, kata sapaan, warna, keluarga, dan nama nama hari. (ahr)

Baca Juga:   Pelaku Utama Pembunuhan Safrijal Menyerahkan Diri, Badik Disita di Kutim, Status Tersangka Lewat Gelar Perkara

Most Popular