Orang Tua Curigai Menu Pentol Jadi Pemicu Dugaan Keracunan

TENGGARONG – Sejumlah orang tua korban menduga keracunan massal yang menimpa puluhan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berasal dari menu pentol yang disajikan pada Senin (3/8/2026).

Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar menegaskan penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Salah seorang orang tua korban, Nur Helva, mengatakan anaknya menerima menu berisi nasi, telur, pentol, tahu, dan sayur sekitar pukul 10.00 Wita. Namun, anaknya hanya sempat memakan satu butir pentol karena mengaku rasanya tidak enak.

“Dia baru makan satu butir pentol, katanya rasanya tidak enak, lalu langsung dimuntahkan,” kata Nur Helva, Selasa (4/8/2026).

Tak lama kemudian, anaknya mulai mengeluhkan sakit perut, mual, dan pusing. Meski demikian, ia tetap mengikuti kegiatan belajar hingga pulang sekolah sekitar pukul 12.00 Wita.

Nur Helva mengaku baru mengetahui adanya dugaan keracunan massal setelah membaca informasi yang dibagikan melalui grup sekolah. Ia kemudian membawa anaknya ke Puskesmas Sebulu I sekitar pukul 14.00 Wita.

“Iya, dia baru sempat makan pentol saja, belum sempat makan yang lain,” ujarnya.

Baca Juga:  Rumah Kosong Jadi Fokus Pengamanan Polisi di Kukar

Setelah menjalani observasi sekitar satu jam tanpa menunjukkan perbaikan kondisi, dokter memutuskan anaknya menjalani perawatan.

Meski berharap kejadian serupa tidak terulang, Nur Helva menegaskan dirinya tidak meminta agar program MBG dihentikan. Ia hanya berharap kualitas makanan yang disajikan benar-benar dipastikan aman sebelum dibagikan kepada para siswa.

Nur Helva juga menyebut menu pentol merupakan menu baru yang diterima anaknya. Sebelumnya, menu MBG lebih banyak berisi telur atau ayam dan tidak pernah menimbulkan keluhan serupa.

“Sebelum makanan disajikan ke anak-anak harus benar-benar dipastikan layak atau tidak untuk dikonsumsi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufida, mengatakan laporan pertama diterima petugas sekitar pukul 09.14 Wita dari seorang siswa taman kanak-kanak. Setelah itu, pasien terus berdatangan hingga siang dan sore hari.

Hingga Selasa (4/8/2026), Dinkes mencatat sebanyak 85 penerima manfaat MBG mengalami gangguan kesehatan. Sebanyak 82 orang menjalani rawat jalan, sedangkan tiga anak masih dirawat inap.

Menurut Ismi, gejala yang dialami para pasien identik dengan keracunan makanan, seperti mual, muntah, dan nyeri perut. Namun, sebagian besar korban berada dalam kondisi stabil.

Baca Juga:  Pelajar SMA Diajak Daftar Seleksi Paskibraka PPU 2026

“Gejalanya khas keracunan makanan, seperti mual, ada beberapa yang muntah, tetapi secara umum kondisinya tidak berat dan masih bisa diajak berkomunikasi,” ujarnya.

Dinkes bersama tim telah mengamankan dua paket makanan utuh sebagai sampel untuk diperiksa di Balai POM.

Selain mengambil sampel makanan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi dengan memeriksa bahan baku, proses pengolahan makanan, sanitasi dapur, serta mewawancarai para petugas yang terlibat dalam produksi MBG.

Meski dugaan masyarakat mengarah pada menu pentol, Ismi menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan sumber penyebab sebelum hasil uji laboratorium diterima.

“Saya belum bisa menyimpulkan makanan yang mana sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar,” katanya.

Menurut Ismi, waktu munculnya gejala memang mengarah pada dugaan keracunan makanan karena rata-rata terjadi sekitar satu hingga satu setengah jam setelah makanan dikonsumsi.

Namun, penyebab pastinya tetap harus dibuktikan melalui hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium.

Pasca-insiden tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu menghentikan sementara operasionalnya pada Selasa (4/8/2026).

Kepala SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan penghentian dilakukan untuk memudahkan proses pendalaman serta penanganan kasus.

Baca Juga:  Banjir di Lawe-Lawe Surut, BPBD Evaluasi Sistem Drainase

“Untuk hari ini kami tidak beroperasi karena masih menyelesaikan penanganan terkait kejadian kemarin,” ujarnya.

Pada hari kejadian, SPPG mendistribusikan sebanyak 1.834 paket MBG kepada 10 sekolah dan enam posyandu di Kecamatan Sebulu.

Rahmatullah menjelaskan seluruh proses produksi telah mengikuti standar operasional yang berlaku. Sebelum makanan dikirim, dilakukan pemeriksaan organoleptik di dapur, kemudian kembali dilakukan pencicipan oleh penanggung jawab di masing-masing sekolah.

Ia mengatakan proses memasak dimulai sekitar pukul 01.00 Wita dengan melibatkan sekitar 40 tenaga produksi. Distribusi makanan dilakukan mulai pukul 07.30 Wita.

Menanggapi dugaan yang mengarah pada menu pentol, Rahmatullah memastikan bahan baku yang digunakan selalu dipasok setiap hari dari pemasok lokal sehingga tidak disimpan dalam waktu lama.

“Untuk bahan baku kami restok setiap hari, jadi selalu baru dan tidak disimpan lama,” ujarnya.

Ia juga membantah penggunaan pentol beku dalam menu MBG yang dibagikan kepada para siswa.

“Kami buat sendiri, bukan produk frozen,” tegasnya.

Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.