TENGGARONG – Orang tua korban dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berharap penyelenggara program dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu memberikan kompensasi atau bantuan atas kerugian yang mereka alami selama mendampingi anak menjalani perawatan.
Harapan itu disampaikan setelah puluhan penerima manfaat MBG mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan pada Senin (3/8/2026).
Salah seorang orang tua siswa SDN 003 Sebulu, Nur Helva, mengatakan keluarganya memang tidak mengeluarkan biaya pengobatan karena seluruh pelayanan medis ditanggung BPJS. Namun, mereka tetap harus menanggung biaya transportasi serta kehilangan pendapatan akibat harus mendampingi anak selama menjalani perawatan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi beban tersendiri bagi keluarga, terlebih dirinya bekerja sebagai buruh harian lepas yang penghasilannya bergantung pada kehadiran bekerja setiap hari.
“Kami dari pihak keluarga berharap kalau memang memungkinkan ada kompensasi dari penyelenggara. Bukan hanya untuk biaya pengobatan, tapi juga kerugian yang kami alami,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Nur Helva menjelaskan, selama anaknya dirawat di Puskesmas Sebulu I, ia tidak dapat bekerja sehingga kehilangan pendapatan harian.
“Kalau tidak bekerja, ya tidak ada penghasilan. Jadi kalau ada bantuan dari mereka tentu kami sangat bersyukur,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak menginginkan Program MBG dihentikan. Menurutnya, program tersebut tetap bermanfaat bagi masyarakat, namun pelaksanaannya perlu dievaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Ia berharap pengawasan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan diperketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga pemeriksaan kelayakan makanan sebelum didistribusikan kepada para siswa.
Menurutnya, setiap menu yang disajikan harus benar-benar dipastikan aman dikonsumsi karena penerima manfaat berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak TK, siswa SD, hingga balita di Posyandu.
Selain itu, ia juga berharap variasi menu MBG diperbanyak agar anak-anak tidak mudah bosan sekaligus tetap memenuhi kebutuhan gizi.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufida, mengatakan penanganan terhadap seluruh korban langsung dilakukan setelah laporan pertama diterima sekitar pukul 09.14 Wita pada Senin (3/8/2026).
Pasien pertama merupakan seorang anak taman kanak-kanak. Setelah itu, korban terus berdatangan hingga siang dan sore.
Hingga Selasa (4/8/2026), Dinkes mencatat sebanyak 85 orang mengalami gangguan kesehatan. Sebanyak 82 orang menjalani rawat jalan, sedangkan tiga anak harus menjalani rawat inap.
Menurut Ismi, seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan kondisi mereka secara umum tidak tergolong berat.
“Gejalanya khas keracunan makanan, seperti mual, ada beberapa yang muntah, tetapi secara umum kondisinya tidak berat dan masih bisa diajak berkomunikasi,” ujarnya.
Dinkes juga telah mengamankan dua paket makanan utuh untuk dikirim ke Balai POM sebagai sampel pemeriksaan.
Selain mengambil sampel makanan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi dengan memeriksa bahan baku, proses pengolahan, sanitasi dapur, hingga mewawancarai petugas yang menyiapkan makanan.
Meski dugaan di masyarakat mengarah pada salah satu menu MBG, Ismi menegaskan penyebab pasti belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium diterima.
Sementara itu, Kepala SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan operasional dapur MBG untuk sementara dihentikan agar proses penanganan dan pendalaman kasus dapat dilakukan.
“Untuk hari ini kami tidak beroperasi karena masih menyelesaikan penanganan terkait kejadian kemarin,” ujarnya.
Pada hari kejadian, SPPG Sebulu Ulu mendistribusikan 1.834 paket MBG kepada 10 sekolah dan enam posyandu di Kecamatan Sebulu.
Rahmatullah menjelaskan proses produksi makanan telah mengikuti standar operasional yang berlaku. Sebelum didistribusikan, makanan lebih dahulu menjalani pemeriksaan organoleptik di dapur, kemudian kembali dicicipi oleh penanggung jawab di masing-masing sekolah.
Ia menambahkan, bahan baku yang digunakan dipasok setiap hari dari pemasok lokal sehingga tidak disimpan dalam waktu lama. Menu yang disajikan juga diproduksi di dapur SPPG, termasuk lauk pentol yang belakangan menjadi sorotan.
“Kami masih menunggu hasil pendalaman dan pengumpulan data. Setelah itu baru menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan,” tuturnya.
Sementara itu, saat disinggung mengenai tanggungan biaya medis korban ataupun kompensasi, Rahmatullah mengaku belum dapat memberikan keterangan karena hal tersebut berada di luar kewenangannya.
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.




