SANGATTA – Turnamen Sepak Bola Bhayangkara Cup U-10 dan U-12 yang digelar Polres Kutai Timur (Kutim) tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan di lapangan hijau. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menyiapkan generasi emas sepak bola Kutim melalui pembinaan usia dini yang didukung gizi, mental, dan kompetisi berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, saat membuka turnamen dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 di Stadion Kudungga, Sangatta.
Di hadapan ratusan peserta, orang tua, dan tamu undangan, ia menegaskan kualitas atlet tidak hanya ditentukan oleh latihan, tetapi juga dipengaruhi kondisi kesehatan dan kecukupan gizi sejak usia anak-anak.

Menurutnya, upaya menekan angka stunting harus menjadi perhatian bersama karena berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik generasi muda, termasuk calon atlet masa depan.
“Gizi ini sangat menentukan. Kita ingin anak-anak kita tumbuh sehat, kuat, dan memiliki postur yang mampu bersaing. Karena itu, pencegahan stunting juga menjadi bagian dari upaya mencetak atlet-atlet berprestasi,” ujarnya.
Mahyunadi mencontohkan perjalanan pesepak bola dunia Lionel Messi yang sempat mengalami gangguan hormon pertumbuhan saat kecil. Namun dengan penanganan yang tepat, dukungan nutrisi, dan pembinaan yang berkelanjutan, Messi mampu berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia.
Ia optimistis Kutim juga memiliki banyak talenta muda yang berpotensi berkembang menjadi atlet hebat apabila mendapatkan pembinaan yang serius sejak dini.
“Kalau bibit-bibit yang sudah terjaring ini kita tingkatkan gizinya, vitaminnya, dan pembinaannya secara maksimal, saya yakin akan lahir pemain-pemain yang mampu bersaing di level nasional,” katanya.
Selain menyoroti pentingnya gizi, Mahyunadi juga meminta para orang tua terus memberikan dukungan kepada anak-anak yang menekuni dunia olahraga. Menurutnya, proses menjadi atlet berprestasi membutuhkan waktu, pengorbanan, dan latihan yang tidak ringan.
Ia mengaku memahami perasaan para orang tua yang khawatir melihat anak-anak mereka bertanding di bawah terik matahari. Namun menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan karakter dan mental juara.
“Pedang yang tajam tidak lahir begitu saja. Besi harus ditempa dan dibakar terlebih dahulu. Begitu juga atlet. Mereka harus ditempa agar memiliki fisik dan mental yang kuat,” tegasnya.
Di sisi lain, Mahyunadi memberikan apresiasi kepada Polres Kutim yang dinilai konsisten mendukung pembinaan olahraga usia dini melalui penyelenggaraan turnamen sepak bola. Bahkan, ia berharap Bhayangkara Cup tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi bisa dilaksanakan dua kali dalam setahun.
Menurutnya, semakin sering kompetisi digelar, semakin besar peluang menemukan pemain-pemain berbakat yang dapat diproyeksikan menjadi atlet andalan daerah.
“Kalau bisa ini menjadi agenda semesteran. Karena pembinaan atlet tidak cukup hanya latihan, mereka juga membutuhkan jam terbang dan pengalaman bertanding,” ucapnya.
Pemerintah Kabupaten Kutim, lanjut dia, siap mendukung kegiatan olahraga yang berorientasi pada pembinaan prestasi. Dukungan itu diwujudkan melalui peningkatan sarana dan prasarana olahraga serta keterbukaan penggunaan fasilitas olahraga daerah untuk berbagai kejuaraan.
“Pemerintah sangat mendukung. Fasilitas olahraga terus kami benahi dan kami terbuka untuk mendukung kegiatan yang bertujuan mencetak atlet-atlet masa depan Kutai Timur,” pungkasnya.
Turnamen Bhayangkara Cup U-10 dan U-12 sendiri diikuti puluhan tim dari berbagai sekolah sepak bola dan klub usia dini di Kutim serta sejumlah tim dari Kalimantan Selatan. Selain memperebutkan gelar juara, ajang tersebut menjadi wadah pencarian bakat sekaligus pembentukan karakter sportivitas bagi para pemain muda. (MK)
Penulis: Ramlah
Editor: Agus S.




