Oleh:
Desy Arisanti, S.Si
Kasus narkoba terus terjadi seakan tiada hentinya. Terbaru di Kota Bontang, Polda Kaltim telah menangkap tiga terduga pengedar dan menyita 50 paket sabu siap edar seberat bersih sekitar 12,38 gram di dua lokasi berbeda, Kamis (25/06/2026).
Menyikapi hal tersebut, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan bahwa dampak narkoba itu nyata. Salah satunya adalah penuhnya lapas dengan narapidana narkoba.
Pesan itu disampaikan saat menghadiri Kampanye Beraksi dalam rangka Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026, di simpang lampu merah Ramayana Plaza Taman, Jalan MH Thamrin, MT Haryono, dan R Suprapto, Jumat (26/6/2026) malam.
Neni mengatakan, kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Ia mengajak seluruh orang tua memperkuat Gerakan Peluk Hangat Keluarga, sebagai benteng pertama agar anak-anak tidak terjerumus penyalahgunaan narkoba.(jurnalborneo.com, 27/06/2026)
Narkoba Kian Menggila, Biang Sekuler Kapitalisme
Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat jumlah pecandu narkoba di Indonesia telah mencapai 3,3 juta jiwa.
Kepala BNN Komjen Pol. Marthinus Hukom menilai angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan mencerminkan sebuah fenomena sosial yang membahayakan ketahanan bangsa.
Ia menyebut, jika angka itu dihitung dengan berbagai asumsi ekonomi, maka perputaran uang dari peredaran narkoba di Indonesia ditaksir hampir mencapai Rp500 triliun per tahun. (Tribratanews.polri.go.id, 10/07/2025)
Kasus narkoba cukup menyita perhatian publik. Pasalnya, narkoba banyak menyasar pemuda sebagai generasi harapan bangsa dan dampaknya yang sangat berbahaya.
Hal ini memang sudah disadari semua orang. Hingga pentingnya peran keluarga yang sangat besar sebagai benteng pertahanan utama agar anggota keluarga terhindar dari narkoba.
Sebagaimana yang disampaikan wali kota Bontang bahwa pencegahan dilakukan mulai dari lingkungan keluarga dan menjadikan keluarga sebagai tempat yang aman juga penuh perhatian agar anak-anak tumbuh sehat, berprestasi serta terhindar dari narkoba.
Hanya saja, pencegahan tidak cukup hanya dari lingkungan keluarga. Memang keluarga menjadi benteng pertama dan utama. Namun, tidak kita pungkiri, kasus narkoba kian merebak disebabkan karena pengaruh lingkungan pergaulan di tengah masyarakat. Ketika lingkungan masyarakat itu buruk maka akan mempengaruhi seseorang sehingga terbawa lingkungan buruk tersebut.
Banyak permasalahan yang terjadi karena adanya pengaruh lingkungan masyarakat. Seperti pergaulan bebas, pembegalan, sindikat pencurian, dan sebagainya. Manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu berinteraksi dengan yang lainnya di dalam masyarakat. Sehingga lingkungan akan memberikan pengaruh yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
Dan, tidak cukup pencegahan pun hanya pada tataran lingkungan masyarakat, negara pun harus mengambil peran. Bagaimana lemahnya penegakan hukum yang terjadi saat ini sangat berpengaruh pada semakin meluasnya kasus-kasus kejahatan termasuk narkoba. Hukum bahkan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Banyak pelaku yang masih berkeliaran, tidak direhabilitasi, bahkan pengedaran pun tetap terjadi di lapas.
Ini semua merupakan bagian dari penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sebuah tatanan kehidupan global yang menihilkan peranan agama. Padahal agama bagi seseorang akan menjadi pondasi kuat agar terhindar dari berbagai keburukan dan kejahatan. Begitu pula di tengah masyarakat juga negara.
Dalam sistem kapitalisme, kebebasan individu menjadi alasan seseorang untuk bertindak sesukanya. Tidak boleh ada yang membatasi kebebasan ini bahkan melarangnya. Hal ini berdampak pada hilangnya empati dan kepedulian di tengah masyarakat. Masyarakat menjadi orang-orang yang individualis dan tidak mau turut campur urusan orang lain. Sehingga ketika terjadi keburukan pun akhirnya lebih memilih diam dan tidak menasehati. Maka wajar, dalam sistem ini, muncul berbagai keburukan dan kejahatan bak jamur di musim hujan.
Stop Narkoba dengan Sistem Islam
Islam bukan hanya agama ibadah. Islam sejatinya suatu tatanan kehidupan global yang lengkap dan sempurna. Islam memiliki perangkat hukum yang datangnya dari Rabb Pencipta Alam sebagai pemecah (solusi) permasalahan hidup manusia.
Dalam sistem Islam, individu dibangun ketakwaannya. Melalui pendidikan Islam yang diterapkan lahirlah individu-individu yang beriman dan berakhlak mulia; Individu-individu yang menjadikan halal-haram sebagai tolak ukur perbuatan; individu-individu yang meletakkan ridho Allah diatas segalanya.
Masyarakat Islam sendiri adalah lingkungan yang saling peduli. Budaya amar maruf nahi mungkar menghiasi kehidupan masyarakat. Hal ini menjadi pencegah terhadap merebaknya berbagai kemaksiatan.
Negara dalam Islam memiliki peranan penting dalam menegakkan keadilan. Di tangan negaralah berbagai kebijakan lahir. Dalam sistem Islam, negara menetapkan berbagai kebijakan untuk kemaslahatan umat manusia. Negara adalah pengurus berbagai kepentingan rakyatnya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Dan, negara adalah yang menjalankan hukum sanksi atas berbagai pelanggaran berdasarkan aturan Islam. Sanksi dalam sistem Islam tidak berat sebelah, sangat tegas dan memiliki efek jera bagi siapa pun.
Dengan tiga pilar ini yakni individu yang bertakwa, budaya amar maruf nahi mungkar, dan negara yang menegakkan keadilan serta sanksi Islam, maka akan menjadi pencegah munculnya serta merebaknya berbagai kemaksiatan, seperti kasus narkoba dan yang lainnya.
Beginilah sistem Islam menyolusi permasalahan terkait narkoba. Solusi yang mengakar dan tuntas. Saatnya umat bangkit memperjuangkan tatanan kehidupan Islam yang menyeluruh agar hidup terhindar dari berbagai kemaksiatan dan penuh keberkahan.




