SAMARINDA — Tekanan inflasi di Kalimantan Timur menunjukkan penguatan menjelang akhir tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat laju inflasi secara tahunan (year on year/y-on-y) pada November 2025 mencapai 2,28 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan ini mencerminkan menguatnya aktivitas konsumsi masyarakat, terutama pada kelompok kebutuhan pokok dan jasa, seiring meningkatnya pergerakan ekonomi menjelang tutup tahun.
BPS Kaltim mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan harga mencapai 4,43 persen. Kelompok ini masih menjadi faktor utama pendorong inflasi daerah, sejalan dengan tingginya permintaan rumah tangga terhadap bahan pangan.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi, yakni sebesar 12,45 persen. Komoditas emas perhiasan menjadi kontributor utama dalam kelompok ini, seiring kecenderungan masyarakat menjadikan emas sebagai instrumen penyimpan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa selain kebutuhan pokok, permintaan terhadap barang non-pangan dan jasa penunjang gaya hidup juga masih cukup kuat di Kalimantan Timur.
Dari sisi wilayah, Kabupaten Berau tercatat sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Kaltim, yakni sebesar 2,76 persen secara tahunan. Sementara itu, Kota Samarinda mencatat inflasi terendah sebesar 2,10 persen. Perbedaan laju inflasi antarwilayah ini dipengaruhi oleh struktur ekonomi daerah, pola konsumsi, serta kelancaran distribusi barang dan jasa.
Di tengah tren kenaikan harga, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi. Kelompok transportasi tercatat mengalami penurunan harga sebesar 0,58 persen secara tahunan. Turunnya tarif jasa angkutan, khususnya angkutan udara, turut menahan laju inflasi dan memberikan ruang bagi mobilitas masyarakat serta distribusi logistik.
Secara bulanan, inflasi Kalimantan Timur pada November 2025 tercatat sebesar 0,41 persen (month to month/m-to-m). Sementara inflasi kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) berada di angka 1,96 persen.
Capaian ini menunjukkan bahwa inflasi di Kalimantan Timur masih berada dalam rentang yang relatif terkendali. Meski demikian, BPS mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap tekanan harga, khususnya dari sektor pangan dan konsumsi rumah tangga, menjelang pergantian tahun dan momentum libur panjang.(um)
Editor: Agus S




